Home / Catatan Jurnalis / Terjungkalnya Gepolo Prambanan di Jogja, Arca Ganesha Menandai Budi yang Merosot
Merenda Istimewanya Jogja
Rsi Agastya yang disebut juga reco Gupolo di lokasi bekas Kampung Gepolo, Prambanan, Sleman (Tribun Jogja/Setya Krisna Sumargo)

Terjungkalnya Gepolo Prambanan di Jogja, Arca Ganesha Menandai Budi yang Merosot

Rudy Ronald Sianturi | Catatan Jurnalis

Gepolo, Prambanan, Jogjakarta, Aquilajogja.com – Sesuatu bisa lenyap di tahun 1955, tetapi memori memelihara eksistensinya hingga ditemukan kembali dengan pemaknaan yang berbeda. Kita bisa membingkai ‘penjaga’ sebuah kampung dengan begini.

Hujan mengguyur deras selama tiga hari, tak lagi anugerah bagi Kampung Gepolo, Prambanan, Jogjakarta. Air meluncur deras dari puncak bukit, lalu lenyap tak berbekas masuk ke ceruk tebing. Tak disangka, tanah yang subur mulai merekah dan bergerak seperti lapisan es di permukaan Antartika.

Kehidupan yang tadinya dalam harmoni dengan alam mendadak panik. Seseorang bagai menebas di bawah bumi, berkali-kali sehingga tanah pindah tempat hingga mencapai bibir jurang. Seisi kampung ikut terseret, lalu terjungkal ke dasarnya.

Warga pedusunan yang jumlahnya puluhan bergegas menyelamatkan diri, berlarian membawa harta benda yang teraup tangan. Rumah-rumah berdinding bambu atau gedhek, sedang atapnya dari rumbia atau alang-alang, terpaksa direlakan pergi bersama alam yang menukik turun.

Kampung Gepolo lenyap, Republik baru berumur 10 tahun. Jejak-jejak kehidupan musnah. Kisah yang tersisa diceritakan turun-temurun. Seluruh warga bedol desa, migrasi massal ke berbagai wilayah sekitar.

Sebuah arca besar, Ganesha sang gajah bersila bertelinga besar, simbol hati yang mendengarkan, kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan, ikut terseret.

(Baca juga: Sultan Jogjakarta Menolak Jalan Tol, Sebuah Kearifan Kultural Tanpa Membangkang)

Dokumentasi akan keberadaan arca Ganesha termuat dalam laporan tim peneliti Puslit Arkenas dan Suaka Peninggalan Purbakala tahun 1985 saat meneliti Candi Sari Sorogedug atau sekarang dikenal dengan nama Candi Barong. Pedestal atau dudukan arca berukuran 10×10 meter.

Hingga tahun 60an, berdasarkan kesaksian warga setempat, arca masih berada di atas tebing, dekat sebuah mata air. Sudah itu, terjungkal terbawa tebing longsor.

Merenda Istimewanya Jogja
Arca Ganesha yang ditemukan komunitas Kandang Kebo (Tribun Jogja/Setya Krisna Sumargo)

Kampung Ngglundeng yang muncul sejak 1955/1956 adalah salah satu kampung yang dibangun eks warga Gepolo. Terdengar mirip kata “ngglundung” (menggelinding), seakan penanda historis keterjungkalan.

Keterjungkalan rupanya bagian dari siklus kehidupan. Tak disangka, kala saksi mata peristiwa naas 53 tahun lalu tersisa segelintir, sang Ganesha muncul kembali seakan telah ditakdirkan.

Komunitas Kandang Kebo tanpa sengaja menemukan Ganesha pada 15 Agustus 2018 saat merambah situs Gupolo yang berada dekat jalur ke arah wisata Tebing Breksi dan Candi Ijo. Gupolo adalah sebutan bagi arca raksasa Agastya (Siwaisme) yang jadi ikon di bekas Kampung Gepolo ini.

Ganesha terjungkal dan tertahan di lereng jurang di sisi selatan atau barat daya. Lokasinya cukup sulit dijangkau, tetapi tidak bagi yang mau menguak sejarah dalam ingatan kolektif.

Seketika “geger”, membangkitkan kembali memori mencekam. Kisah-kisah yang selama ini hanya diceritakan, dan kian sayup di tengah gemuruh dunia media sosial yang telah merampas daya hening banyak orang, menjadi valid bersama kebangkitan Ganesha.

Dalam tradisi Hindu, Ganesha adalah dewa pengetahuan. Gajah terkenal kecerdasannya, kepalanya melambangkan intelek, sang buddhi. Saat bergerak di hutan, gajah membersihkan semak-semak sehingga bisa dilalui hewan-hewan lainnya. Artinya, ketika kita memberi keleluasaan pada akal budi untuk membimbing langkah, segala rintangan bisa diatasi dan kebahagiaan mungkin diraih.

(Baca juga: Pengelana Jogja di Filipina: Sapi dalam Kesadaran Krisna, Islam Nusantara dan Katolikisme)

Kemunculan Ganesha mungkin bermakna khusus dalam perpolitikan kontemporer yang kerap vulgar dan brutal. Hinduisme adalah DNA kultural, spiritual dan teknologi Nusantara. Apa lacur, bangsa kian merosot kapasitas berpikirnya ketika bahasanya terkontaminasi caci maki, absurditas, irasionalitas.

Republik kini berumur 73 tahun, namun tak sungkan mencampakkan budi pekerti, akal dan adab. Sang Ganesha membangkitkan pertanda. Di tubir perpecahan ada keterjungkalan.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Rudy Ronald Sianturi M.Hum.

Rudy Ronald Sianturi M.Hum.
Owner & PEMRED Aquilajogja.com - Univ. Sanata Dharma, Yogyakarta - Asia Research Institute, National University of Singapore - Doctoral Courses De La Salle Univ., Filipina - Memberi pelatihan/konsultasi berbasis SDM, coaching, terapi klinis dan menulis (WA: 082135424879)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean