Home / Headline / Part 1/2 – “Othering” dan Risiko Kebencian, Bagaimana Anda Menjadi Objek Kebencian?
Merenda Istimewanya Jogja
Hate atau kebencian (Ilustrasi/acikradyo.com.tr)

Part 1/2 – “Othering” dan Risiko Kebencian, Bagaimana Anda Menjadi Objek Kebencian?

Oleh: Mohd. Ruslani

Klaten, Jawa Tengah, Aquilajogja.com – Propaganda, hasutan, hoax, dan ujaran-kebencian (hate-speech) masih mewarnai sebagian besar media sosial kita hingga hari ini.

Kelompok-kelompok berseberangan tidak berdialog dengan argumen yang menyejukkan atau mencari titik temu, tetapi mengumbar kebencian lewat caci-maki dan oposisi biner hitam putih terhadap lawan. Terjadi peningkatan sejak 2014 hingga Pilkada Jakarta 2017, dan puncaknya mungkin menjelang Pilpres 2019.

Setiap orang bebas berpendapat dan beropini, termasuk bebas meyakini pendapat tertentu tanpa gangguan dan campur tangan pihak lain, serta berusaha mencari, menerima dan menyampaikan informasi dan gagasan melalui media apa pun tanpa batas.

Kebebasan berekspresi adalah hak mengekspresikan keyakinan, gagasan dan pendapat tanpa batasan tertentu.

Di sisi lain, watak ujaran kebencian membuatnya sulit didefinisikan secara tak ambigu. Ia adalah kata atau bentuk ungkapan yang dianggap mengancam, melecehkan, merendahkan, dan menebarkan kebencian, kecurigaan, dan permusuhan atas dasar politik, ras, etnis, agama, dan lain-lain.

Ujaran kebencian terkait dengan ekspresi politik yang bersumber dari anggapan orang lain sebagai liyan (other) yang mengancam keberadaan diri (self).

Tiga Macam Othering dan Ketimpangan Relasi

Pemberian identitas terhadap liyan (the other) sebagai lawan yang harus ditaklukkan, direndahkan, dan dikalahkan memunculkan apa yang disebut sebagai othering.

Crang dalam Cultural Geography (1998: 61) menjelaskan othering sebagai “proses pembangunan dan pemberian identitas melalui hubungan yang timpang.”

Othering merupakan konstruksi terus-menerus ihwal diri atau kelompok-dalam dan liyan (kelompok-luar) dalam hubungan oposisi yang timpang melalui identifikasi karakteristik-karakteristik yang serba-baik dan menguntungkan untuk diri dan kelompoknya. Sebaliknya, liyan dan kelompok lain ditempatkan sebagai kelompok yang memiliki karakteristik jahat, tidak baik, layak dicurigai, dibenci, bahkan harus dimusnahkan.

Merenda Istimewanya Jogja
Bagi Bunda Theresa dari Kalkuta, satu-satunya cara melintasi “othering” adalah dengan kasih (Istimewa)

Othering dibangun atas hubungan diri dan kelompok-dalam sebagai pihak yang superior, sementara liyan dan kelompok-luar sebagai inferior.

Ada tiga macam othering yang menempatkan liyan sebagai sesuatu yang negatif dan berada di luar diri.

Pertama, liyan sebagai individu yang lain, sebagai pikiran dan tubuh lain yang sebagian besar tidak dikenali oleh diri yang menafsirkan liyan tersebut. Inilah liyan dalam pemikiran Levinas (1948) yang berkaitan dengan konsekuensi-konsekuensi etis dari pertemuan yang tak terhindarkan dengan liyan yang absolut.

Levinas menjungkirbalikkan hubungan paradigmatik antara diri dan liyan dalam pemikiran Barat, di mana liyan sama sekali tidak memainkan peran yang signifikan, atau liyan direduksi menjadi musuh tanpa wajah (faceless enemy).

Menurut Levinas, negasi yang lazim dan solipsistik ini berakar pada rasa jijik untuk berdekatan dengan liyan. Rasa jijik itu sendiri lahir dari ketidakpahaman dan ketidakpedulian atas pemikiran orang lain.

Berbeda dengan liyan yang mangkir atau liyan sebagai musuh, liyan-nya Levinas adalah tetangga, orang lain yang dekat dan kenal dengan diri. Diri kita dimunculkan dalam kaitannya dengan liyan sebagai tetangga tersebut.

Dalam hubungan ini, diri bertanggung jawab terhadap keberadaan liyan, dan liyan juga bertanggung jawab terhadap keberadaan diri kita.

Kedua, liyan sebagai konstruksi yang bertentangan dengan diri, dan akibatnya, konstruksi tentang diri juga dipertentangkan dengan liyan. Jenis ini selalu berusaha mengambil jarak yang tidak bisa dijembatani antara diri dengan liyan.

Ada kategori-kategori, spesifikasi-spesifikasi, bahkan stigma dan stereotip yang menempatkan liyan berada di seberang sana, sebagai pihak yang senantiasa bertentangan dengan diri.

Bersambung ke Part-2.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Mohd Ruslani, S.Ag.

Mohd Ruslani, S.Ag.
Penulis & Penerjemah - Mantan Chief Editor Bentang Budaya & Qalam - Tim Penerjemah Ensiklopedi Filsafat & Spiritualitas Islam - UIN Sunan Kalijaga - Pernah Pascasarjana Ilmu Religi Budaya USD Yogyakarta **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapi klinis, SDM dan coaching. Sila WA 082135424879.

One comment

  1. menarik, menunggu elanjutan tulisan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean