Home / Headline / Driver Go-Jek Jogja dan Penjual Parfum Jakarta, Melanggar Sains demi Hukum Kasih
Merenda Istimewanya Jogja
Foto ilustrasi (Aquilajogja)

Driver Go-Jek Jogja dan Penjual Parfum Jakarta, Melanggar Sains demi Hukum Kasih

Oleh: Palti Hatoguan Panjaitan

Halim Perdanakusuma, Jakarta, Aquilajogja.com – Bahwa sesungguhnya hidup lebih sering melanggar sains atau timbangan akal sehat demi mentaati hukum kasih. Bahkan ketika itu berarti pemberian telinga untuk mendengarkan rangkaian kisah yang terdengar absurd.

Di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, sains terlanggar itu berupa hukum penawaran dan permintaan.

Aku tiba di Halim dan tanpa rencana, disambut seorang perempuan umur sekitar 40-an. Bukan sembarangan perempuan, dia pejuang hidup dengan menjual parfum dan jam tangan.

Aku intip barang dagangannya, rupanya  ditaruh di tas tangan. Dan menurut penglihatanku yang sanggup mendeteksi original atau KW, berkat sebagian penumpang Go-jek Jogja yang menenteng tas-tas cantik, tasnya bermerek!

Sepintas tak menyangka beliau sedang berjualan, apalagi penampilannya menarik. (Penglihatanku juga masih sanggup mendeteksi hal ini). Apakah bagian “penyamaran” agar tidak ketahuan petugas keamanan bandara? Penampilan dia layaknya pengunjung bandara.

Kuat dugaan tentang strategi bisnis karena dia mendekati para pengunjung Halim yang sedang nongkrong di kafe.

Aku duduk santai menikmati suasana Jakarta. Lalu sayup-sayup sebentuk suara masuk telinga. Nada amat rendah, nyaris tak terdengar.

Bahwa sesungguhnya aku dan sang ibu punya kesamaan sebagai ‘bumbu’ istimewa dari pertemuan tak terduga. Aku seorang driver Go-Jek Jogja, dan hormat pada strategi berdagang kreatif oleh mereka yang serius memperjuangkan martabat hidup.

Jadi ketika dia menawarkan parfum, sesuatu yang nyaris tak pernah kupakai, aku tetap meladeninya dengan sabar sembari menolak dengan sopan. Aku terbiasa ‘memaksimalkan’ wangi tubuhku. Itu saja sudah menarik, original dan ekonomis. Nikmat apa lagi yang masih perlu kusemprotkan pada tubuhku?

Hukum penawaran dan permintaan tak tersedia, sesungguhnya relasi ekonomi di antara kami sudah deadlock. Namun sains tak kuasa membatalkan relasi yang lebih emosional antar sesama pejuang hidup.

Merenda Istimewanya Jogja
Dialog bagai main ‘telpon-telponan’ yang tak kelihatan (Istimewa)

Tengok ibu penjual yang tak kenal mundur ini. Mendengar kata-kata penolakan, beliau malah menarik kursi yang berisi ranselku dan duduk di hadapanku. Kembali menawarkan parfum, satu persatu dikeluarkan dari tas.

Aku tetap menolak, beliau terus membujuk. Deadlock itu sebenarnya sudah final!

Mendadak beliau mengubah ‘aturan main’. Bukan lagi relasi penjual dan (calon) pembeli tertarget, hubungan kami ditransformasikan menjadi narator dan pendengar (yang budiman).

Maka tersebutlah seorang perempuan, sebuah kisah yang cukup mengharukan sehingga mata berlinang dan air mata menetes. Disekanya dengan jari, sesekali dengan ujung jilbabnya. Aku bertekun mendengar sampai ikut terharu.

Demi mendeteksi hatiku yang mulai tersentuh, beliau kembali menawarkan parfum yang terpaksa harus kutolak. Wangi tubuh sudah cukup!

Pilihanku jelas angkat kaki segera, sebagian orang akan mengambil sikap serupa. Entah mengapa aku justru melihat istimewanya seorang pejuang di dalam dirinya. Fighter meets another fighter!

Beliau balik lagi sebagai narator yang aktif menenun kisahnya. Kisah sedih dan mengharukan. Kembali aku bertekun mendengarkan – dalam hening seperti anak yang taat pada orang tuanya. Di momen yang tepat, beliau menawarkan dagangannya. Lagi-lagi aku harus menolaknya.

Merenda Istimewanya Jogja
Ads by Rose Olshop, hubungi WA 0813-5502-9027

Ilmu ekonomi sudah lenyap tak berbekas, tak sanggup memahami hal ini. Hanya dorongan menghormati seorang perempuan sesuai hukum kasih. Bila di posisinya, aku pun ingin diperlakukan dengan layak meski situasinya terkesan dramatis dan absurd.

Pola yang sama terjadi berulang-ulang. Ibu penjual bahkan membujuk aku membelikan untuk anak istri jika aku memang bukan pria berparfum. Namun semuanya kutolak dengan halus.

Tak terasa sudah cukup banyak investasiku dalam hal waktu dan telinga bagi perjuangan seorang ibu. Aku tidak memintanya bercerita, aku tegas menolak membeli sejak awal.

Kebanyakan penjual sudah angkat kaki sejak tadi, tak bakal menghabiskan beberapa ronde kisah. Ada sesuatu yang lebih esensial daripada duit. Bukan sekadar berusaha menjual, warga Jakarta ini sebenarnya mencari hati yang sudi mendengarkan dia memperjuangkan martabat hidup. Itu alasannya mengapa beliau bagai berdrama, terlepas benar tidaknya litani kisahnya.

Setelah merasa cukup dan sang ibu berkesimpulan aku tak bakal tergoda, beliau akhirnya pamit.

Kami saling meminta maaf dan saling ucap terima kasih. Aku  berterima kasih sudah ditemani, dipercaya mendengar kisahnya dan boleh melihat strategi pemasarannya. Sayang ketemunya pria tak berparfum asal Jogjakarta – namun bertelinga.

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Palti Hatoguan Panjaitan, M.A.P.S.

Palti Hatoguan Panjaitan, M.A.P.S.
Pendeta - Aktivis Interfaith - Pembicara Publik - Gojek Driver, Yogyakarta - Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Yogyakarta **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapi klinis, SDM dan coaching. Sila WA 082135424879.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean