Home / Headline / Part 4/4 – 14 ‘Penyakit Kronis’ yang Menantang Umat Islam
Merenda Istimewanya Jogja
Singkirkan teologi tasyabbuh, keharaman keserupaan dengan umat. Penguasaan teknologi seperti kapal hanya hanya mungkin lewat kerjasama lintas SARA (Ilustrasi/Wynona Welikin)

Part 4/4 – 14 ‘Penyakit Kronis’ yang Menantang Umat Islam

Oleh: Mohammad Monib

Bogor, Aquilajogja.com – Tulisan berikut saya mulai dengan ungkapan miris Muhammad Abduh yang kesohor, pasca kunjungannya ke Eropa. “Saya melihat Islam di Eropa sekalipun tidak saya temukan orang Islam. Sementara, saya banyak melihat orang Islam di sini (Mesir) tapi saya sedikit melihat Islam”.

Dibutuhkan pikiran terbuka untuk memahami konteks situasi saat ungkapan di atas disampaikan. Satu sisi, ada perkembangan fenomena dan fakta baru kondisi umat, dakwah dan kemajuan umat, yaitu buah dari reformasi yang beliau lakukan. Di sisi lain, ungkapan ini tetap relevan untuk memotret kualitas keislaman umat. Dan bisa dikatakan, kondisinya tetap memprihatinkan dan menyedihkan.

Sebuah kritik konstruktif -sepahit apapun- sebagai nasehat dan dialektika seruan wa tawashaw bil haq wa tawashaw bi al-shabri penting kita tradisikan. Saat yang sama, ayo bersama-sama kita lawan krutuk, caci-maki, hoax dan tebar kebencian yang dibiasakan sekalipun perilaku buruk itu dianggap ekspresi iman dan diklaim sebagai pembelaan agama oleh saudara seiman dan seagama.

Kita semua tak rela membiarkan wajah Islam identik dengan perilaku buruk dan ambisi politik umat yang acapkali gelap mata. Abai esensi dan seruan Islam. Apapun situasinya, Islam wajib dihadirkan indah, sejuk, harmonis dan menebar kebaikan, penuh maslahat kemanusiaan.

Jujur, pasca Pilgub DKI berlalu, sebagai muslim dan intelektual, saya miris menyaksikan peta sosiologi-politik umat belakangan ini. Ibarat sebuah perahu, kita sudah retak, bocor parah di sana sini, dan terancam tenggelam.

Bila koyakan parah ini tak bisa ditambal, sepotong surga bernama Indonesia ini bakal porak-poranda. Nestapa Suriah, Pakistan, Afghanistan, Irak dan Libya terpampang nyata.

Karena kuatir nestapa di atas datang, ijinkan saya menulis reminder (pengingat) ini.

Sadar saya, ini amatan sosio-politik-psikologi umat Islam yang dangkal dan di permukaan. Tetapi fenomena ini terasa kuat dan berbahaya bagi masa depan negeri tercinta. Amatan saya, 14 penyakit ini kronis dan menahun. Entah, saya sendiri bingung bagaimana berkontribusi untuk menyembuhkannya.

Perlu ditekankan bahwa istilah penyakit kronis bukan hendak menghina atau mempatologisasikan umat Islam. Sebaliknya, ia dipakai secara metaforis untuk meningkatkan urgensi dan sense of crisis sehingga mendorong tindakan-tindakan nyata.

Kesembilan, umat kental berpikir dikotomistik-sekuleristik, susah melakukan sintesa-integralistik. Kental dalam kognisi dan wawasan kita yang menyangka ilmu keislaman itu sekadar, fiqh, tasawuf, tafsir, hadis dan ushuluddin. Diluar itu, ilmu duniawi.

Tidak heran, kita susah mengejar ilmu pengetahuan dan teknologi. Memang ada kesadaran baru, misalnya, konsep sekolah Islam Terpadu (SIT). Sudah lumayan sebagai tangga menuju sintesis dan integrasi paradigma.

Kesepuluh, singkirkan teologi tasyabbuh, keharaman keserupaan dengan umat lain. Ekspresi identitas negatif dan tanpa nalar ini tak boleh jadi kacamata kuda umat. Bisa-bisa umat abadi dalam keterbelakangan dan ketertinggalannya. Lagipula, tolong cek isi rumah dan perangkat sehari-hari kita yang bukan produk tasyabbuh!

Saat dunia menyempit dan fakta globalisasi tak bisa ditolak, yang umat butuhkan adalah teologi inklusif-sinergi, kerjasama antaragama dan dialog antarperadabaan. Kita butuh sinergi dan simbiosis mutualisme agar transfer ilmu pengetahuan terjadi.

Kesebelas, kita gagal menjadikan sejarah sebagai pelajaran (ibrah). Sekalipun bukan kitab sejarah, al-Qur’an banyak berkisah tentang sejarah manusia, tokoh dan kaum-kaum berlalu.

Kita hafal nasehat Hadis untuk tidak terperosok dua kali dalam lubang yang satu. Anehnya, berkali-kali kita terperosok dalam lubang yang sama. Gagal dan sukses itu kerja copy paste. Bila ingin sukses, baca dan ikut jejak dan capaian tokoh dan pribadi sukses. Bila tak mau gagal, menjauhlah dari kegagalan para pecundang dan pemalas.

Michel H. Hart, penulis berdarah Yahudi, menempatkan Nabi Muhammad pada top rank 100 tokoh sukses dan paling berpengaruh dalam sejarah kehidupan dan peradaban. Mengapa berperilaku tidak seperti beliau?

Dalam politik dan ormas, banyak yang vokal dan rajin mengibarkan dan meneriakkan kharisma Islam. Hanya saja, garis politik dan gerakannya mengancam masa depan Indonesia dan keragaman. Ada yang bahkan menawarkan ilusi dan utopia.

Riset How Islamic are Islamic Country dari Prof. Rechman dan Prof. Asykari cukup sebagai jawaban atas tipu-tipu dimaksud. Halnya partai Islam, kita menyaksikan bahwa mereka, dari segi kualitas dan integritas, tak ada bedanya dari partai dan ormas sekuler. Acapkali partai dan politisi muslim lebih tamak, pragmatis dan kotor dari yang digambarkan Machiavelli. (Baca Part 1, Part 2, Part 3, Catatan Penutup)

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Mohammad Monib, M.A.

Mohammad Monib, M.A.
Pesantren Fatihatul Qur’an Kemang, Bogor - Nurcholis Madjid dan Indonesian Conference on Religion and Peace - Pesantren Gontor dan ICAS-Paramadina University **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapi klinis, SDM dan coaching. Sila WA 082135424879.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean