Home / Headline / Part 2/2 – Ketika Tuhan Punya Rencana, Seorang Jenderal Perang di Panti Jompo
Merenda Istimewanya Jogja
Orang-orang luar biasa yang mengajarkan tentang makna hidup (dok. pribadi)

Part 2/2 – Ketika Tuhan Punya Rencana, Seorang Jenderal Perang di Panti Jompo

Oleh: Christiana

Semarang, Aquilajogja.com – Sebagai jenderal perang di panti jompo, terkadang taktik kemenangan mengalah pada kecamuk batin yang mencekam. Seperti hari ini, perasaanku tak karuan dengar kabar yang menyiksa.

Entah apa terasa, tak bisa terdefinisi. Masuk laporan perawat kalau Oma Intan sudah seminggu mengalami pendarahan, dan kondisinya semakin lemah pagi ini.

Bergegas berjalan menuju kamar Oma Intan, langkah terhenti di pintu kamar. Kulihat Bu Mila (bendahara panti) dan Mas Joko (perawat panti) sedang berusaha menyuapi dengan bubur. Apa mau dikata, beliau sudah tak mampu menelan apapun jua. Bahkan bila itu hanya setetes air putih.

Aku mendekat, kuraba keningnya. Kulit tanganku seketika menerima hawa sangat panas .

Bergegas kuambil saputangan untuk mengompres dengan air dingin. Namun tak cukup membantu. Hanya dalam hitungan menit, saputangan yang aku letakkan di keningnya sudah panas. Kucelup kembali ke dalam air dingin untuk ditempelkan kembali.

Mas Joko berusaha membetulkan letak kaki Oma Intan. Susah payah dia meluruskan sepasang kaki yang sejak tadi tertekuk.

Seorang jenderal pun tahu senja kehidupan yang berkelip di depan mata, sekaligus fajar eksistensi baru yang sedang membuka dirinya untuk dimasuki. Kuraih tangan Oma Intan. Kuletakkan tanganku diatas tangannya.

“Oma kalau mau pergi, pergilah dengan tenang, kami sudah ikhlaskan. Namun bila Tuhan mengijinkan, biarlah kehendak cinta Tuhan yang terjadi atas Oma,” sambil membungkuk aku berbisik dalam hati.

Merenda Istimewanya Jogja

Kondisi perempuan yang telah mengisi hari-hariku sekian lamanya ini semakin melemah. Saat kupegang tangannya, aku teringat almarhum ibuku yang sudah meninggal tiga tahun yang lalu. Detik-detik terakhir beliau pergi, kondisinya persis dengan kondisi Oma Intan. Air mata jatuh mengalir mengingat kenangan terakhir bersamanya.

Aku berada di puncak gemuruh batin yang sangat mencekam. Ingatan akan ibu dan pergulatan Oma di hadapanku tindih-menindih. Hati mengeja sebuah bisikan lagi – dalam iman pada kasih pengampunan Allah.

“Ibu, kiranya pengabdianku di panti jompo ini bisa menebus dosaku kepada ibu. Kiranya boleh dianggap ganti merawat ibu saat merawat Oma. Semoga ibu sudi memaafkan anak putrimu yang tak ada waktu untuk merawat dan memerhatikan ibu sewaktu masih hidup,” kataku.

Waktu memang tak bisa diputar kembali ke masa ibuku masih hidup. Akan tetapi kutemukan damai dan ketenangan bersama Oma Intan. Kepercayaan yang ia berikan padaku adalah konfirmasi bahwa ibu telah memaafkan kesalahan-kesalahanku.

*setiap nama disamarkan, foto tidak mewakili nama

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Christiana

Christiana
Yayasan Sosial Soegijapranata Semarang, Jawa Tengah **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapi klinis, SDM dan coaching. Sila WA 082135424879.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean