Home / Headline / Part 1/3 – Boru Batak Menari di atas Motor KLX demi Festival Ndambu Kimaam, Papua

Part 1/3 – Boru Batak Menari di atas Motor KLX demi Festival Ndambu Kimaam, Papua

Oleh: Julia Marbun & Rudy Ronald Sianturi

Kimaam, Merauke, Papua, Aquilajogja.com – Aku boru Batak yang biasa manortor, tetapi bukan ‘goyang pinggul abadi’ di atas boncengan motor KLX yang terseok-seok menembus tebalnya pasir.

Senja telah menggantung di ufuk barat. Kami memacu motor melawan waktu seperti Jakarta yang bergegas tak mau terjebak macet tak terurai. Garis pantai melengkung hingga jauh ke sana, justru sepi yang kudapat. Ombak-ombak bertari, deburnya bertarung dengan tabrakan kesiur angin pada helm yang kupakai.

Kami dalam perjalanan menuju Pulau Kimaam, Merauke, sebuah petualangan penuh risiko demi Festival Ndambu. Acara tahunan ini melombakan hasil panen di antara masyarakat adat Khima Khima. Sebuah kebijaksanaan lokal yang melerai konflik di antara mereka dengan menjadi manusia penghasil panen terbaik (prestasi) dan bermartabat luhur (prestise).

(Baca juga: Dancing On The River, Tantangan Merah Merona dalam Putih Melayani)

Kota Merauke adalah titik keberangkatan menuju Kimaam. Kami harus melintasi  4 distrik sekaligus, yaitu Distrik Semangga, Distrik Malind, Distrik Okaba dan Distrik Tubang. Motor harus menerobos darat dan menyeberang laut yang sewaktu-waktu mengganas. Jalan sangat bervariasi, dari aspal mulus, berlobang, berpasir tebal, berawa-rawa hingga hutan pohon-pohon bus. besar.

Merenda Istimewanya Jogja
Mengaso di Okaba setelah tarian pasir tebal sambil tunggu motor diengkol (dok. pribadi)

Pelukan pasir kian mendebarkan hati sepanjang Kampung Okaba ke arah pesisir Wambi bawah. Sulit menepis pikiran kuatir kalau motor mendadak rewel, mogok, tepat di pesisir pantai. Ibarat terdampar di pucuk bukit sebuah padang pasir!

Berpacu bukan hanya dengan waktu, tetapi juga dengan alam. Laut sudah mengatur bahwa waktu bermotor hanya saat ia mengaso. Akan sangat mengerikan bila masih tengah-tengah pasir berkilometer ketika air laut keburu naik. Ada 4 tanjung yang harus dilalui sebelum matahari tenggelam. Dan semesta hanya menyediakan bulan sebagai lampu malam.

(Baca juga: Surat Cinta Putra Batak-Merauke yang Bekerja di Asmat untuk Pakde Jokowi)

Motor tumpanganku seakan mengeluh capai dicengkeram  pasir pantai yang kian menebal. Lambai Tortor tidak mempan di sini. Hanya kegigihan Kaki X, tari khas suku Asmat yang memantul-mantul seraya kedua kaki mengibas dalam dan luar. Seperti kata pepatah, when in Rome, do as the Romans do.

Merenda Istimewanya Jogja
Melawan waktu dan alam demi panenan di Festival Ndambu, Kimaam (dok. pribadi)

Jantungku memompa darah dengan cepat seiring kuatir di benak. Akan tetapi, hidup selalu merenda keseimbangan. Di saat yang sama, boru Batak dari atas boncengan motor KLX sepanjang pesisir sangat menikmati cantiknya matahari terbenam pelan-pelan. Berapa orang di dunia, di antara 7 miliar manusia, yang pernah mengalami istimewanya pacuan senja bersama ombak?

(Baca juga: Gadis Nusantara Asal Biak, Papua, Merenda Istimewanya Pantai Owi)

Anganku kembali buyar, roda depan motor menikung sendiri saking tebalnya pasir.

Perjalanan adalah fitrah manusia, tak mungkin berdiam saja. Aku harus menyelesaikan etape ini, sebab hadiah menakjubkan di sana menanti. Festival Ndambu, goyang pinggul penari-penari Papua yang begitu dinamis dan wangi hasil panen terbaik di Pulau Kimaam mengalahkan setiap hambatan.

Motor kembali menggeram – ganas dan tanpa ragu. Bersambung ke Part-2.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Julia Marbun, S.T.

Julia Marbun, S.T.
Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke - Teknik Lingkungan Institut Teknologi Surabaya **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapis klinis, SDM dan coaching. Sila WA 082135424879.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean