Home / Headline / Ritual Jamasan di Gunungkidul, Memundurkan Waktu Menenun Istimewanya Jogjakarta Kini
Merenda Istimewanya Jogja
Empu Sungkowo Harumbrojo, keturunan ke-17 dari Empu Supadriyo di masa Kerajaan Majapahit abad ke-14, sedang menempa keris di bengkelnya, Dusun Gatak, Moyudan, Sleman. Beliau adalah 'sambungan' bagi ritual jamasan ke masa lalu (KOMPAS.com/Muhammad Guci)

Ritual Jamasan di Gunungkidul, Memundurkan Waktu Menenun Istimewanya Jogjakarta Kini

Oleh: Avalo Potalaka

Gunungkidul, Jogjakarta, Aquilajogja.com – Panah waktu bergerak ke depan, namun secara teratur harus ‘dimundurkan’ untuk menenun makna sekarang. Sejarah adalah cara istimewa dalam memundurkan waktu supaya ruang sekarang bisa dimengerti dengan lebih baik.

Presiden Soekarno terkenal dengan nasehat agungnya bahwa bangsa benar ingat sejarah. Tak ada satupun yang kini, hidup atau mati, tanpa ikatan di masa sebelumnya. Ikatan itu seringkali jauh ke belakang, sangat kompleks dan menuntut refleksi mendalam untuk memahaminya.

Ritual jamasan atau memandikan (merawat) benda-benda pusaka warisan leluhur adalah bentuk kearifan lokal yang sangat penting bagi terpeliharanya memori masa lalu dan berbagai kaitannya dengan apa dan siapa Jogjakarta istimewa kini. Ini juga sebuah refleksi seberapa jauh kita telah membangun kota dan warga seturut wangsit nenek moyang.

Atau bahkan bisa sebagai rambu untuk memeriksa seberapa ‘melenceng’ kita bila dibandingkan dengan cita-cita leluhur.

Dalam konteks inilah kita patut mengapresiasi acara jamasan benda- benda pusaka yang dilakukan Pemkab Gunungkidul di Bangsal Sewokoprojo pada Senin (8/10/2018).

Mengutip Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul, Agus Kamtono, “Jamasan berarti memandikan pusaka, yaitu salah satu cara merawat pusaka. Jika pusaka hanya didiamkan saja akan berkarat dan rusak. Jamasan menjaga pusaka agar tidak rusak sekaligus menjaga nilai-nilai sejarah.”

Kebiasaan memandikan berbagai warisan sejarah yang memiliki kaitan erat dengan masyarakat Jogjakarta ini diadakan setiap tahun di bulan Sura penanggalan kalender Jawa sebagaimana yang diatur oleh Keraton Yogyakarta.

Keraton mendahului sebelum diikuti setiap kabupaten.

Seberapa besar pengaruh jamasan bagi pelestarian dan pewarisan nilai-nilai adiluhung bisa ditakar dalam rencana Dinas Kebudayaan Gunungkidul yang akan mendata berbagai pusaka di tiap-tiap kecamatan. Selain untuk tertib administrasi, inventarisasi hendak memastikan bahwa yang tersimpan tersebut asli dan nilai historisnya tinggi. Ada fakta bahwa banyak artefak budaya yang ‘ngacir’ ke luar negeri.

Secara praktis, ritual kamasan dimaksudkan sebagai edukasi agar masyarakat belajar cara merawat pusaka yang baik dan benar. Itulah mengapa proses pemandian pusaka dilakoni oleh para abdi dalem Keraton Jogjakarta.

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Avalo Potalaka

Avalo Potalaka
EDITOR Aquilajogja.com - "Kodok melihat dari bawah, manusia memandang dari daratan, mata Aquila (Rajawali) mengamati dari angkasa. Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapis klinis, SDM dan coaching. Sila WA 082135424879.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean