Home / Catatan Jurnalis / Maka Bersabdalah Manusia, Tuhan Ada di Mana?
Merenda Istimewanya Jogja
Thus Spoke Zarathustra (Ilustrasi/pfeedbooks.com)

Maka Bersabdalah Manusia, Tuhan Ada di Mana?

Rudy Ronald Sianturi | Catatan Jurnalis

Jogjakarta, Aquilajogja.com – Belakangan kita bisa melongok sisi paling kelam dari agama.

Sejarah peradaban telah berulang kali mencatat bagaimana agama (apa saja) potensial dipreteli, dimanipulasi dan diperkosa substansinya demi kepentingan politik atau pembenaran kekejian. Agama dibuat bersisi tunggal dan hanya fasih satu bahasa: kekerasan dan penghisapan (atas nama Tuhan).

Tuhan ada di mana? Dia terjepit di kertak gigi dan teriakan amarah dan pembalikan fakta-fakta.

Kita hidup di jaman ketika teknologi, yang diproyeksikan untuk membebaskan manusia dari kungkungan fisik dan alam, justru menelikung impian kebebasan untuk menjerumuskan sebanyak mungkin orang ke cengkraman syahwat kekuasaan dan orgi agresi bernuansa religius.

Teknologi kini tuan manipulator yang dipuja dalam rupa screenshot, judul berita media yang kelupaan jurnalisme, diseminasi hasutan oleh buzzer kebencian, hoax, konferensi pers berbahasa keras yang luas diliput jurnalis-jurnalis, atau TV show yang desainnya konfliktual.

Tuhan ada di mana? Beliau diinjak-injak dalam retorika kebencian dan penciptaan pelbagai realitas palsu.

Ini pembunuhan kolektif secara masif, pembunuhan bertahap atas Tuhan lewat kuasa kata.

Filsuf Jerman Nietzsche (1844-1900) sudah memperingatkan hal ini dalam buku “Maka Bersabdalah Zarathustra” (Thus Spoke Zarathustra).

Awalnya dekadensi atau melorotnya nilai-nilai kemanusian secara masif, sistematis dan terstruktur di berbagai sektor kehidupan. Budaya, agama, filsafat, politik, seni, etika dan teknologi gagal menjadi agen pencerahan bagi kehidupan beradab. Sebaliknya justru dipakai, dipelajari dan diperalat untuk membenarkan berbagai kejahatan dan tindakan kotor. Apa saja diperlakukan secara instrumental, yaitu sekadar alat mencapai tujuan-tujuan egosentris.

Nilai-nilai yang membuat manusia itu manusia, seperti kasih, kebenaran, keadilan dan keindahan, mengalami disfungsi dan kerancuan total. Masyarakat tidak lagi memiliki rujukan stabil, tiada kepastian mana benar dan mana salah. Segala hal dilempar ke wilayah abu-abu, berubah tiap saat tergantung niat pemain atau pengguna.

Manusia mulai melupakan siapa dirinya di tengah kebesaran ilahi yang mewahyukan diriNya dalam kompleksitas alam dan kehidupan. Manusia bertingkah melebihi batas-batas kefanaan, seolah dia makhluk abadi yang menciptakan eksistensi sendiri.

Dalam bahasa Nietzsche, manusia telah mengangkat diri sebagai tuhan-tuhan kecil yang agresif mengatur segala sesuatu melulu berdasarkan fulus, profit dan balas jasa.

Tuhan ada di mana? Manusia amat bergairah mencari Tuhan, namun sejauh memuaskan pragmatisme ekonomi dan politik. Perlahan namun pasti Dia sedang disayat, dikuliti, dikorbankan. Dibunuh manusia-manusia tengik yang bertingkah ilahi.

Akhir-akhir ini di Indonesia, agama mungkin adalah variabel peradaban yang paling dieksploitasi dengan cara-cara brutal. Seolah kita dipaksa balik ke titik nadir, ke posisi belum mengenal wahyu tentang keistimewaan manusia sebagai gambar Allah. Kita balik kampung ke zaman kebodohan: jahiliah.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Rudy Ronald Sianturi M.Hum.

Rudy Ronald Sianturi M.Hum.
Owner & PEMRED Aquilajogja.com - Univ. Sanata Dharma, Yogyakarta - Asia Research Institute, National University of Singapore - Doctoral Courses De La Salle Univ., Filipina - Memberi pelatihan/konsultasi berbasis SDM, coaching, terapi klinis dan menulis (WA: 082135424879)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean