Home / Headline / Part 3/4 – 14 ‘Penyakit Kronis’ yang Menantang Umat Islam
Merenda Istimewanya Jogja
Iman seharusnya bagai bunga mekar di tengah-tengah padi yang memberi kehidupan (Ilustrasi/Nugroho Persada)

Part 3/4 – 14 ‘Penyakit Kronis’ yang Menantang Umat Islam

Oleh: Mohammad Monib

Bogor, Aquilajogja.com – Tulisan berikut saya mulai dengan ungkapan miris Muhammad Abduh yang kesohor, pasca kunjungannya ke Eropa. “Saya melihat Islam di Eropa sekalipun tidak saya temukan orang Islam. Sementara, saya banyak melihat orang Islam di sini (Mesir) tapi saya sedikit melihat Islam”.

Dibutuhkan pikiran terbuka untuk memahami konteks situasi saat ungkapan di atas disampaikan. Satu sisi, ada perkembangan fenomena dan fakta baru kondisi umat, dakwah dan kemajuan umat, yaitu buah dari reformasi yang beliau lakukan. Di sisi lain, ungkapan ini tetap relevan untuk memotret kualitas keislaman umat. Dan bisa dikatakan, kondisinya tetap memprihatinkan dan menyedihkan.

Sebuah kritik konstruktif -sepahit apapun- sebagai nasehat dan dialektika seruan wa tawashaw bil haq wa tawashaw bi al-shabri penting kita tradisikan. Saat yang sama, ayo bersama-sama kita lawan krutuk, caci-maki, hoax dan tebar kebencian yang dibiasakan sekalipun perilaku buruk itu dianggap ekspresi iman dan diklaim sebagai pembelaan agama oleh saudara seiman dan seagama.

Kita semua tak rela membiarkan wajah Islam identik dengan perilaku buruk dan ambisi politik umat yang acapkali gelap mata. Abai esensi dan seruan Islam. Apapun situasinya, Islam wajib dihadirkan indah, sejuk, harmonis dan menebar kebaikan, penuh maslahat kemanusiaan.

Jujur, pasca Pilgub DKI berlalu, sebagai muslim dan intelektual, saya miris menyaksikan peta sosiologi-politik umat belakangan ini. Ibarat sebuah perahu, kita sudah retak, bocor parah di sana sini, dan terancam tenggelam.

Bila koyakan parah ini tak bisa ditambal, sepotong surga bernama Indonesia ini bakal porak-poranda. Nestapa Suriah, Pakistan, Afghanistan, Irak dan Libya terpampang nyata.

Karena kuatir nestapa di atas datang, ijinkan saya menulis reminder (pengingat) ini.

Sadar saya, ini amatan sosio-politik-psikologi umat Islam yang dangkal dan di permukaan. Tetapi fenomena ini terasa kuat dan berbahaya bagi masa depan negeri tercinta. Amatan saya, 14 penyakit ini kronis dan menahun. Entah, saya sendiri bingung bagaimana berkontribusi untuk menyembuhkannya.

Perlu ditekankan bahwa istilah penyakit kronis bukan hendak menghina atau mempatologisasikan umat Islam. Sebaliknya, ia dipakai secara metaforis untuk meningkatkan urgensi dan sense of crisis sehingga mendorong tindakan-tindakan nyata.

Keenam,  secara tauhid, kita tampaknya salah sangka tentang Allah. Dia tidak fakir miskin ibadah dan puja-puji makhluk-Nya. Ia Maha Kaya dan Kuasa.

Ibadah yang kita lakukan bukan kebutuhan Tuhan. Dia tak akan lebih mulia karena dipuji dan tak akan tercela karena kita bermaksiat.  Innallaha ghaniyun wa antum al-fuqara. Kita yang butuh ritual dan ibadah untuk penyucian jiwa dan orientasi hidup lurus.

Ketujuh, saya tertusuk hati dengan ungkapan “bicara agama, akal dilupakan. Bicara uang, agama ditinggalkan”.

Kita mudah meninggalkan dan melupakan Tuhan saat berhadapan dengan urusan harta, politik, kuasa, dan wanita. Majelis dzikir tumbuh dimana-mana seperti cendawan di musim hujan. Apa berbekas dalam perilaku bisnis, birokrasi dan politik?

Perusakan hutan, penindasan merajalela dan kriminalitas tiap jam terjadi. Wakil rakyat dan birokrasi berlomba-lomba korupsi dan patgulipat dana proyek jadi tradisi. Tuhan nyata di atas sajadah dan rumah ibadah. Tuhan sirna saat tiba di kantor, pasar, di depan timbangan dan pengadilan. (Saya kira fenomena semodel subur juga di agama-agama lain.)

Kedelapan, kita canggih melantunkan ayat atau teks-teks agama, namun gagal implementasi dan pemaknaan. Kita sangat  hebat menghafal puluhan atau ratusan ayat dan Hadis? Mengapa Tuhan cenderung dihadirkan semata sebagai teks dan hilang dalam konteks? Apakah ini buah metode pengajaran keagamaan di sekolah dan lembaga kita?

Dalam politik dan ormas, banyak yang vokal dan rajin mengibarkan dan meneriakkan kharisma Islam. Hanya saja, garis politik dan gerakannya mengancam masa depan Indonesia dan keragaman. Ada yang bahkan menawarkan ilusi dan utopia.

Riset How Islamic are Islamic Country dari Prof. Rechman dan Prof. Asykari cukup sebagai jawaban atas tipu-tipu dimaksud. Halnya partai Islam, kita menyaksikan bahwa mereka, dari segi kualitas dan integritas, tak ada bedanya dari partai dan ormas sekuler. Acapkali partai dan politisi muslim lebih tamak, pragmatis dan kotor dari yang digambarkan Machiavelli. (Baca Part 1, Part 2, Part 4 dan Catatan Penutup)

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Mohammad Monib, M.A.

Mohammad Monib, M.A.
Pesantren Fatihatul Qur’an Kemang, Bogor - Nurcholis Madjid dan Indonesian Conference on Religion and Peace - Pesantren Gontor dan ICAS-Paramadina University **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapi klinis, SDM dan coaching. Sila WA 082135424879.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean