Home / Catatan Jurnalis / Nusantara di Kolam Lele, Prasasti Mataram Kuno dan Takdir Kematian dalam Kekuasaan
Merenda Istimewanya Jogja
"Borobudur Sore Hari" (1983) karya Affandi sang maestro lukis asal Jogja, berukuran 98cm X 130cm, media: oil on canvas (Istimewa)

Nusantara di Kolam Lele, Prasasti Mataram Kuno dan Takdir Kematian dalam Kekuasaan

Rudy Ronald Sianturi | Catatan Jurnalis

Temanggung, Jawa Tengah, Aquilajogja.com – Awal Nusantara abad ke-7, tersebutlah kerajaan Mdang Mataram didirikan Rakai Sanjaya. Tidak banyak sumber tertulis atau internasional yang memuat informasi tentang beliau kecuali muncul di Prasasti Canggal (732 M).

Tersebut juga dua prasasti dari masa Mataram Kuno, yaitu Prasasti Kalasan (778 M) dan Prasasti Kelurak (782 M) yang diketahui berasal dari pengganti Rakai Sanjaya. Beliau dikenal sebagai Rakai Panangkaran Dyah Pancapana (746 M -784 M) dan menganut Buddha Mahayana.

Prasasti Kalasan, merekam diresmikannya Tarabhavanam, yaitu rumah pemujaan bagi Dewi Tara. Tarabhavanam sekarang adalah Candi Kalasan.

Sementara itu, Prasasti Kelurak merekam didirikannya Manjusrigraha, yaitu bangunan suci bagi Manjusri. Manjusrigraha sekarang adalah Candi Sewu yang lokasinya di utara Candi Prambanan.

Kedua prasasti maupun candi bercorak Buddhist.

Sebelumnya telah ditemukan prasasti Abhayagiri Vihara yang berangka tahun 792 Masehi. Potongan historis sangat penting ini diketahui berasal dari zaman Rakai Panaraban (784 M – 803 M) yang merupakan raja ketiga Mataram kuno. Ia merekam peristiwa betapa raja kedua, Rakai Panangkaran, memilih lengser keprabon, mundur sukarela dari posisi raja, untuk menjalani hidup sebagai biksu di Vihara Buddhist Abhayagiri.

Menyucikan diri guna mempersiapkan datangnya kematian yang bermartabat adalah laku yang diletakkan lebih tinggi daripada kekuasaan duniawi.

Vihara Abhayagiri sekarang diduga berada di komplek Ratu Boko, selatan Candi Prambanan.

Sejarah seakan pelit memberitahu apa lagi yang terjadi di masa pemerintahan Rakai Panaraban. Namun sesuatu yang sangat menakjubkan akhirnya terjadi ketika sepotong masa raja ketiga berhasil terkuak tanpa sengaja di kolam lele!

(Baca juga: Tantangan bagi Koalisi Prabowo, Rejomulia Jogja Menghadirkan Lele ke dalam Politik)

Adalah Pak Wardi yang berdomisili di Dusun Nglarug, Desa Kataan, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung, Jawa Tengah. Beliau sedang membersihkan kolam – minggu lalu – ketika tanpa sengaja menemukan prasasti yang sangat penting bagi sejarah dan konsep Nusantara.

Merenda Istimewanya Jogja
Prasasti kuno dari zaman Mdang Mataram yang ditemukan di kolam lele (Istimewa)

Prasasti batu andesit berukuran 55 cm x 40 cm ini telah pecah menjadi lima potong saat ditemukan di dasar kolam. Meskipun begitu, angka tahunnya masih terbaca dengan baik dan tertulis tahun 709 saka.

Temuan ini punya nilai sangat besar, harta istimewa yang mengungkap sejumlah aspek di masa-masa awal negeri ini. Ia mengonfirmasikan eksistensi dan keberlangsungan kerajaan Mataram kuno. Ia juga bukti otentik bahwa sejak awal masehi, tata negara dan masyarakat berbasis hukum telah dipikirkan dan dikristalkan setingkat kerajaan!

Kalau dihitung sejak tahun prasasti, berarti terpaut 12 abad dengan sekarang, sebuah prestasi gemilang yang turut menenun masa-masa selanjutnya.

Para ahli tidak sekata soal Mdang Mataram yang terkait Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra. Tulisan ini bukan historiografi, biarlah itu urusan dan perdebatan di antara sejarawan dan pakar.

Yang jelas, kita tak perlu ragu mengatakan Buddhisme dan Hinduisme sebagai DNA kultural dan religius serta alas peradaban berbagai ruang dan waktu Nusantara.

(Baca juga: Terjungkalnya Gepolo Prambanan di Jogja, Arca Ganesha Menandai Budi yang Merosot)

Logis dan beralasan mengapa berbagai candi, petilasan dan kompleks pendidikan Buddhist harus berdiri. Puncaknya Candi Borobudur yang terintegrasi dengan pusat riset dan pendidikan Buddhisme internasional di era Raja Samaratungga.

Merenda Istimewanya jogja
Ads by Rose Olshop, hubungi WA 0813-5502-9027

Atau mengapa kompleks Candi Prambanan atau Siwagrha (Rumah Siwa), pembangunannya dimulai Rakai Sanjaya, didedikasikan bagi Trimurti dengan Siwa sebagai yang utama. Pendeta dan para santri mempelajari dan mengamalkan Kitab Weda di situ.

Bahkan logis dan beralasan bila Indonesia kontemporer menghidupkan kembali pusat penelitian dan belajar Buddhisme dan Hinduisme berskala besar guna mengaktivasi “building blocks” jati dirinya – tentunya tanpa terjebak regresi.

Pihak-pihak berkompeten sedang meneliti temuan di atas dengan seksama. Di sisi lain, intuisi mengatakan adanya titah nenek moyang, amanat agung tentang kekuasaan, supaya berbangsa dan bernegara berdasarkan keluhuran filosofis, religius, teknologis, hukum dan sastra.

Kekuasaan itu sangat penting, namun oleh kehendak bertemu takdir kematian secara terhormat berkat olah kebatinan (religiusitas hakiki). Kekuasaan itu alus, atau jika tidak, sekadar noda dan keserakahan!

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Rudy Ronald Sianturi M.Hum.

Rudy Ronald Sianturi M.Hum.
Owner & PEMRED Aquilajogja.com - Univ. Sanata Dharma, Yogyakarta - Asia Research Institute, National University of Singapore - Doctoral Courses De La Salle Univ., Filipina - Memberi pelatihan/konsultasi berbasis SDM, coaching, terapi klinis dan menulis (WA: 082135424879)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean