Home / Headline / Pilpres Damai Menurut Dosen Psikologi Jogjakarta, Jokowi dan Prabowo ‘Masih Normal’
Merenda Istimewanya Jogja
Tetanggaku, terlepas dari pilihan politiknya, tetap sahabat baikku (Ilustrasi/Istimewa)

Pilpres Damai Menurut Dosen Psikologi Jogjakarta, Jokowi dan Prabowo ‘Masih Normal’

Oleh Juwandi Ahmad & Rudy Ronald Sianturi

Jogjakarta, Aquilajogja.com – Dalam pengambilan nomor urut tanggal 20 September 2019, apakah 01 atau 02, kubu Jokowi dan Prabowo kompak mengikrarkan pemilu yang damai serta bebas dari SARA.

Sebagai dosen psikologi, spontan aku ajukan pertanyaan adakah penjelasan sederhana tentang kekompakan verbal keduanya? Mungkin juga karena aku jenuh sangat dengan pemaknaan yang dominan politik praktis.

Aku pikir di bawah keriuhan basa-basi politik, atau strategi dagang citra, kedua paslon pada dasarnya manusia-manusia ‘normal’ seperti kebanyakan kita. Maksudnya, bahkan orang yang berpikir dengan cara paling sederhanapun, apalagi calon presiden, mengetahui bahwa nyaris setiap orang punya sisi yang layak puji dan layak kritik.

Kritik itu soal fakta, data, dan solusi apa yang mungkin anda tawarkan. Hal ini membutuhkan obyektivitas dan isi kepala yang mumpuni.

Adapun nyinyir, cela, hujat, dan hoax, umumnya tak perlu otak yang dapat diandalkan, cukup isi hati yang sarat dengki.

Bilamana selalu ada yang layak puji, pujian atau sapaan pada lawan itu sungguh manusiawi bahkan perlu. Bukan untuk menunjukkan betapa baik dan hebatnya dia, tetapi bahwa anda bisa bersikap jujur, adil, menyenangkan, dewasa dan bijak.

(Baca juga: Seorang Pastor Katolik Mencari Allah di antara Sahabat-SahabatNya)

Ketika dimaknai dengan cara di atas, Pilpres damai dan bebas SARA berarti kembalinya kemanusiaan normal sebagaimana hidup sehari-hari. Kita balik lagi sebagai orang-orang biasa yang bisa melihat hal-hal baik dari tetangga, kompetitor bahkan lawan. Berbagai kelemahan ditanggapi sebagai kewajaran yang bila dirasa perlu, akan dikritik atau ditelanjangi sewajarnya.

Aku pikir inilah yang dimaksud dengan pendidikan politik yang baik bagi masyarakat dalam pidato Jokowi malam itu. Pilpres akan menjadi pendidikan politik yang buruk atau brutal ketika elit politik justru menyeret pendukung untuk mengingkari normalitas sehari-hari, seperti hoax, fitnah atau hasutan jahat.

Merenda Istimewanya Jogja
See no evil, hear no evil, speak no evil, tiga perilaku yang sangat penting dalam Pilpres damai (Istimewa)

Siapa yang mampu mengapresiasi prestasi-prestasi lawan itu istimewa. Dia menenun damai dan kesegaran, dan yang paling penting, kemanusiaan dirinya. Apalagi bila dibumbui humor sehingga memungkinkan orang lain merasakan kelunakan dari kerasnya dunia dan manusianya.

Setiap perjumpaan meninggalkan bekas. Psikologi mengajarkan bahwa yang paling diingat orang, yang membuatnya ingin bertemu lagi, dorongan yang disebut keterikatan psikologis, bukanlah seberapa pandai atau kaya anda, namun seberapa jauh dan mampu anda dapat memperlakukan orang lain dengan baik.

Awal keterikatan psikologis bermula pada bekas itu, yang membuat dua orang yang berbeda pandang, paham, atau berselisih jalan, masih tetap bisa tertawa dan ngopi berdua. Keterikatan ini sebuah hukum yang berlaku atas jiwa manusia, sejak zaman batu sampai era digital, dan akan terus begitu.

(Baca juga: Masyarakat Bertikai Karena Kebanyakan Ngopi Milenial: Ramai dalam Keheningan)

Inilah ilmu dan seni bertetangga yang sifatnya abadi serta tak terbantahkan. Mengutip Jokowi lagi, beliau ingin tetap bisa menyapa Prabowo dan Sandi ‘sahabat-sahabat’ baiknya. Dan psikologi menjadikan kapasitas seperti ini sebagai ukuran normalitas.

Kompaknya Jokowi dan Prabowo mengikrarkan Pilpres damai itu pertanda mereka masih ‘normal’, atau setidaknya, pada malam itu, mereka bertemu dengan kemanusiaannya yang paling primordial, yang seperti kebanyakan orang, sudah jenuh dengan pertengkaran politik absurd yang telah merobek-robek normalitas kita sebagai bangsa.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Juwandi Ahmad, M.Si.

Juwandi Ahmad, M.Si.
Dosen Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta - Universitas Mercu Buana Yogyakarta **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapi klinis, SDM dan coaching. Sila WA 082135424879.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean