Home / Headline / Gempa dan Tsunami Palu-Donggala, Tinggal Kasih Kuat Hati
Merenda Istimewanya Jogja
UKM adalah orang-orang pertama yang membangkitkan roda perekonomian (dok. pribadi)

Gempa dan Tsunami Palu-Donggala, Tinggal Kasih Kuat Hati

Oleh: Dwi Pratiwi Lestari

Kabonga Besar, Donggala, Aquilajogja.com – Jumat 28 September 2019, aku bermotor dari Palu menuju Kabonga Besar. Hari masih pagi, sengat udara panas seakan mempertanyakan. Tidak biasanya aku melakukan tilik kampung mingguan di luar kebiasaan sore hari jelang maghrib.

Ada dorongan yang mengajak untuk lebih awal. Aku bertanya mengapa, dan menjadi jelas kemudian.

(Baca juga:  Aku Diselamatkan Dua Kali saat Gempa dan Tsunami Palu-Donggala Mengamuk)

Minam, sepupuku, sorenya datang ke rumah. Segera saja kuajak nongkrong di Anjungan Donggala yang kutahu pasti langsung diiyakan seperti biasanya. Tak terduga, dia justru berat hati dan bahkan menolak. Aku lalu diajaknya main ke Pantai Bularu. Tetapi rasanya amat berat melangkah ke pantai yang lokasinya dekat rumah itu. Aku menolaknya.

Bularu dan Anjungan Donggala merupakan dua tempat favorit menikmati waktu, tetapi kami enggan mendatangi.

Merenda Istimewanya Jogja
Runtuh di mana-mana, gereja dan sekitarnya tetap kokoh di Palu (dok. pribadi)

Karena tak tau pergi ke mana, kami berkumpul sekeluarga di teras rumah. Nyanyi dan obrolan silih berganti. Ayah menelpon  keluarga paman di Kelurahan Buluri (tidak sama dengan Bularu) supaya dibawakan ikan bakar. Kebetulan ayah Minam sedang singgah di sana untuk makan ikan. Suasana sangat ceria meski siangnya terasa gempa keras.

Di Kabonga kami kian asyik bernyanyi dan bercerita, di Buluri ayah Minam pamit pulang sambil membawa oleh-oleh buat ayah yang sudah tak sabar menunggu.

Paman Buluri berdiri di tepi pantai yang berada dekat rumahnya, sebuah simpul penghubung yang bakal terputus.

Gempa magnitudo 7.4 menghantam tanpa diduga. Tsunami menggulung tanpa peringatan. Tak seorangpun siap, tak seorangpun. Kemalangan tiba di tengah keceriaan teras rumah.

Dunia gelap seketika, PLN otomatis mematikan lampu. Komunikasi lumpuh total, hanya gemuruh air, teriakan histeris dan geram kehancuran memasuki gendang telinga. Panik melanda, sebelumnya hanya bisa kutonton di film, bisa ternyata nyata terjadi.

Kami berlarian mengungsi ke bukit. Kesiur angin dingin menambah ketakutan dan frustasi.

Merenda Istimewanya Jogja
Runtuh di mana-mana, masjid dan sekitarnya tetap kokoh di Palu (dok. pribadi)

Malam itu kami akhirnya tahu bahwa tsunami menyapu rumah paman di Buluri. Beliau yang sedang berdiri di tepian pantai diangkat dalam gulungan ombak mengganas. Sampai sekarang belum ada kabarnya.

Istri paman selamat karena sebelum gempa, beliau diminta paman mengisi bensin motor. Dia selalu histeris, tetapi sekarang sudah mengikhlaskan. Hanya satu pinta, kalau boleh melihat suami tercinta meski terakhir kali.

Di saat tubuh paman Buluri dipermainkan air bah, ayah Minam dan Gilang adiknya Minam, berada di atas motor menuju Kabonga. Pantai di sebelah jalan yang biasa bagai lukisan membentang luas berubah bagai naga-naga beringas. Menakutkan sekali!

Kecepatan air luar biasa, lidah-lidah naga menjulur dengan buas. Tak ada waktu lagi, motor dilepas untuk memanjat gunung sekuat tenaga.

Tante yang lain, biasa dipanggil mama Wawa, sedang dalam perjalanan menuju Palu bersama anaknya Faiz. Waktu gempa mengguncang diikuti terjangan tsunami, mereka melintas di Loli yang rata disapu amuk alam.

Merenda Istimewanya Jogja
Penjual sayuran di Palu, orang-orang pertama yang menggerakkan ekonomi (dok. pribadi)

Naluri keibuan sigap bekerja. Dihentikannya motor, dipeluknya Faiz, mereka berjongkok. Di sekeliling motor-motor bergelimpangan, ia melarikan motor sekuat mendaki bukit. Sempat tanpa kabar berita, kami sangat cemas sebelum akhirnya lega dengar mereka sedang mengungsi.

Tsunami sungguh menyayat hati. Dalam hela nafas berat tertindih nestapa, orang-orang Kabonga berbisik: tinggal kasih kuat hati. Dan kami sudah lakukan hingga hari ke-11 ini: pengungsi menguatkan pengungsi. Kami harus bangkit, wajib bangkit.

(Baca juga: Jokowi Jenguk Korban Gempa Palu yang Sedang Dirawat)

Kebangkitan harus dimulai diri sendiri. Bantuan memang berlimpah, tetapi belum jua terdistribusi merata. Masa pasif menunggu? Kami harus mendayagunakan yang tersisa, hal-hal baik, untuk menenun hidup baru.

Aku percaya hidup itu sangat istimewa sehingga harus dipelihara sebaik mungkin. Aku percaya, meski dalam derita, mensyukuri hal-hal baik bakal berkah bagi pemulihan.

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Dwi Pratiwi Lestari, M.Pd.I.

Dwi Pratiwi Lestari, M.Pd.I.
Dosen Uni. Alkhairaat Palu & IAIN Palu- Pengasuh di Ponpes Putri Alkhairaat Pusat Palu - UIN Suka, Yogyakarta **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapi klinis, SDM dan coaching. Sila WA 082135424879.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean