Home / Headline / Part 2/3 – Boru Batak Menari di atas Motor KLX demi Festival Ndambu Kimaam, Papua
Merenda Istimewanya Jogja
Ada empat penyeberangan yang harus dilalui sebelum mencapai Pulau Kimaam (dok. pribadi)

Part 2/3 – Boru Batak Menari di atas Motor KLX demi Festival Ndambu Kimaam, Papua

Oleh: Julia Marbun & Rudy Ronald Sianturi

Kimaam, Merauke, Papua, Aquilajogja.com – Seperti yang kukatakan Part-1, aku bisa manortor tetapi bukan goyang pinggul tanpa henti di atas motor KLX yang terseok-seok menembus tebalnya pasir. Anganku kembali buyar, roda depan motor menikung sendiri saking tebalnya pasir.

Aku turun. Temanku kembali meng-engkol motor untuk sekian kalinya.

Aku harus menyelesaikan etape ini. Perjalanan adalah fitrah manusia, tak boleh kalah dengan alam yang memikat meski garang. Festival Ndambu menanti dengan setia. Terbayang goyang pinggul penari-penari Papua yang begitu dinamis. Apalagi itu, wangi hasil panen terbaik di Pulau Kimaam!

(Baca juga: Dancing on the River, My Adventure at Selat Mariana Kimaam Merauke, Papua)

Untuk mencapai Kimaam, kami harus melewati empat penyeberangan. Yang pertama lewat Kali Kumbe dari Distrik Semangga menuju Distrik Malind, Kali Bian menuju ke Distrik Okaba, dan Kali Buraka ke Distrik Tubang.

Penyeberangan terakhir itu istimewa, yaitu lewat Selat Mariana menuju Distrik Kimaam.

Merenda Istimewanya Jogja
Ads by Rose Olshop, hubungi WA 0813-5502-9027

Selat Mariana sangat ‘licin’ bagi siapa saja yang berani menunggang arus berombak di atasnya. Gelombangnya menggunung. bisa membuat kapal-kapal terbalik.

Laut-laut di Papua memang kadang tak bersahabat. Beberapa bulan lalu jatuh korban seorang staf Dinas Kesehatan yang sedang ‘turun kota’ ke Merauke guna mengikuti pelatihan. Malang tak tertolak, keganasan alam membalik speedboat yang ia tumpangi.

Aku ingat beliau ini, gugur di medan tugas. Nyawa indah miliknya dipersembahkan bagi orang-orang Papua. Maka kami harus memperhitungkan kapan air pasang dan air surut, kapan ombak bergemuruh atau teduh seperti embun menetes. Syukur pada Tuhan bahwa tidak turun hujan yang pasti membuat alam kerasukan.

(Baca juga: Istimewa! Empat Remaja Keren Asal Papua Menjadi Anggota Paskibraka 2018)

Apa mau dikata, rencana manusia harus realistis. Karena motor sering mogok, apalagi kala menari-nari dibetot tebalnya pasir, akhirnya perhitungan kami meleset.

Waktu itu selepas etape Kali Buraka, akhirnya tiba kami di Distrik Tubang sekitar jam 7 malam. Namun penyeberangan terakhir sudah gulung layar setibanya di sana, Kimaam tak bisa dijangkau. Kami kemalaman dan harus menginap.

Merenda Istimewanya Jogja
Senja indah membayar kelelahan dan tarian motor KLX (dok. pribadi)

Kali Buraka tampak menyeramkan di malam gelap dan sepi. Hati dibuat berdebar kencang. Kontras dengan masyarakat kampung, mereka justru ramah-ramah. Hati rasanya amat lega setibanya di sana.

Kami dianjurkan untuk menghubungi warga yang katanya sering menerima tamu yang menginap. Fisik terasa letih ditambah lagi lapar. Makan terakhir jam 4 sore di Distrik Okaba.

Sayang sekali, tuan rumah sepertinya menolak kedatangan kami dengan alasan tidak ada air. Aduh, rasanya resah sekali, harus ke mana lagi menginap? Kami rombongan tiga orang dan aku satu-satunya perempuan!

Seperti kata nasehat, dalam keadaan apapun, selalu bawa kesulitanmu dalam doa. Tuhan pasti buka jalan.

Merenda Istimewanya Jogja
Ads by Rose Olshop, hubungi WA 0813-5502-9027

Kami bergerak ke rumah warga lainnya. Dengan wajah memelas aku meminta agar boleh merebahkan tubuh.

Orang-orang baik ini mendengar permintaan kami dengan sabar. Rasa iba dan ketulusan membuka pintu bagi tiga orang lelah dari Kota Merauke. Kami dipersilahkan menempati sebuah kamar!

(Baca juga: Dosen UKSW Melampaui Sungging Senyum Berkat Pengamen dan Tukang Kebun)

Perjalanan itu fitrah manusia. Malam itu di Tubang, aku kembali belajar tentang kasih. Warga kampung sangat sopan dan menghargai aku sebagai perempuan. Pemilik rumah bahkan mempersilahkan kami menggunakan fasilitas masak, kamar mandi dan kasurnya.

Saat baringkan badan yang serasa mau patah, kasih membuka kebenaran itu. Jiwa manusia itu istimewanya tenunan surgawi seperti tauladan dia yang purna tugas di perairan Merauke. Bersambung ke Part-3.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Julia Marbun, S.T.

Julia Marbun, S.T.
Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke - Teknik Lingkungan Institut Teknologi Surabaya **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapis klinis, SDM dan coaching. Sila WA 082135424879.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean