Home / Headline / Part 1/2 – Ketika Tuhan Punya Rencana, Seorang Jenderal Perang di Panti Jompo
Merenda Istimewanya Jogja
Pengurus dan karyawan (dok. pribadi)

Part 1/2 – Ketika Tuhan Punya Rencana, Seorang Jenderal Perang di Panti Jompo

Oleh : Christiana

Semarang, Aquilajogja.com – Pagi itu bergegas aku bangun dan mempersiapkan diri untuk ke kantor. Di hari pertama masuk kerja, perasaanku sudah berkecamuk.

Aku bekerja di panti jompo, hal yang sangat baru bagiku. Aku tidak dapat membayangkan apa yang harus dilakukan di sana, meski jabatan yang aku sandang adalah sekretaris pimpinan.

Membayangkan panti jompo, yang terlintas di benak adalah orang-orang sudah uzur, bau, dan tidak bisa mengerjakan apa-apa. Namun toh kuterima juga karena butuh pekerjaan dan menangani hal-hal kantor.  Awalnya memang itu motivasiku.

Tiba aku setengah sebelum jam kantor buka. Diluar dugaan disambut dengan ramah oleh ibu pimpinan dan semua karyawan layaknya keluarga menerima hadirnya anggota baru. Aku lalu diantar berkeliling panti untuk berkenalan dengan para penghuni panti.

Pantinya sangat bersih, kembali diluar dugaanku, tak tercium aroma pesing atau tak sedap lainnya. Para penghuninya juga tampak diperhatikan dan dirawat dengan baik. Kami bersalaman. Senyum dan tawa menyertai setiap perjumpaanku dengan penghuni panti hari itu.

Aku menghela nafas lega, semua gambaranku meleset. Di hari pertama bergabung di panti jompo ini, sudah menemukan sebuah keluarga. Aku bekerja dengan penuh kegembiraan dan sukacita.

Sempat tebersit di pikiran, mungkin hanya khusus hari pertama. Ternyata semakin hari aku semakin dekat dengan para penghuni panti.

Merenda Istimewanya Jogja

Seperti pelangi pengalaman yang kuperoleh di sini. Sering tertawa melihat tingkah penghuni panti yang biasa kami sapa dengan sebutan opa atau oma.  Tingkah mereka seperti kembali anak balita – sangat lucu.

Kadang geli melihat oma atau opa berebut jajanan. Rupanya rasa iri itu sangat manusiawi. Bahkan ada yang merasa dianaktirikan atau tidak diperhatikan.

Sewaktu-waktu, aku menemani opa menonton film India kesukaannya. Atau saling melempar komentar saat kami bersama-sama menonton berita politik atau berita kriminal.

Tidak jarang pula aku dan para pengurus serta karyawan menahan emosi, namun berusaha memakluminya.

Panti jompo rupanya bagai sekolah ulang. Aku belajar lagi untuk memahami emosi-emosi manusia. Membanjir rasa haru setiap melihat Oma Nana yang akan mengucapkan terima kasih setiap ada yang mengajaknya bersalaman. Oma Ina selalu menangis kalau ada tamu yang mau menyuapnya untuk makan.

Mereka memang mudah tertawa, tetapi ada sebuah bilik jiwa yang kesepian.

Kalau Opa Paimo selalu merokok meski sudah sering terkena penyakit batuk akut. Setiap diingatkan untuk tidak merokok, beliau hanya tertawa seolah-olah tidak kuatir akan kesehatannya.

Pelajaran besar adalah tentang cinta dan kesabaran. Oma Ami suka merengek karena pencernaannya sudah tidak bagus lagi. Ia kerap merasakan sakit perut akibat tidak bisa buang air besar.  Harus memanjangkan telinga untuk menampung semua keluhannya dengan tulus.

Kalau digambarkan dengan cara lain, aku bagai seorang jenderal yang mengatur taktik perang dalam gemuruh batinku. Aku berperang dengan diri sendiri. Sebagai manusia biasa, kesabaranku ada batasnya, sedangkan rengekan, keluhan atau omelan orang jompo bisa memanjang tanpa kejelasan di mana berujung. Ujian akan kemanusianku! Bersambung ke Part-2.

*setiap nama disamarkan, foto tidak mewakili nama

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Christiana

Christiana
Yayasan Sosial Soegijapranata Semarang, Jawa Tengah **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapi klinis, SDM dan coaching. Sila WA 082135424879.

2 comments

  1. Membaca judul panti jompo teringat pengalamanku waktu KBN di paroki Bongsari. Pastor menempatkanku di stasi Mijen, Kedungpani dan Boja. Bi Boja ada dua panti jompo, satu di belakang gereja Boja dan satu lagi punya gereja kristen yang cukup jauh dari Boja. Tampak orang-orang tua penuh pandangan persaudaraan dalam kesepian. Spontan saya menilai keluarga terlalu kejam!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean