Home / Headline / Dosen UKSW Melampaui Sungging Senyum Berkat Pengamen dan Tukang Kebun
Merenda Istimewanya Jogja
Ilustrasi bunga (dok. pribadi)

Dosen UKSW Melampaui Sungging Senyum Berkat Pengamen dan Tukang Kebun

Oleh: Suzana Maria L.A. Fajarini, M.Hum.

Salatiga, Jawa Tengah, Aquilajogja.com -Aku masih mengenali wajahnya meskipun tahun-tahun telah berlalu. Anggota lima pengamen yang menghibur di rumah makan lesehan yang dulu biasa kukunjungi, dia sudah orangnya.

Kepala menggerak angguk kecil, mulut merekah senyum kepadaku. Ah, dia masih mengenalku. “Saya tidak cari duit dengan menyanyi lagi, Mbak. Inilah sekarang yang saya kerjakan.” katanya seakan membaca tanya di pikiranku.

Manusia punya cara menyatakan pengertian, biasanya dengan senyum. Wajahku merekah senyum, seraya layangkan pandangan ke tanaman-tanaman dalam pot yang tampak terawat dan tumbuh subur. Beberapa bunga mekar bergerombol membuat jatuh hati.

“Kenapa gak tetap menyanyi, Pak?” tanyaku sejurus kemudian. Kepalanya tertunduk memandang kedua tangannya yang digosok-gosokannya untuk membersihkan tanah menempel.

“Teman-teman yang dulu sudah tersebar ke mana-mana. Satu meninggal karena kecelakaan. Saya gak bisa menikmati nyanyi sendirian.”

Hanya kebisuan sesudahnya di antara kami. Lelaki itu melanjutkan, “Rumah makan lesehan itu juga sudah sepi, kalah bersaing dengan yang lain-lain. Yang datang makin hari makin sedikit.”

Aku mengangguk-anggukkan kepala. “Tapi pekerjaan Bapak bagus sekali,“ pujiku tanpa bermaksud berbasa-basi. “Lihat tanaman-tanaman ini, subur-subur dan cantik-cantik.”

Dia tertawa lebar tanpa suara. Giginya terlihat, sedikit kehitaman. “Saya dulu kan lulusan sekolah pertanian, Mbak, tapi lebih senang menyanyi,” jelasnya.

“Aaah, pantas saja,” jawabku.

Jelaslah lelaki ini bertangan dingin – seperti yang sering dikatakan ibuku – yang membuat tanaman-tanaman itu terawat dan tumbuh sehat.  Aku bisa memperkirakan pemilik kebun yang menjual bunga dan tanaman hias di mana lelaki ini bekerja puas dengan hasil kerjanya.

Kamera mengeluarkan dirinya. “Boleh?” pinta tanya. Keindahan di depan mata, masa boleh dilewatkan?

Dia kembali melakukan yang dilakukan manusia damai: senyum.

Dia tersenyum sambil mengembangkan kedua tangannya sebagai tanda mempersilahkan aku memotret. Beberapa waktu aku asyik sendiri dengan kegiatanku. Kudengar suara langkahnya menjauh dan ketika sempat kutengok sepintas, dia sudah sibuk lagi dengan sekop dan pot-pot bunganya.

Setelah puas memotret aku berjalan mendekatinya. Lelaki itu tampak tekun dan sungguh-sungguh bekerja meskipun udara begini panas. Keringatnya membasahi wajah dan lehernya. Kaos setengah tua yang dipakainya menempel  di punggungnya oleh keringat. Seakan atlet Asian Games 2018 sedang merayakan passion di sepanjang rute berlari.

“Jadi Bapak sama sekali tidak menyanyi lagi?” tanyaku. Aku ingat suaranya empuk dan bagus, mirip suara penyanyi favoritku. Bersama temannya, mereka berdua menjadi leading singers, sedangkan tiga anggota yang lainnya menjadi backing vocal.

Dipadatkannya tanah di dalam pot itu pelan-pelan dengan sebelah tangan sambil tangannya yang satu lagi memegangi batang kamboja yang diurugnya .

Merenda Istimewanya Jogja
Telaga (brahmana) menikahi pria sudra, dan akhirnya jadi sudra. Ibunya (sudra) menikahi brahmana demi status (Istimewa)

“Sudah jarang, Mbak. Paling-paling kalo ada teman mengajak menyanyi di acara pernikahan. Gak sering-sering. Kalah juga sama yang muda-muda”

“Bapak lebih suka menyanyi atau berkebun seperti ini?” tanyaku hati-hati. Tak sampai hati mengatakan ‘lebih suka mengamen atau jadi tukang kebun’ kepadanya.

Lelaki itu tertawa lebar, kali ini dengan suara. Dia telah melangkah melebihi sungging senyum.

Cukup lama dia tertawa sampai kemudian dia menghapus setetes air yang keluar di sudut matanya. Hatiku tercekat. Apakah sudah melukai hatinya?

(Baca juga: Paska Gempa Lombok, Pantai Kuta Menyisakan Kesunyian yang Membunuh)

Setelah tawanya terhenti, dia menatapku dan berkata , “Saya ngamen untuk makan. Saya berkebun pun untuk makan. Saya punya keluarga. Anak-anak harus sekolah.”

Aku terdiam. Aku ingat sebaris kalimat yang mengatakan: orang pesimis seringkali menyalahkan keadaan, orang optimis mengharapkan keadaan akan berubah, orang yang realistis akan menyesuaikan diri dengan keadaan apapun untuk bertahan.

Lelaki ini dia tidak menyesali kenapa rumah makan itu menjadi sepi. Dia tidak berharap yang terlalu muluk dan tidak bisa dijangkaunya. Dia beradaptasi, berubah haluan demi mempertahankan asap dapur rumah tangganya.

Tangannya yang dulu bersih memetik gitar bas, sekarang kotor memainkan sekop dan cangkul di kebun penjualan tanaman hias ini. Kendati demikian, dia tidak menyesali keadaan. ‘Pekerjaan kotornya’ dilakukan dengan senang hati dan penuh tanggung jawab. Itu terbukti dari tanaman-tanaman yang dipeliharanya.

Orang lain mungkin merasa turun kasta dalam anggapan tanah itu tergolong ‘sudra’ yang tak patut. Tak heran bila petani kurang dihargai di negeri ini. Beliau justru memilih turun, dan karenanya menaiki cinta ‘brahmana’.

Ah, aku teringat Telaga dalam novel Tarian Bumi yang ditulis Oka Rusmini. Dia putri seorang bramana (kelas tertinggi) tetapi memilih Wayan Sasmitha dari kalangan sudra (kelas terendah). Hal terlarang, tetapi cinta ditakdirkan melanggar penggolongan sosial!

Tadinya jatuh cinta aku pada bunga-bunga di dalam pot itu, kini jatuh hati pada kisah lelaki yang bahkan namanya pun tak kuketahui. Kalau sebuah sumur, air di dalamnya pasti setara kehidupan.

(Baca juga: Dosen UKSW Salatiga Menemukan Sebotol Air Kehidupan)

Pulang dengan tujuh pot tanaman hias, rangkaian kata berputar-putar di kepalaku untuk segera dituliskan. Benar juga kata-kata yang dikutip oleh seorang kawanku ‘pesimis melihat kesulitan dalam sebuah kesempatan, optimis selalu menemukan celah dalam suatu kesulitan’.

Hari ini aku belajar satu nilai kehidupan lagi. Dia mengajarkan aku untuk berani melampaui sungging senyum.

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Punya pengalaman unik, klik di sini ya

About Suzana Maria L.A. Fajarini, M.Hum.

Suzana Maria L.A. Fajarini, M.Hum.
Dosen UKSW Salatiga - Penghobi Fotografi dan Buku - Universitas Sanata Dharma Yogyakarta **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapi klinis, SDM dan coaching. Sila WA 082135424879.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean