Home / Bisnis dan Investasi / Pasca Gempa Lombok, Pantai Kuta Menyisakan Kesunyian yang Membunuh
Merenda Istimewanya Jogja
Pantai Indah Tanjung Aan, sepi pengunjung setelah gempa Minggu 5 Agustus 2018

Pasca Gempa Lombok, Pantai Kuta Menyisakan Kesunyian yang Membunuh

Pantai Kuta, Lombok, Aquilajogja.com – Ryūryūkyo Shinsai (1799–1823) seniman Jepang di Era Edo (1615–1868) melukiskan betapa cerahnya langit setelah badai menyapu Awazu. Dunia berseri, kehidupan memulai hari tanpa cemas, bahagia ada di mana-mana.

Sehabis gempa Lombok, Kuta menikmati sinar mentari yang melengkung bersama debur ombak yang mengundang. Pantai Indah Tanjung Aan, sekitar 3 kilometer dari Pantai Kuta, sofa-sofa berjemur kontras dengan putihnya pasir. Ayunan-ayunan berdiri tegak siap melayani. Perahu-perahu sudah bersih dan siap melaut.

Suasana bak Awazu paska badai kecuali sunyi senyap tiada pengunjung, apalagi turis! Sofa, ayunan dan perahu membisu memandang ombak yang lelah berkejaran.

Merenda Istimewanya Jogja
Clear Weather After A Storm at Awazu (Istimewa)

Semua berubah setelah gempa Minggu 5 Agustus lalu yang menghancurkan dan merampas kebahagiaan banyak orang di Lombok. Bahkan kami yang berada di Kuta, Lombok Tengah, mengalami hal serupa.

Gempa susulan yang sudah beratus kali semakin menambah kekhawatiran banyak orang. Semua kebiasaan ikut berubah. Mengutip istilah satu orang tua murid yang memberikan konseling singkat pada guru-guru, “Sesuatu yang dulunya dianggap tidak normal menjadi normal.”

(Baca juga: Bagaimana Guru SD Kuta, Lombok, Menghadapi Trauma Gempa dan Tsunami?)

Kami harus terbiasa dengan kedatangan gempa-gempa susulan yang menggoyang di sela-sela rutinitas kami. Dan perubahan ini berdampak  luas bagi kehidupan banyak orang, ditambah pemberitaan media tentang gempa Lombok.

Merenda Istimewanya Jogja

Dampak paling signifikan bagi Kuta adalah berkurangnya secara signifikan wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang berkunjung. Beberapa pemilik restoran dan kafe mulai khawatir akan kehidupan usaha mereka. Mereka berusaha memberikan bantuan kepada para korban gempa bumi, sekaligus berjuang keras agar usaha tetap berjalan. Ini juga demi para karyawan perusahaan.

Berdasarkan pengamatan langsung ketika menikmati makan malam di sebuah resto, kelihatan sepi tidak ada pengunjung. Pihak pengelola resto sempat mengeluhkan bahwa pengunjung berkurang secara drastis. Bahkan secara personal, beliau mengucapkan banyak terima kasih atas kedatangan kami.

Merenda Istimewanya Jogja

Tempat-tempat lain juga tak berbeda. Pengelola resto khawatir akan terpaksa mengurangi jumlah karyawan bila keadaan ini berkepanjangan.

Beberapa waktu lalu aku sempat berkunjung ke Pantai Indah Tanjung Aan. Hampir tidak ada wisatawan sejauh mata memandang. Pemilik salah satu warung di sekitar pantai juga mengeluhkan kondisi pariwisata di Kuta setelah gempa. Penghasilan mereka bahkan jauh lebih rendah di waktu ‘ low season’.

(Baca juga: Orang Jogja Bisa Menenun Kain Lombok?)

Para penggerak usaha di Kuta bahu membahu menyuarakan bahwa pariwisata Kuta, Lombok Tengah, sudah kembali operasional.

Kepada Aquilajogja.com, sejumlah pemilik usaha menitip harapannya. Mereka ingin dunia tahu bahwa situasi sudah aman. Ada kecemasan di wajah-wajah yang kutemui. Berapa lama Lombok dapat bertahan dalam situasi yang sangat sulit ini?

Merenda Istimewanya Jogja

Umumnya masyarakat berterima kasih kepada pemerintah pusat dan daerah yang terus bekerja keras mengupayakan yang terbaik bagi para korban gempa. Penanganan gempa di Lombok  langsung di bawah instruksi Presiden Jokowi dan setara dengan penanganan bencana nasional.

Sebagian masyarakat Indonesia seakan hobinya mencerca sesuatu yang sebenarnya kurang mereka pahami. Lombok porak-poranda, infrastruktur dan perekonomian berantakan. Mengapa justru dipolitisasi?

(Baca juga: Anak-Anak SABANG Main Pasir di Pantai Senggigi, Lombok)

Aku salah satu korban dan bagian dari masyarakat yang berjuang untuk tegak lagi. Aku saksikan betapa penanganan bencana pada dasarnya dilakukan oleh pemerintah pusat yang menggelontorkan dana besar. Soal istilah belaka, seperti halnya bencana Merapi 2006 Jogja yang jumlah korbannya berlipat-lipat, namun toh tidak ditetapkan sebagai bencana nasional.

Pantai Kuta kesepian tiada pengunjung. Status bencana nasional justru akan memperburuk sektor pariwisata di Lombok. Kami Lombok, bukan Awazu, dan kami sempoyongan di sini. Mohon hentikan bergosip. Sunyi ini membunuh!

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Lysbet Laura Simatupang

Lysbet Laura Simatupang
Guru SD - Kuta Lombok Tengah **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapi klinis, SDM dan coaching (WA: 082135424879)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean