Home / Headline / Aku Diselamatkan Dua Kali saat Gempa dan Tsunami Palu-Donggala Mengamuk
Merenda Istimewanya Jogja
Pelabuhan Donggala malam hari, 9 hari pascagempa (dok. pribadi)

Aku Diselamatkan Dua Kali saat Gempa dan Tsunami Palu-Donggala Mengamuk

Oleh Dwi Pratiwi Lestari

Kabonga Besar, Donggala, Aquilajogja.com – Aku percaya hidup itu sangat berharga sehingga harus dipelihara sebaik mungkin. Aku juga percaya bahwa meski dalam derita, mensyukuri hal-hal baik yang terjadi bakal berkah bagi pemulihan.

Tak pernah terbayangkan bahwa apa yang kupercaya akan mengalami ujian luar biasa yang telah menguras energi di tengah-tengah upaya memelihara harapan. Ini terkait dengan rutinitas pulang ke rumah orangtua di Kabonga Besar, Banawa, Donggala.

Aku dosen di kampus Unisa dan pengasuh di Ponpes Putri Alkhairaat Pusat Palu, dan akhir minggu balik kampung menengok keluarga.

Biasanya berangkat dari Palu setelah salat asar, yaitu antara jam 4 atau jam 5. Namun Jumat tanggal 28 September 2018, entah mengapa aku terdorong pulang lebih awal. Hari itu aku ingin bergerak pagi hari, dan itu sekitar jam 11.00 WIT.

Merenda Istimewanya Jogja
Ads by Rose Olshop, hubungi WA 0813-5502-9027

Keluarga menyambut kedatangan dengan gembira. Aku langsung bersih-bersih rumah seperti kebiasaanku.

Siangnya terjadi gempa beberapa kali yang kuat terasa. Kami tidak mencurigai apapun, hanya memantau informasi dari BMKG. Segala sesuatunya tampak wajar meski kami waspada.

Minam, sepupu yang tinggal hanya sebelah rumah, sorenya datang berkunjung dan kuajak ke Anjungan Donggala. Tempatnya enak seraya menikmati suasana pantai dan berbagi cerita setelah seminggu tak sua. Entah mengapa dia justru berat sekali mengiyakan, padahal biasanya langsung setuju. Dia usulkan ke Pantai Bularu dekat rumah. Giliran aku yang sangat keberatan.

Akhirnya tidak ke mana-mana, kami sekeluarga hanya duduk di teras rumah. Waktu bergulir cepat diisi obrolan dan nyanyi-nyanyi. Ayah sempat menelpon keluarga paman yang tinggal di Buluri (tidak sama dengan Bularu). Karena ayah Minam sedang singgah di sana makan ikan, ayah minta dibawakan ikan.

Seluruh dunia apa yang terjadi kemudian. Gempa berkekuatan magnitude 7,4 menghantam Palu, Donggala dan Sigi. Bumi berguncang ujung ke ujung. Badanku terangkat seperti ditumbuk gada maha besar yang mengayun dari  bawah.

Merenda Istimewanya Jogja
Tenda pengungsi tempat kami berlindung selama ini (dok. pribadi)

Terkejut tak terkira dan berlarian keluar teras. Kepala pusing sekali, segala sesuatu bergoyang keras. Rumah oleng, barang-barang berhamburan, pohon-pohon goyang mengerikan. Aku sempat terjatuh, kaki lecet-lecet dalam panik menyelamatkan diri.

Sebagian rumah di sekitar roboh berantakan. Suasana mencekam penuh ketakutan. Anak-anak menangis kencang, orang-orang menatap tak percaya pada kehancuran yang seketika.

Ternyata kekalutan belum usai. Tak lama kemudian, air bah menderu masuk ke berbagai titik di Kabonga. Banyak daerah dikubur tsunami yang seperti lidah-lidah raksasa menjilat dengan kasarnya. Lingkungan kami cukup beruntung karena dilindungi hutan mangrove yang menahan laju air laut. Akan tetapi banyak daerah lain sudah jatuh tertimpa tangga. Dirontokkan gempa, diseret tsunami.

Warga berlarian ke daerah perbukitan, orang-orang berhamburan ke mana-mana. Mata nanar melihat pemandangan sekeliling yang bagai mimpi buruk, yang ketika dibangunkan, benar-benar terjadi!

Merenda Istimewanya Jogja
Ads by Rose Olshop, hubungi WA 0813-5502-9027

Dari Palu ke Kabonga Besar, Donggala, harus melewati beberapa kampung. Sebagian kampung luluh-lantak dihajar tsunami. Buluri dan Loli Saluran yang letaknya di bibir pantai, dengan rumah-rumah berbaris di bibir pantai, lumat disapu murka alam.

Aku lewati desa-desa itu saban minggu. Belakangan ketahuan banyak orang yang turut tersapu bandang raksasa saat sedang melintas. Tak terbayangkan apa jadinya bila aku mengikuti kebiasaan pulang sore. Itu tepat di jam kematian oleh amuk laut!

Tak terbayangkan pula bila kami jadi ke Anjungan Donggala atau Pantai Bularu. Sudah pasti kami berdua diterjang tsunami tanpa ampun!

Tulisan ini tidak mengatakan bahwa aku lebih baik dari para korban, atau hidup yang kumiliki ini lebih berharga daripada hidup para korban.

Aku hanya merenung di bawah tenda pengungsian betapa telah diselamatkan secara misterius. Aku barangkali sudah mati dua kali di Jumat naas itu, namun dua kali pula diselamatkan.

Pengalaman di ujung maut menimbulkan hikmat. Jiwa raga ini sudah ‘diijon’ lunas oleh surga. Syukur hanya bisa diekspresikan dengan lebih lagi mendedikasikan hidupku bagi kemuliaan namaNya.

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Dwi Pratiwi Lestari, M.Pd.I.

Dwi Pratiwi Lestari, M.Pd.I.
Dosen Uni. Alkhairaat Palu & IAIN Palu- Pengasuh di Ponpes Putri Alkhairaat Pusat Palu - UIN Suka, Yogyakarta **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapi klinis, SDM dan coaching. Sila WA 082135424879.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean