Home / Mutiara Iman / Istimewanya Nusa Dua Bali, 5 Rumah Ibadat Berdampingan Tanpa Mengusik
Merenda Istimewanya Jogja
Pemberkatan nikah di Gereja Katolik, Pusat Peribadatan Puja Mandala, tak terusik dan tak mengusik (dok. pribadi)

Istimewanya Nusa Dua Bali, 5 Rumah Ibadat Berdampingan Tanpa Mengusik

Oleh: Christiana

Nusa Dua, Bali, Aquilajogja.com – Istimewanya Bali, satu dari segelintir pulau wisata paling ‘komplet’ sedunia, mendapat tempat khusus di hati pelancong. Aku pun menyukai negeri seribu pura yang selalu mengingatkan bahwa Nusantara dibangun di atas fondasi Hinduisme (dan Buddhisme).

Orang-orang kerap berdecak kagum saat menikmati indahnya pemandangan alam Nusa Dua. Apalagi ada marker, penanda religi, yang biasanya tidak bakal dilewatkan. Namanya Pusat Peribadatan Puja Mandala.

Puja Mandala terdengar sangat Sansekerta dan menggambarkan kebinekaan Indonesia. Di sana, lima tempat ibadah dibangun berdekatan: pura, gereja, vihara dan masjid.

(Baca juga: Prinsip Pro-eksistensi dalam Masyarakat Majemuk)

Lima agama koeksis tanpa ada yang merasakan terpinggirkan. Umat bahkan beribadah di jam-jam yang hampir bersamaan. Seperti di hari Minggu, umat Katolik dan Kristen Protestan beribadat di gereja masing-masing. Dan sering di masjid berkumandang ayat-ayat suci Alquran, pertanda umat Islam sedang mengadakan pengajian.

Tidak ada yang merasa terusik; tidak ada yang merasa harus mengusik.

Di Boyolali, Jawa Tengah, ada juga pusat peribadatan lima agama. Tempatnya di daerah Mojosongo yang terletak di dalam  kompleks perkantoran Pemerintah Kabupaten  Boyolali. Bangunan-bangunan peribadatan dibangun untuk mewujudkan kerukunan antar umat dan agar masyarakat mudah beribadah, khususnya para pegawai.

Merenda Istimewanya Jogja
Pusat Peribadatan Puja Mandala Nusa Dua Bali (Istimewa)

Agama di Indonesia masih sering menjadi polemik bagi sebagian masyarakat. Banyak orang meyakini bahwa agama dia paling benar, paling bagus dan paling layak diikuti. Sampai di sini sangat wajar dan sudah semestinya.

Celakanya, ada sejumlah pihak yang memaksakan orang lain untuk mengikuti agamanya dengan berbagai cara dan dalih pembenar. Ada cara halus merayu, ada juga menggunakan kekerasan bahkan ancaman.

Aku berdiri memandang komplek pusat peribadatan lima agama di Nusa Dua, Bali. Hatiku seakan membumbung ke angkasa, sangat terharu melihat Nusantaraku dalam tiap sembahyang.

Merenda Istimewanya Jogja
Gereja berdiri dengan layak dan terlebih, aman (dok. pribadi)

Teringat berbagai kasus intoleransi, sebagian diikuti kekerasan dan arogansi beragama. Apakah umat beragama sampai harus mencontoh benda mati?

Tempat-tempat peribadatan di Puja Mandala bisa berdiri berdampingan. Kita manusia yang dikaruniai akal dan budi, bukankah harusnya bisa lebih selaras dan berdampingan?

(Baca juga: Indonesia akan Bubar 2030? Ketrampilan Mengolah Pengalaman Negatif)

Bangsa Indonesia dianugerahi pelbagai perbedaan, termasuk agama. Umat beragama harus bisa memberi contoh dan teladan mengenai kerukunan dan toleransi, bahwa kebersamaan itu selalu lebih baik daripada perpecahan.

Aku pikir semua diawali dari ketulusan untuk saling menghormati dan mengasihi dalam spirit toleransi kebangsaan. Tidak ada jalan lain, kecuali perbedaan justru dianggap kutuk. Bangsa besar mengisyaratkan jalan beriring serta gandeng tangan. Perbedaan harus dinegosiasikan secara kreatif.

Jalanku perlahan untuk meresapi iringan harmoni di depanku. Istimewanya Bali memang sangat komplet.

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Christiana

Christiana
Yayasan Sosial Soegijapranata Semarang, Jawa Tengah **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapi klinis, SDM dan coaching. Sila WA 082135424879.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean