Home / Headline / Fitrah Manusia di Frekuensi Islam, Pegiat Lintas Iman Jogja Menembang Sloka Bhagavad-gita
Merenda Istimewanya Jogja
Kebersamaan bersama para sahabat YIPC Jogjakarta (dok. pribadi)

Fitrah Manusia di Frekuensi Islam, Pegiat Lintas Iman Jogja Menembang Sloka Bhagavad-gita

Oleh: Yadu Nandana

Jogjakarta, Aquilajogja.com – Orang-orang Muslim melakukan salat dengan khidmat di aula tempat Kitap Suci Bhagavad-gita dilantunkan. Ada ruangan khusus sebenarnya, tetapi mereka memilih melakukannya di situ.

Baru pulang kuliah kala kusambut teman-teman Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC) Jogjakarta yang beranjangsana ke Asrama. Melihat segalanya ‘normal’ di antara para sahabat, apa lagi yang kuinginkan kecuali sujud atas cinta ilahi yang telah memberi pengalaman luar biasa ini?

Awalnya sebuah pesan WA dari, sebut saja, bang Ahmad. “Kamis sore mungkin sa kesana bang, mo ngobrol-ngobrol di ashrama,” gaya omongnya khas orang Sulawesi Selatan.

Ahmad adalah pegiat lintas iman yang sangat aktif, ajakannya untuk bertemu itu anugerah. Dan seperti biasanya, beliau berdandan ‘wajib’ memakai udeng Bali. Dia secara sadar ingin menghadirkan suasana kebersamaan di tengah keberagaman budaya dan agama lantaran aku keturunan orang Bali.

“Kita tuh kepo, bang, pengen tau kitab suci orang Hindu. Boleh kan kalau kita main untuk ikut belajar baca Bhagavad-gita di Asrama?” pesan WA berlanjut.

Segera kurespon, “Walah, yo boleh to, bang. Jangankan cuma sehari, tiap hari pun boleh. Kita welcome, bang!”

Rombongan tiba di Asrama tepat sesuai waktu yang sudah disepakati. Kami berkenalan satu sama lain.

Mataku menangkap beragam ras berkumpul dalam komunitas YIPC Jogjakarta. Sejuk terasa di hati yang melihat. Hangat kekeluargaan langsung tercipta di antara kami.

Sesi obrolan santai dibuka dengan pengantar seputar Asrama, Hindu dan Veda. Beberapa kali sengaja aku selipkan, “Pasti benak teman-teman menenteng banyak pertanyaan, opini, prasangka, bahkan kebingungan. Mumpung di sini, silakan tanya apa pun yang ingin diketahui.”

Tawa mereka bergelak seketika, kulihat kepala mengangguk-angguk sebagai konfirmasi akan kebingungan bertumpuk.

Aku persilahkan Pak Budi Raharjo (Prabhu Subhananda Caitanya) untuk mengisi sesi obrolan santai itu sembari kami menunggu saatnya pembacaan Kitab Suci Bhagavad-gita. Maka berbagai tanya deras mengalir bertubi-tubi.

Tak jauh-jauh seperti dugaan semula, pertanyaan seputar reinkarnasi, dewa-dewa, penghormatan kepada sapi dan kremasi masih menjadi sekumpulan pertanyaan khas bagi orang awam untuk para penghayat Veda. Semua itu terjawab dengan mendetail dalam satu buku suci Bhagavad-gita yang menjadi pedoman pembelajaran di berbagai kalangan.

(Baca juga: Nusantara di Kolam Lele, Prasasti Mataram Kuno dan Takdir Kematian dalam Kekuasaan)

Terjadilah momen unik di atas itu, sebuah kenangan abadi di benak, saat tiba waktunya sholat. “Mas, Mbak, mari silakan wudhu di sini, sudah kami siapkan kerannya. Oya, untuk sholatnya di kamar paling ujung ya, sudah kami siapkan juga.” kataku kepada mereka yang Muslim.

Jawaban mereka membuat kaget sekaligus terharu, “Nggak usah Mas, kalau boleh, kami sholat di aula sini saja.”

Untuk kepercayaan ini, aku bertekad akan menjawab rasa penasaran mereka dengan tuntas. Mereka ingin dan penasaran sekali akan wujud, isi, dan cara membacakan Kitab Suci Bhagavad-gita.

Dalam rangka Hari Perdamaian Dunia, kami membacakan sloka dari Bhagavad-gita 5.29, sloka kunci rumus perdamaian. Aku mengalami yang belum pernah kurasakan sebelumnya saat menembang sloka indah itu dengan penuh penghayatan.

Terasa damai nian di hati yang mendengarnya.

Sloka yang dibacakan mengatakan segala sesuatu yang ada di dunia milik Tuhan. Betapa absurdnya berdebat dan bertengkar memperebutkan yang sesungguhnya bukan miliknya. Hidup bukan saling memperebutkan, melainkan saling menyatukan.

Sloka bagai tabir tersibak yang sekaligus penenun keberagaman. Bahwa tak sama bukan berarti membuat kita tak boleh bersama. Sejatinya kita sama-sama berasal dari satu keluarga yang anggotanya beragam.

Sungguh, Bhagavad-gita yang manis didendang mengembalikan fitrah manusia di ‘frekuensi’ Islam – suatu gerak serah diri pada sang Ilahi.

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berbagi kisah atau pasang iklan, klik di sini ya

About Yadu Nandana

Yadu Nandana
Spiritual Millennial & Traveller - Spiritual Writer - STIE SBI Yogyakarta **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapi klinis, SDM dan coaching (WA: 082135424879)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean