Home / Catatan Jurnalis / Tantangan bagi Koalisi Prabowo, Rejomulia Jogja Menghadirkan Lele ke dalam Politik
Merenda Istimewanya Jogja
Andong adalah ikon Jogja yang sarat pesan kerakyatan. Siapa yang akan menghadirkannya ke dalam politik secara sehat? (Christiana)

Tantangan bagi Koalisi Prabowo, Rejomulia Jogja Menghadirkan Lele ke dalam Politik

Rudy Ronald Sianturi | Catatan Jurnalis

Jogjakarta, Aquilajogja.com  – Jogja istimewa karena sejarah, atmosfer spiritual, kuliner, seni dan warga saling mengekspresikan. Siangnya turis naik tangga Borobudur, malamnya makan di warung lesehan. Malamnya menonton Sendratari Ramayana Prambanan, paginya menemukan Sinta dan Arjuna di kaos, ukiran atau cendera mata di pelataran Malioboro.

Jogja adalah ekspresi kultural hingga di gang-gang kampung, begitu kesan yang dibawa pulang pelancong.

Ikan lele adalah satu bentuk kehidupan khas Jogja karena lekat dengan imaji kota, lesehan, sambal, akrab suasana, nyanyi pengamen atau penggunaan bahasa Jawa dalam transaksi.

Rejomulia (Relawan Jokowi KH. Ma’ruf Amin Untuk Kemuliaan Indonesia) rupanya menangkap esensi Jogja. Komunitas ini dideklarasikan tanggal 12 Agustus 2018 di bekas rumah pondokan Jokowi, Jalan Menur 25, Baciro, saat kuliah di Fakultas Kehutanan, UGM Yogyakarta, . Setidaknya ada 100 orang tokoh masyarakat lintas kalangan, mulai dari aktivis, cendekiawan, ulama, jurnalis, pebisnis, dan banyak lainnya yang bergabung di dalamnya.

Merenda Istimewanya Jogja
Mancing Massal Jogja (Widihasto Wasana Putra)

Strategi pemenangan yang dianut berbasis kerakyatan, yaitu gerakan kebudayaan dan ekonomi di tingkat akar rumput. Jogja sekali!

Dalam bahasa lain, Rejomulia mengkapitalisasi Jogja sebagai ekspresi kultural yang bergaung melampaui wilayah hingga ke pelosok-pelosok Nusantara. Ia menyadari bahwa apa yang dilakukan Jogja pasti menarik bagi siapa saja.

Guyub, lesehan dan lele, dalam format mancing massal, lalu dibawa ke Selokan Mataram yang telah menghidupi pertanian dan masyarakat selama ini. Kelindan sejarah dan watak Jogja diramu, dipancing, difasilitasi, di saluran irigasi yang mengular menjangkau desa-desa.

Merenda Istimewanya Jogja
Persiapan di berbagai titik pemancingan (Widihasto Wasana Putra)

Adalah tanggal 5 September 1945, sebuah peristiwa bersejarah kala NKRI masih seumur jagung. Penguasa Jogja mengeluarkan “Amanat” bergabungnya Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman ke Republik Indonesia. Suntikan politik sangat besar bagi Republik muda!

Selokan Mataram dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, salah satu tokoh utama di balik Amanat 5 September 1945. Maka mancing massal bukan hanya memperingati momentum bersejarah, namun merenda istimewanya Jogja dalam bingkai nasionalisme tanpa pamrih, sesuatu yang bergaung kuat dalam politik kontemporer Indonesia.

(Baca juga: Di Kampung Mataram Jogja Multikultural, Habis Mancing Terbitlah Melukis)

Sangat kreatif serta mulia bagi siapapun yang mengkapitalisasi kultur lokal dalam bingkai kebangsaan! Gerakan politik yang menyehatkan bagi yang mendukung maupun tidak mendukung Jokowi-Ma’ruf. Sekaligus, tantangan bagi koalisi Prabowo untuk menghadirkan kecerdasan kultural serupa, bukan mengandalkan retorika-retorika yang mengandung hasutan, politisasi agama dan marah-marah.

Merenda Istimewanya Jogja
Panitia dan warga mempersiapkan Mancing Gratis Geerrsama (Widihasto Wasana Putra)

Acara digelar Minggu 9 September 2018, mulai pukul 09.00 – 17.00 di 14 titik spot pancingan di Selokan Mataram, yakni Banyurejo, Beluran, Barongan, Margoluwih, Mayangan, Kutu Asem, Kutu Dukuh, Barek UGM, Pringwulung, Pringgolayan, Kledokan, Babarsari, Pugeran dan Sanggrahan Maguwo. Total ikan yang ditebar sebanyak 10 ton ikan lele.

Kegiatan ini terbuka bagi siapa saja dan tidak perlu mendaftar. Peralatan mancing dan umpan disediakan sendiri. Tidak diperkenankan menyetrum, menjaring, menembak dan menggunakan obat. Ini bukan perlombaan bahkan bukan dimaksudkan sebagai kampanye, tetapi perjumpaan rakyat lintas SARA.

Politik diperlukan untuk membangun masyarakat beradab, tetapi harus politik sehat yang mengandalkan inovasi, kompetisi dan program kerja. Rejomulia Jogja berpartisipasi dalam hasrat kolektif dengan menghadirkan budaya ke dalam politik.

Mengutip KH. Masrur Ahmad MZ, Ketua Rejomulia yang juga pengasuh Pon Pes As Salafiah Al Qodir Cangkringan Sleman, “Memancing adalah aktivitas yang sangat populer, murah meriah, merakyat serta digemari masyarakat lintas usia dan kalangan. Dan ini sesuai  visi Jokowi yang juga konsen terhadap hal-hal bersifat merakyat.”

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Rudy Ronald Sianturi M.Hum.

Rudy Ronald Sianturi M.Hum.
Owner & PEMRED Aquilajogja.com - Univ. Sanata Dharma, Yogyakarta - Asia Research Institute, National University of Singapore - Doctoral Courses De La Salle Univ., Filipina - Memberi pelatihan/konsultasi berbasis SDM, coaching, terapi klinis dan menulis (WA: 082135424879)

2 comments

  1. Jogja memang selalu kreatif. Empat tahun kuliah saya memakai Sandal hasil kreativitas Jogja.
    Janganlah pengaruh politik transaksional ketenangan Jogja digadaikan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean