Home / Headline / Hashtag Serupa #2019GantiPresiden Terkait Chaos Suriah, PKB dan Gerindra Sensitif Sejarah
Merenda Istimewanya Jogja
Politisi PKB Abdul Kadir Karding (dok. pribadi/Istimewa)

Hashtag Serupa #2019GantiPresiden Terkait Chaos Suriah, PKB dan Gerindra Sensitif Sejarah

Jakarta, Aquilajogja.com  – Bangsa sebesar Indonesia yang sangat majemuk semestinya berperilaku dewasa. Salah satu ukuran kedewasaan adalah kapasitas untuk belajar dari sejarah, baik masa lampau maupun berbagai peristiwa terkini yang mengubah tatanan global.

Politisi yang negarawan wajib memiliki sensitivitas sejarah. Pernyataan Abdul Kadir Karding, Sekjen PKB sekaligus Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma’ruf Amin, terlepas dari afiliasi politiknya, mengilustrasikan pentingnya wawasan sejarah dalam berpolitik.

Hari ini di Posko Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (28/8/2018), beliau menanggapi positif niat Gerindra mengganti #2019GantiPresiden menjadi #2019PrabowoPresiden. Hal ini ada kaitannya dengan kehancuran Suriah dalam perang saudara berkepanjangan yang masih berlangsung hingga sekarang.

(Baca juga: Matematika Politik Nasional, Apakah Kita Siap Menjadi Masyarakat Negatif?)

“Hashtag ganti presiden itu pernah dipakai di Suriah. Kenapa Suriah kacau, itu karena pakai hashtag itu ganti presiden, dan ganti presiden itu maknanya macam-macam. Jadi saya kira memang bagus sudah kalau pasangan calon di sebelah mengganti hashtag itu,” tegas Karding.

Dalam catatan beliau, hashtag serupa #2019GantiPresiden ada sejak 2011 di Suriah dan menjadi salah satu alasan kacaunya negara itu.

“Oh iya, itu terjadi di Suriah tahun 2011 dan kenapa Suriah kacau, salah satu faktornya adalah hashtag ini dikapitalisasi, lalu kelompok yang ingin mendirikan khilafah mengkapitalisasi sehingga terjadi seperti Suriah hari ini,” katanya lagi.

(Baca juga: Intelektual Muslim Berjilbab Menelusuri Jejak Perselingkungan Wahabisme dan Politik Saudi)

Karding sempat menyinggung adanya strategi khusus yang akan diambil oleh koalisi Jokowi untuk melawan gerakan #2019GantiPresiden itu. Akan tetapi, beliau tidak mengelaborasi lebih jauh.

Gerakan #2019GantiPresiden yang diinisiasi PKS, salah satu partai koalisi Prabowo-Sandi, secara konsisten menuai badai penolakan di berbagai tempat seperti Batam, Bangka, Riau dan Surabaya. Ini sangat tidak kondusif, bahkan sifatnya destruktif terhadap kerukunan bangsa dan menimbulkan pesimisme akan pentingnya politik (dan politisi) bagi kehidupan normal sehari-hari.

Kubu Jokowi menilai hashtag ganti presiden  tidak memiliki hal yang positif untuk rakyat justru karena tertulis ganti presiden, padahal notabene presiden merepresentasikan simbol negara.

“Kita lebih khawatir kepada rakyat, jangan sampai bentrok. Hashtag itu nggak memberi kenyang, hashtag itu tidak memberi rakyat Indonesia lebih baik ke depan,” ungkap Karding.

“Satu-satunya kekhawatiran kita adalah di tingkat arus bawah terjadi chaos karena penolakan terhadap hashtag itu yang dibarengi dengan gerakan politik oleh beberapa orang itu cukup kuat penolakannya dan itu yang kita khawatir masyarakat chaos, terbelah, dan akhirnya mengganggu stabilitas keamanan kita,” jelas Karding.

Belajar dari berbagai pro kontra yang timbul di berbagai daerah yang berujung kisruh, politisi harus menyadari bahwa kata dan tindakan mereka punya dampak terhadap atmosfir politik yang aman dan damai jelang pilpres 2019.

Atau sejarah akan menuntut pertanggungjawaban – dengan keras!

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Avalo Potalaka

Avalo Potalaka
EDITOR Aquilajogja.com - "Kodok melihat dari bawah, manusia memandang dari daratan, mata Aquila (Rajawali) mengamati dari angkasa. Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapis klinis, SDM dan coaching. Sila WA 082135424879.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean