Home / Headline / Part 2/3 – Trauma Gempa dan Tsunami Palu-Donggala, Menyusun Kerapian Memori untuk Mengampuni
Merenda Istimewanya Jogja
Menara masjid itu pernah ada untuk menemani kami dengan lantunan doa pada sang Pencipta (dok. pribadi)

Part 2/3 – Trauma Gempa dan Tsunami Palu-Donggala, Menyusun Kerapian Memori untuk Mengampuni

Oleh: Alfian Haritama Haden & Rudy Ronald Sianturi

Palu, Sulteng, Aquilajogja.com – Ketika manusia saling membunuh dalam perang dunia, kehancuran dan kematian tak sanggup dipahami nalar. Jutaan tubuh bergelimpangan diterjang peluru, bom dan rudal hasil teknologi yang katanya bentuk kecerdasan tertinggi manusia. Hidup begitu murah, nyaris tanpa harga.

Tanggal 28 September 2018, pukul 17.05, gempa menghantam Palu-Donggala. Alam belum puas sehingga dikirimlah pasukan laut mengendarai tsunami bagai panzer-panzer NAZI Jerman dahulu. Segala hal diraup, air bertingkah bak Rahwana berjuta kepala. Perang tak seimbang, alam pasti menang!

Aku terjebak di tengah pertempuran, melawan sekuat jiwa melawan saat itu. Dan kini aku harus melawan dengan menyusun kembali memori yang diguncang gempa dan ‘dibilas’ tsunami.

(Baca juga: )

Memori itu masih tertinggal di benak, trauma yang menenun benak dengan cakar-cakar menancap. Ini perangku yang harus aku kendalikan dengan nalar.

Aku harus menggunakan pikiran dengan sadar agar memori traumatik tidak menjadi hantu hidupku. Aku harus menelusuri rangkaian peristiwa, menyusun rapi bagian demi bagian. Setelah tersusun, aku hadirkan tiap bagian semampu yang sanggup dihadapi dan lalu mengampuni setiap kehilangan dan luka dukanya.

Maka beginilah kilas balik gempa dan tsunami Palu-Donggala yang kualami secara personal. Bukan karena hidup tak bernilai seperti dalam perang dunia, tetapi karena setiap nyawa adalah kecintaan istimewa.

Seorang bapak menggendong anak kecil yang wajahnya berlumuran darah. Dia menghentikan laju motorku. Aku terbelah antara menolong atau melaju demi adikku yang sendirian di rumah.

Merenda Istimewanya Jogja
Lorong masuk ke rumah (dok. pribadi)

Adikku jelas sangat penting bagi, dia kehidupanku. Tak kuasa kubayangkan yang ia alami: bumi bergoyang, ledakan-ledakan besar dan gelap total. Dia pasti menjerit ketakutan. Akan tetapi darah merah itu genangan yang menuntut tindakan seketika.

“Baik pak, ayo naik,” aku langsung berbalik arah menuju rumah sakit terdekat, yaitu RS. Budi Agung.

Sulit melaju kencang, jalanan sudah dipenuhi banyak orang. Kendaraan lalu lalang tak teratur. Aku terus membunyikan klakson dan teriak meminta dibukakan jalan.

Aku sempat menengok ke belakang, anak tadi tetap tidak sadarkan diri. Darah segar masih mengalir di kepalanya. Ayah terus berdoa menyebut nama Allah, ”Nak jangan dulu pergi ya, sabar Nak…,” begitu suara bapak yang aku bonceng.

Rumah sakit semakin dekat. Dalam perjalanan kulihat Mal Tatura Palu sudah roboh. Tak sadar air mata menetes. Ini bukan gempa biasa. Ini perang dahsyat! Kengerian ini menimpa kami secara kolektif, tak seorang pun sanggup menghindar.

(Baca juga: Gempa dan Tsunami Palu-Donggala, Tinggal Kasih Kuat Hati)

Situasi di RS. Budi Agung sungguh tak terkendali. UGD Kosong bahkan terlihat berantakan. Perawat-perawat berhamburan bersama beberapa pasien ke lapangan parkir. Aku bergegas meminta tolong pada perawat. ”Aduh, lagi kacau ini, Pak, tidak ada alat,” begitu jawabnya.

Bapak yang belum kuketahui namanya ini mengucapkan terima kasih. Dia segera membawa anaknya menuju salah satu tempat tidur yang kosong. Aku berbalik arah, kembali menuju ke rumah. Jalan raya makin ramai. Kepanikan total!

Ketiadaan alat, kurangnya tenaga medis, matinya listrik dan kelangkaan BBM akan menjadi neraka selama berhari-hari bagi mereka yang terluka dan depresi. Bahkan bagi mereka yang gugur melepas nyawa, ribuan tubuh tak bisa lekas dievakuasi hingga membengkak, lalu membusuk. Sebagian lagi merintih sendirian dalam kegelapan, lalu wafat.

Bayangan adikku terjebak sendiri dalam rumah, terbaring di antara puing-puing, sangat menakutkan. Aku melaju secepat bisa. Tepat di depan rumah, pagar di lorong menuju rumah roboh. Hati berdetak kencang tak karuan. (Baca juga Part 1)

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Alfian Haritama Haden, S.Sos.

Alfian Haritama Haden, S.Sos.
Guru SMA Katolik St. Andreas Palu - Sosiologi Universitas Tadulako Palu **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapi klinis, SDM dan coaching. Sila WA 082135424879.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean