Home / Catatan Jurnalis / Penjarahan Pascagempa Palu, Memobilisasi Insting Bertahan Hidup secara Bermakna
Merenda Istimewanya Jogja
Gambaru itu pantang mundur. Penulis belajar dari bocah yang penulis temui sekitar dua minggu usai gempa tsunami (magnitudo 9) Fukushima, Jepang, 11 Maret 2011 (dok. pribadi)

Penjarahan Pascagempa Palu, Memobilisasi Insting Bertahan Hidup secara Bermakna

Rudy Ronald Sianturi | Catatan Jurnalis

Jogjakarta, Aquilajogja.com – Muncul video-video amatir di media sosial berisi gelombang penjarahan pascagempa Palu-Donggala. Toko-toko dibobol dan barang-barangnya diambil.

Satu yang paling ironis adalah ketika mobil yang membawa bantuan dan peralatan Telkom pun dihadang di tengah jalan. Padahal sebagian barang-barang itu untuk memperbaiki jaringan komunikasi yang sangat vital bagi distribusi bantuan dan pemulihan kehidupan para korban.

Sedih melihat hal-hal yang turut diliput koran-koran asing ini. Di sisi lain, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang pasti adalah rasa frustasi yang meningkat setelah memasuki hari ke-4. Listrik belum jua menyala di sebagian besar wilayah terdampak. Komunikasi di berbagai titik praktis lumpuh. BBM langka serta distribusi bantuan yang belum merata.

Di daerah Kabonga Besar, setidaknya hingga kemarin (30/09/2018), banyak pengungsi harus tidur beratap langit. Kedinginan dalam gelap, ketakutan diguncang gempa-gempa susulan. Makanan, minuman dan obat-obatan sangat menipis. Tak ada kepastian tentang bala bantuan karena parahnya kerusakan jalur transportasi.

Dalam kondisi ini, insting bertahan hidup muncul, dan pada titik ekstrimnya, manusia bisa terdorong mencuri, menjarah, atau melakukan kekerasan.

Namun sekali lagi, aku tidak tahu yang sesungguhnya. Dan tanpa mengatakan menoleransi tindakan kriminal, aku menolak memberi penilaian moral – tanpa mengatakan bahwa yang menilai secara moral pasti salah.

Merenda Istimewanya Jogja
Fokus bangun harapan dengan distribusi bantuan cepat, masif dan sistematis (Istimewa)

Yang pasti adalah bahwa sejarah ras yang disebut manusia ini penuh hal-hal mengerikan terkait insting bertahan.

Dalam ribuan perang di daratan Eropa sebelum perang dunia yang membunuh dalam skala global itu, orang-orang desa sekitar medan perang biasanya akan berkumpul untuk mengumpulkan berbagai benda, untuk dijual atau dipergunakan, dari prajurit-prajurit yang gugur berserakan. Apa saja, termasuk gigi palsu, cincin, pedang, tombak, atau helm. Kalau susah ditarik cincinnya, misalnya, potong jarinya.

Kemiskinan jelas adalah motif utama, sebagian lagi karena memang berbisnis kematian.

Cina memiliki kisah horor serupa, Jepang juga demikian. (Belum tahu apakah perang-perang di Nusantara yang tak kalah banyak dan brutal itu mengenal istilah penjarah-penjarah mayat?)

Eropa juga sempat muncul profesi menyeramkan namanya body snatcher (pencuri mayat). Ada orang di tengah malam buta menggali tubuh dari makam untuk dijual ke fakultas-fakultas kedokteran yang di suatu masa membutuhkan 500 mayat tiap tahunnya guna keperluan pendidikan.

Hollywood tak ketinggalan dengan serial Tomb Raider. Entah penggemar Angelina Jolie menyadarinya atau tidak, Tom Raider bukan tentang wanita pemberani yang memasuki makam atau situs misterius, atau tentang jagoan cantik berdada montok yang gesit bergelantungan seperti Tarzan, namun tentang penjarah makam!

Siapapun pelakon Lara Croft pada dasarnya pencuri artefak atau barang-barang berharga, meski dibungkus motif ilmiah, yang turut dikubur bersama jenazah. Artinya, penistaan (sacrilege) atas kesucian tubuh manusia.

Merenda Istimewanya Jogja
Evakuasi korban di Petobo yang ‘ditelan’ lumpur usai gempa-tsunami (Istimewa)

Ada profesi lain, berkaitan dengan penyelaman bawah laut, yaitu menjarah harta karun kapal-kapal kuno yang tenggelam lama di berbagai perairan dunia. Sebagian memang dilakukan berijin, sebagian lagi pada dasarnya pencurian artefak. Anda bisa cari di internet berbagai berita terkait pencurian artefak berharga di dunia, termasuk dari perairan Indonesia!

Ini belum menghitung pencurian-pencurian ikan yang telah menimpa Indonesia selama puluhan tahun dan melibatkan berbagai pihak luar negeri dan dalam negeri.

Mencuri itu barangkali profesi yang sangat banyak ragamnya, hanya dinamai berbeda. Ada yang sebutannya maling, perompak, bandit, penodong. Ada yang sebutannya koruptor, bahkan gerombolan koruptor. Belakangan terbongkar gelombang penipuan terhadap puluhan ribu jemaah yang hendak umrah. Rekor spektakuler, kata polisi, dipegang Abu Tours senilai Rp. 1,6 triliun!

Tinjauan singkat di atas memberitahu betapa rumit memberi label pada  kasus-kasus pascagempa tsunami Palu-Donggala dan serupa. Aku pun sulit memberi penilaian, dan menolak memberi tafsiran moralistik. Kita sebenarnya tidak tahu persisnya, minim sumber-sumber yang bisa diverifikasi.

Memang reportase para jurnalis berbagai media kredibel bisa dipercaya sejauh sebagai berita. Akan tetapi asumsi penilaian moral-etis adalah mengetahui dengan pasti baik motif dan cakupan tindakan.

Sebagai ilustrasi, anggap saja benar terjadi gelombang penjarahan. Masalahnya, berapa banyak menjarah karena motif ekonomi (kesempatan dalam kesempitan), berapa kasus seperti pembobolan mesin ATM itu murni oleh korban gempa atau sebenarnya (seperti ditengarai polisi) diprovokasi, dan berapa banyak ‘terpaksa’ ikut menjarah semata agar keluarganya bisa bertahan hidup, mengingat sulitnya mendapatkan bahan makanan, minuman dan obat-obatan serta BBM?

Bagi sebagian orang, pilihannya sangat sulit sewaktu orang-orang mulai menjarah. Bagaimana nasib orang-orang yang kukasihi bila aku tak bertindak?

Maka rasanya sangat tidak adil membuat generalisasi yang sekarang menjadi ‘gelombang moralisme’, khususnya di media sosial, tentang buruknya moral masyarakat Palu-Donggala. Bahkan ada yang menyebut gempa secara intrinsik adalah ‘hukuman’ ilahi yang tidak diindahkan, makanya warga Palu tetap menjarah.

Ini cara berpikir yang rancu dan penuh prasangka.

Merenda Istimewanya Jogja
Petobo yang ‘ditelan’ lumpur usai gempa-tsunami (Istimewa)

Aku yakin ada jauh lebih banyak korban gempa yang tidak terlibat. Mereka mengantre untuk mengambil bantuan. Dan ribuan lainnya berjuang sendirian dalam gelap, dingin dan trauma. Mereka hanya ingin bertahan hidup.

Sangat disarankan agar polisi dan tentara berkoordinasi dengan masyarakat lokal untuk mengamankan lingkungan, situs serta aset strategis seperti BBM, air dan pertokoan. Libatkan masyarakat, termasuk untuk distribusi kebutuhan-kebutuhan pokok mendesak yang telah memicu gelombang ketidakberaturan sosial ini.

Tentu kita mendukung sikap tegas aparat terhadap pelbagai tindakan yang mengganggu ketertiban dan keadilan bersama: segera, persuasif dan ‘keras’ bila diperlukan.

Bagian yang terpenting adalah mendistribusikan bantuan secara masif, cepat dan sistematik ke berbagai titik, membangun jaringan komunikasi, perbekalan, distribusi, dengan strategi leapfrog (lompat katak) yang melibatkan unsur-unsur lokal.

Keterlibatan berbagai unsur lokal, baik manusia maupun non-manusia sangat penting dan strategis. Dalam keadaan panik dan terpukul, kita harus mengaktivasi setiap sumber daya lokal. Bisa dibentuk unit-unit tugas yang dikoordinasi oleh guru, perawat, staf kecamatan atau ustad di antara para pengungsi.

Sekecil apapun suatu tindakan, bahkan bila itu hanya soal jadwal menyapu halaman pengungsian, harus punya misi membangkitkan resiliensi, semangat dan harapan. Hindarkan melulu belas kasihan, tetapi tindakan harus mengekspresikan solidaritas, empati dan dorongan agar pengungsi melakukan hal-hal yang bisa dilakukan sendiri.

Bukan hanya soal perut, juga soal-soal mental seperti kelas-kelas belajar darurat di pengungsian bagi anak-anak. Pengungsi melihat anak-anak semangat diajar kakak-kakak pengungsi, adakah pemandangan yang lebih menimbulkan semangat dari ini?

Orang-orang sudah kelelahan hidup dalam kegelapan, kurang minum dan makan, badan kotor dan kedinginan dalam tidur yang diwarnai trauma. Empat hari sudah terlalu lama bagi sebagian orang, apalagi kala harapan pupus.

Frustasi itu kondisi psikologis yang tampak dalam perilaku apatis atau gestur lunglai. Membuat tubuh dan pikiran pengungsi bergerak demi tujuan bersama, memberi peran dan ruang keterlibatan secara maksimal, itu akan memobilisasi insting bertahan hidup secara positif-bermakna: ‘saya berguna, saya berperan, saya berkewajiban, saya harus bisa’.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Rudy Ronald Sianturi M.Hum.

Rudy Ronald Sianturi M.Hum.
Owner & PEMRED Aquilajogja.com - Univ. Sanata Dharma, Yogyakarta - Asia Research Institute, National University of Singapore - Doctoral Courses De La Salle Univ., Filipina - Memberi pelatihan/konsultasi berbasis SDM, coaching, terapi klinis dan menulis (WA: 082135424879)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean