Home / Headline / Catatan Penutup – 14 ‘Penyakit Kronis’ yang Menantang Umat Islam
Merenda Istimewanya Jogja
Untuk apa menjadi 'pembeo atau membebek' amoralitas dunia? (Ilustrasi/Nugroho Persada)

Catatan Penutup – 14 ‘Penyakit Kronis’ yang Menantang Umat Islam

Oleh: Mohammad Monib

Bogor, Aquilajogja.com – Tulisan berikut saya mulai dengan ungkapan miris Muhammad Abduh yang kesohor, pasca kunjungannya ke Eropa. “Saya melihat Islam di Eropa sekalipun tidak saya temukan orang Islam. Sementara, saya banyak melihat orang Islam di sini (Mesir) tapi saya sedikit melihat Islam”.

Dibutuhkan pikiran terbuka untuk memahami konteks situasi saat ungkapan di atas disampaikan. Satu sisi, ada perkembangan fenomena dan fakta baru kondisi umat, dakwah dan kemajuan umat, yaitu buah dari reformasi yang beliau lakukan. Di sisi lain, ungkapan ini tetap relevan untuk memotret kualitas keislaman umat. Dan bisa dikatakan, kondisinya tetap memprihatinkan dan menyedihkan.

Sebuah kritik konstruktif -sepahit apapun- sebagai nasehat dan dialektika seruan wa tawashaw bil haq wa tawashaw bi al-shabri penting kita tradisikan. Saat yang sama, ayo bersama-sama kita lawan krutuk, caci-maki, hoax dan tebar kebencian yang dibiasakan sekalipun perilaku buruk itu dianggap ekspresi iman dan diklaim sebagai pembelaan agama oleh saudara seiman dan seagama.

Kita semua tak rela membiarkan wajah Islam identik dengan perilaku buruk dan ambisi politik umat yang acapkali gelap mata. Abai esensi dan seruan Islam. Apapun situasinya, Islam wajib dihadirkan indah, sejuk, harmonis dan menebar kebaikan, penuh maslahat kemanusiaan.

Jujur, pasca Pilgub DKI berlalu, sebagai muslim dan intelektual, saya miris menyaksikan peta sosiologi-politik umat belakangan ini. Ibarat sebuah perahu, kita sudah retak, bocor parah di sana sini, dan terancam tenggelam.

Bila koyakan parah ini tak bisa ditambal, sepotong surga bernama Indonesia ini bakal porak-poranda. Nestapa Suriah, Pakistan, Afghanistan, Irak dan Libya terpampang nyata.

Karena kuatir nestapa di atas datang, ijinkan saya menulis reminder (pengingat) ini.

Sadar saya, ini amatan sosio-politik-psikologi umat Islam yang dangkal dan di permukaan. Tetapi fenomena ini terasa kuat dan berbahaya bagi masa depan negeri tercinta. Amatan saya, 14 penyakit ini kronis dan menahun. Entah, saya sendiri bingung bagaimana berkontribusi untuk menyembuhkannya.

Perlu ditekankan bahwa istilah penyakit kronis bukan hendak menghina atau mempatologisasikan umat Islam. Sebaliknya, ia dipakai secara metaforis untuk meningkatkan urgensi dan sense of crisis sehingga mendorong tindakan-tindakan nyata.

Keduabelas, kita gagal memahami Islam sebagai agama amal dan penyeru etos kerja keras. Begitu banyak ayat dan Hadis menganjurkan optimisme, kerja keras dan antisipasi masa depan. Kita gagal menangkap elan vital itu!

Bangsa Jepang yang beragama Shinto dan bersemangat Tokugawa menangkap seruan penting itu. Itu kunci kemajuan kehidupan dan  peradaban. Jepanglah pemilik tradisi Karoshi, mati karena bekerja keras!

Ketigabelas, kita gagal menjadikan malu sebagai rukun iman terpenting. Padahal: al-haya minal iman.

Kalau jujur, akar krisis moral bangsa ini ada pada kosongnya budaya malu. Kejahatan, pelanggaran disiplin atau hukum, kemungkaran dan kebobrokan moral justru menjadi kebanggaan. Lihat perilaku koruptor saat ditangkap KPK! Bandingkan dengan budaya politisi dan birokrasi negara Jepang.

Keempatbelas, kita gagal menjaga tradisi luhur dan sukses menjadi ‘pembeo atau membebek’, amoralitas dunia. Di kalangan warga NU atau Muhammadiyah ada jargon: al-muhafadhah ala alqadim al-shalih wa al’ahdu ala al-jadid al-ashlah. Kita membutuhkan implementasi dan aktualisasinya.

Barangkali salah satu kehebatan kita adalah menghafal jargon-jargon, tetapi gagal memahami dan mengaktualisasikannya. Sebagai contoh, di mimbar dan majelis-majelis keagamaan mudah kita berjargon: khairu ummatin, al islamu mulaim likulli zaman wa makan, tetapi kedodoran dan nyata tertinggal dalam banyak bidang.

Duh….!

Wahai umat Islam, kita sudah tertinggal 100 langkah dari non muslim lho! Sampai kapan kita sadar? Sampai kapan kita sekadar jadi pasar produk kreativitas dan inovasi nalar mereka? Ibarat bahasa zakat, kapan kita berganti dari posisi mustahik jadi muzakki? Sampai kapan kita sekadar jadi limbah amoralitas-ideologi-budaya buruk dunia?Sadar dan bangkit dong! (Baca Part 1, Part 2, Part 3Part 4)

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Mohammad Monib, M.A.

Mohammad Monib, M.A.
Pesantren Fatihatul Qur’an Kemang, Bogor - Nurcholis Madjid dan Indonesian Conference on Religion and Peace - Pesantren Gontor dan ICAS-Paramadina University **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapi klinis, SDM dan coaching. Sila WA 082135424879.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean