Home / Terbaru / Lonceng Waspada HIV/AIDS, Jogja Istimewa Panen 4472 Kasus
Merenda Istimewanya Jogja
Penyebaran HIV/AIDS di Jogja harus dicegah, sedang penderitanya harus diberi support (Istimewa)

Lonceng Waspada HIV/AIDS, Jogja Istimewa Panen 4472 Kasus

Oleh: Avalo Potalaka

Jogjakarta, Aquilajogja.com – HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah penyakit yang ditandai dengan menurunkan kekebalan tubuh seseorang sehingga memudahkan terjadinya infeksi virus. Ada tidaknya hanya bisa diketahui lewat tes laboratorium dan bisa dilakukan di berbagai Puskesmas yang ada.

Bila ternyata positif, penderita akan diarahkan menjalani terapi dan bisa menjalani hidup seperti biasanya.

Akan tetapi, masalahnya ternyata kompleks. Kurangnya informasi sering menimbulkan rasa takut berlebihan. Selain itu, stigma sosial justru mengurungkan niat memeriksakan diri.

(Baca juga: Menghapus Stigma Merajut Asa, Kasus HIV/AIDS di Papua dan Bom Waktu Genosida)

Jogja sangat ramai lalu lintas manusia dari berbagai penjuru tanah air dan dunia. Ia mesti menyadari mudahnya virus HIV keluar masuk berbagai wilayah di Kota Pendidikan.

Fakta yang disampaikan Setyarini Hestu Lestari, Kepala Seksi Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan DIY,  membunyikan lonceng waspada. Secara kumulatif sejak tahun 1993, Jogja mencatat  4472 kasus HIV. Sebanyak 1654 diantaranya sudah tahap AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome).

Angka di atas sebaiknya diasumsikan belum final, dan mungkin saja lebih tinggi dalam kenyataannya. Setyarini menyebut angka 315, dominan adalah laki-laki, adalah total penderita baru HIV Jogja 2018. Sebanyak 39 sudah menjadi AIDS.

Dibandingkan 2017 yang ‘hanya’ mencatat 398 kasus, 27 diantaranya sudah AIDS, kita sedang menyaksikan terjadinya lonjakan kejangkitan HIV yang mencolok. Kewaspadaan sifatnya tak bisa ditunda!

Lonceng peringatan berbunyi makin kencang bila menyadari bahwa kebanyakan penderita di rentang usia 20-29 tahun (1402 kasus) dan rentang usia 30-39 (1229 kasus). Apalagi mengingat bahwa  tahun ini, mahasiswa (739 kasus) ‘menang’ atas swasta (667 kasus). Ini sebuah pembalikan yang mendirikan bulu roma dibanding 2017 saat swasta menempati posisi pertama.

(Baca juga: Go Sahaja, Istimewanya Jogjakarta Wajib Pernikahan Usia Dewasa)

Adanya peningkatan kasus HIV di Kabupaten Sleman memberi gambaran skala lokal. Hingga Agustus 2018, setidaknya  terdapat 42 penderita baru.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Dulzaini menyebutkan akumulasi kasus HIV di Sleman pada angka 987. Jumlah tersebut merupakan gabungan kasus HIV sebelum tahun 2017 (840 kasus), tahun 2017 (105 kasus) dan tahun 2018 (42 kasus).

Sleman membayangi Kota Jogja di posisi kedua, diikuti Bantul di posisi ketiga.

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Avalo Potalaka

Avalo Potalaka
EDITOR Aquilajogja.com - "Kodok melihat dari bawah, manusia memandang dari daratan, mata Aquila (Rajawali) mengamati dari angkasa. Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapis klinis, SDM dan coaching. Sila WA 082135424879.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean