Home / Headline / Kanker Menumpang untuk Membunuh Tumpangannya, Solo Waspada Kanker Terorisme
Merenda Istimewanya Jogja
Pusat kuliner Galabo merefleksikan wong Solo yang suka damai, bukan kekerasan yang disusupkan dari luar (penulispro.com)

Kanker Menumpang untuk Membunuh Tumpangannya, Solo Waspada Kanker Terorisme

Solo, Jawa Tengah, Aquilajogja.com – Terorisme tak ubahnya kanker yang ibarat menumpang untuk membunuh tumpangan atau inangnya. Sel-sel terorisme juga beradaptasi dengan kondisi-kondisi lokal, berubah dan berkembang dari satu pola ke pola lainnya menurut sejumlah indikator seperti kesamaan agenda dan perjuangan.

Sekretaris Kesbanglimas Jawa Tengah Suwondo mengungkapkan fakta mengerikan ini dalam diskusi “Saring Sebelum Sharing Literasi Digital Sebagai Upaya Pencegahan Radikalisme dan Terorisme di Masyarakat”, Solo, Senin (10/09/2018).

Yang tak kalah mengejutkan, Kota Solo merupakan salah satu dari 12 daerah zona merah penyebaran radikalisme dan terorisme di Indonesia. Tidak mengejutkan bila orang Solo terlibat dalam sejumlah kasus terorisme, baik sebagai pelaku maupun korban.

“Hal tersebut karena sejumlah kasus terorisme yang terjadi di Indonesia, baik pelaku maupun korban berasal dari Jateng khususnya Solo dan sekitarnya,” kata Suwondo.

(Baca juga: Lonceng Waspada Dibunyikan BNPT, 7 PTN Terkemuka Adalah Persemaian Radikalisme!)

Radikalisme mengembangbiakkan dirinya di berbagai wilayah Jawa Tengah melalui banyak organisasi yang ditengarai sebagai pengusung ajaran radikal. Bila Solo tergolong zona merah, Banjarnegara dan Banyumas tergolong zona kuning. Wilayah Kedu masih lumayan, baru sebatas embrio teror.

Masih menurut Suwondo, pelbagai sumber rekrutmen dari calon-calon teroris biasanya melibatkan ustaz yang terindikasi sebagai tokoh Jamaah Islamiyah (JI) dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT).

Solo, Banjarnegara, Banyumas dan Kedu membutuhkan perhatian ekstra. Bahaya mungkin mengintai Solo. Ledakan keji mungkin di ambang eksekusi.

Sel-sel kanker radikalisme dan terorisme sedang menyusup ke dalam kehidupan warga di Jawa Tengah. Tinggal tunggu waktu, bila dianggap soal enteng, masyarakat sebagai inang bakal melihat jatuhnya korban yang lebih banyak. Berbagai aksi persekusi atau kekerasan atas nama agama atau moralisme dangkal mungkin mengalami peningkatan ke depannya.

Sebagai langkah antisipatif, keamanan dan ketertiban masyarakat, komunikasi, serta koordinasi yang baik antar berbagai pihak harus dilakukan dengan teratur. Termasuk mengintensifkan dialog-dialog lintas agama.

(Baca juga: Dakwah Menjadi Da’wah: Perjumpaan Katolik dan Islam di Pesantren Dalwa, Pasuruan)

Komunikasi juga harus dilakukan dengan Badan Nasional Pencegahan Terorisme (BNPT). Kepala Seksi Partisipasi Masyarakat BNPT Letkol Laut Setyo Pranowo yang turut hadir dalam acara di atas menegaskan bahwa pihaknya terus memberi edukasi tentang bahaya terorisme. Pihaknya menjalin kerja sama dengan 36 kementerian dan lembaga pemerintah sebagai tindakan preventif terhadap adanya penyebaran radikalisme.

Tidak ada ruang bagi dalih kecolongan!

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Admin

Admin
‘Kodok melihat dari bawah, manusia memandang dari daratan, mata Aquila (Rajawali) mengamati dari angkasa. Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapi klinis, SDM dan coaching. Sila WA 082135424879.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean