Home / Pendidikan dan Kampus / Memoar Aktivis Tempo Dulu, Surat Cinta Intelektual Muslim Berjilbab kepada Aktivis Zaman Now
Merenda Istimewanya Jogja
Sejumlah mahasiswa Iqra University, Islamabad, Pakistan, nama kampus mendefinisikan mahasiswa: bacalah! (entireeducation.com)

Memoar Aktivis Tempo Dulu, Surat Cinta Intelektual Muslim Berjilbab kepada Aktivis Zaman Now

Oleh: Jumrana Sukisman

Kampus UGM, Jogjakarta, Aquilajogja.com
Dear Aktivis terkasih,

Sebagai senior, aku bangga bahwa kalian tetap memelihara etos mahasiswa sebagai agent of change.

Sejak Plato mendirikan Akademi Athena (387 SM) di  zaman Yunani kuno, menghimpun tunas-tunas muda brilian dari berbagai wilayah laut Aegean yang berdekatan dengan Turki, pemuda adalah tumpuan bangsa dan negara.

Plato menyusun buku termasyhur Republik di sini, yang mengkaji filsafat dan politik dalam format dialog dengan gurunya Sokrates. Mata kuliah wajib di Akademi adalah matematika, dialektika, ilmu alam dan persiapan menjadi negarawan.

Maaf sebelumnya, bukan mau pamer. Aku dulunya seorang aktivis, dan sengaja atau tidak, kami mengikuti pola Plato.

Menjadi aktivis bukan hanya tentang berani bersuara dan mengkritik tapi juga tentang berilmu dan berwawasan luas agar suaramu tidak terdengar omong kosong. Tak peduli entah kamu aktivis mahasiswa, lingkungan atau perempuan.

Di jaman kami, malu rasanya menjadi aktivis mahasiswa tanpa wawasan. Etos agent of change hanya bisa direalisasikan bila banyak membaca, berdiskusi, dan praktik. Atau dalam terminologi Quranik disebut iqra.

Merenda Istimewanya Jogja
Republic Plato amat berpengaruh, sekelas Ibn Rusyd mengulasnya (bukukita.com)

Ada beberapa buku yang semacam ‘wajib’ dibaca sebagai kitab-kitab perjuangan.

Sabda Zarathustra-nya Nietzsche, filsuf dan sastrawan Jerman yang memberitahu mengapa kemerosotan (dekadensi) menghadang perubahan sosial sehingga diperlukan pembalikan nilai-nilai secara radikal. Ini mengingatkan kita pada semboyan ‘Revolusi Mental’. Salah satunya adalah menghajar sikap permisif pada korupsi dan kemunafikan religius!

Yang kedua, membongkar akar krisis global dan Das Capital karya Karl Marx. Buku ini menguliti modus operandi modal dan kelas sosial ‘beruntung’ dalam menindas dan mengeksploitasi sebagian besar warga negara dengan manipulasi kesadaran.

Yang ketiga, Negara dan Hegemoni yang ditulis Gramsci hingga pemikiran-pemikiran Suhrawardi, seorang pemikir dan filsuf iluminasi yang ditulis oleh Hozzein Ziai. Kita diajar menyadari bagaimana berbagai struktur sosial bisa meremukkan individu.

Merenda Istimewanya Jogja
Alm. Hossein Ziai, pakar Iluminasi Sohravardi serta guru besar Filsafat Islam dan Bahasa Persia di UCLA (Istimewa)

Keempat, Priorities of the Islamic Movements in the Coming Phase oleh Yusuf Qardawi, pentolan IM yang berkali-kali masuk penjara itu.

Dear Aktivis yang kukasihi,

Betul bahwa buku-buku yang kami baca memberi ragam sudut pandang. Akan tetapi, ada satu benang merah, satu kesamaan, yaitu semangat perubahan, tentang gerakan melawan ‘hegemoni’ untuk mendobrak kemapanan, dan cenderung beraliran kiri. Kami tentu membaca banyak surat kabar (bukan media abal-abal)  dan sumber-sumber lainnya, termasuk perundang-undangan.

(Baca juga: Spirit Jogja yang Tidak Bisa Dibuldozer: Kantin, Perlawanan Kethoprak dan Bonbin Reborn Jilid 2)

Aku ingat, banyak komunitas diskusi kampus yang digawangi oleh teman-teman. Penting bahwa pergulatan pemikiran dan dialektika pergerakan menjadi satu.

Yang paling ‘rupawan’ dalam proses ini adalah bahwa mahasiswa yang tumbuh dalam komunitas diskusi dan aktif dalam pergerakan bertransformasi menjadi individu humanis. Mereka bergerak dengan ide dan wacana yang matang, bukan hanya sekedar isu tak jelas.

Di kampus, senior juga memperkenalkan jargon cinta, buku dan pesta. Ini tentang persahabatan, pengetahuan, dan merayakan akal sehat. Menjadi mahasiswa itu bukan hanya tentang pergerakan dan buku tapi juga memaknai kegembiraan, persaudaraan dan kemanusiaan.

Merenda Istimewanya Jogja
Cintaku Di Kampus Biru, karya Ashadi Siregar, kisah romantika mahasiswa UGM (Istimewa)

Hasilnya tampak sekarang bahwa mereka yang dulu menghayati perannya sebagai aktivis dan bergelut dengan sungguh-sungguh dengan isu-isu disekitarnya paham di pihak mana dia harus berdiri saat ini. (Entah kalau mahasiswa yang dulu rutenya hanya kampus-kos, atau kampus-tempat hiburan-kos).

Dear Aktivis yang kukasihi dan kuandalkan,

Jelas, salah besar mengatasnamakan mahasiswa, apalagi se-Indonesia, hanya demi political gaining.  Salah besar! Mahasiswa itu nyaris sebuah kata sakral. Orang yang telah banyak membaca pasti malu asal garang. Ini soal masa depan bangsa dan negara.

(Baca juga: Membaca Pikiran, Afala Ta’Qiluun?)

Sejak Orde Baru, presiden terpilih dan berganti, aku melihat perubahan, perbedaan, dan pelbagai hasil pembangunan yang telah dilakukan pemerintahan Jokowi. Tak pernah kurasa begitu perlu untuk turun langsung, dan bersuara lantang membela seorang presiden yang telah mengembalikan harga diri bangsa di depan negara-negara  lain.

Tidak memilih Jokowi adalah hak asasi yang dilindungi Konstitusi. Tetapi, sengaja menghasut, sengaja memproduksi kebencian, sengaja berbohong berulang-ulang, sengaja mempromosikan hate speech, itu semua haram! Itu etos agent of chaos!

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Jumrana Sukisman, M.Sc.

Jumrana Sukisman, M.Sc.
Dosen Universitas Halu Oleo, Kendari - Aktivis Antihoax dan Fasilitator Perlindungan Anak - Sedang Doktoral di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean