Home / Headline / Part 2/2 – “Othering” dan Risiko Kebencian, Bagaimana Anda Menjadi Objek Kebencian?
Merenda Istimewanya Jogja
Haringga Sirla, korban pertikaian antar pendukung klub, sesungguhnya korban brutalnya proses othering (Foto: Twitter/@alvinReparo)

Part 2/2 – “Othering” dan Risiko Kebencian, Bagaimana Anda Menjadi Objek Kebencian?

Oleh: Mohd. Ruslani

Klaten, Jawa Tengah, Aquilajogja.com – Othering (keliyanan) adalah proses membuat orang atau kelompok lain dengan seperangkat konotasi negatif sebagai bukan dirinya. Secara sepihak, kita mengonstruksi pelbagai gambaran untuk mengasingkan (mengisolasi) pihak lain ke dalam wilayah mental, ideologi, kultural bahkan religius yang spesifik.

Bagian pertama tulisan mengungkap dua konstruksi keliyanan dari tiga cara yang biasa dipakai. Kita akan melanjutkan pembahasan meski terasa pahit, dan lalu meninjau dampak othering dalam masyarakat kontemporer Indonesia.

Cara ketiga adalah gagasan liyan sebagai sesuatu di luar diri, atau segala hal yang dianggap bertentangan dengan diri. Ini merupakan bagian atau aspek dari “Liyan Besar”-nya Lacan. Lacan membedakan “liyan kecil” dan “Liyan Besar”.

Liyan kecil merupakan reaksi atau proyeksi diri, sedangkan Liyan Besar adalah sesuatu yang pada dasarnya sungguh-sungguh berbeda, liyan yang mencakup subjek-subjek lain dan hubungan antara diri dan liyan.

Risiko Kebencian dalam Sejarah

Propaganda dan hasutan itu lebih parah saat berada di dunia maya, di mana setiap orang seolah-olah bebas tanpa pengawasan untuk menyebarkan berita apa pun. Kabar bohong dan fakta makin sulit terdeteksi lantaran begitu cepat informasi datang dan pergi silih berganti.

Di dunia maya, setiap orang dapat menjadi homo odiumus, manusia yang membenci, tanpa harus mengenal apa dan siapa yang dibenci!

Dalam sejarah, pernah terjadi pengadilan atas para penyebar propaganda dan kebencian terhadap kelompok yang berbeda.

Setelah Perang Dunia II, 24 pemimpin Jerman diadili di hadapan Pengadilan Militer Internasional di Nuremberg. Dari 24 orang tersebut, terdapat dua orang yang terkait dengan penciptaan dan penyebarluasan propaganda Nazi. Mereka adalah Julius Streicher, editor Der Stürmer, dan Hans Fritzsche, direktur Divisi Penyiaran Kementrian Propaganda.

Merenda Istimewanya Jogja
Hate atau kebencian (Ilustrasi/acikradyo.com.tr)

Pengadilan berlangsung melawan keduanya atas dasar tindakan-tindakan mereka sebagai propagandis dan memutuskan Streicher bersalah telah melakukan kejahatan melawan kemanusiaan berdasarkan artikel-artikel yang dipublikasikan di Der Stürmer.

Majelis Hakim menjelaskan, artikel-artikel yang ditulisnya itu memicu pemusnahan terhadap bangsa Yahudi yang menyebabkan “orang-orang Yahudi dibantai dengan kondisi yang sangat mengerikan.” Artikel propaganda yang menyulut kebencian dan pembantaian tersebut dinyatakan sebagai kejahatan melawan kemanusiaan (crime against humanity) dan pengadilan memutuskan Streicher dihukum mati dengan cara digantung.

Pada kasus kedua, pengadilan memutuskan bahwa meskipun Fritzcshe telah menyebarluaskan siaran-siaran anti-Semitik selama masa jabatannya, tetapi ia tidak secara khusus menyerukan dan menyebabkan terjadinya pembantaian massal atas orang-orang Yahudi Eropa.

Merenda Istimewanya Jogja
Ads by Rose Olshop, hubungi WA 0813-5502-9027

Bagi para hakim, fakta ini membedakannya dari aksi-aksi yang dilakukan Streicher. Atas dasar pertimbangan ini, majelis hakim memutuskan Frizcshe tidak bersalah atas segala bentuk pembantaian dan kebencian terhadap bangsa Yahudi di Eropa.

Dua contoh di atas menunjukkan dengan jelas bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk menjatuhkan orang lain, kelompok lain, dengan dalih kemuliaan dan kehebatan kelompok sendiri.

Kedua contoh tersebut juga menjelaskan betapa sebuah ujaran kebencian yang dianggap sebagai kebenaran yang kemudian disebarluaskan melalui pelbagai bentuk media, dapat memicu pembantaian massal yang sangat mengerikan.

Trauma dan luka yang ditimbulkannya tidak dapat disembuhkan dalam waktu lama. Membekas begitu dalam. Menyisakan kepedihan dan derita setiap kali kita mengingatnya.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Mohd Ruslani, S.Ag.

Mohd Ruslani, S.Ag.
Penulis & Penerjemah - Mantan Chief Editor Bentang Budaya & Qalam - Tim Penerjemah Ensiklopedi Filsafat & Spiritualitas Islam - UIN Sunan Kalijaga - Pernah Pascasarjana Ilmu Religi Budaya USD Yogyakarta **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapi klinis, SDM dan coaching. Sila WA 082135424879.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean