Home / Catatan Jurnalis / Apakah Kasus Meiliana dan Ginting Merefleksikan Hyenanisasi Kesalehan?
Merenda Istimewanya Jogja
Meiliana tak sanggup menahan kesedihannya mendengar hukuman 18 tahun yang dijatuhkan hakim (Istimewa)

Apakah Kasus Meiliana dan Ginting Merefleksikan Hyenanisasi Kesalehan?

Rudy Ronald Sianturi | Catatan Jurnalis

Jogjakarta, Aquilajogja.com – Negara mana saja yang menganut superioritas agama dalam kehidupan sehari-hari? Apakah dunia makin toleran atau intoleran, agresif atau damai?

Gallup International mengadakan jajak pendapat online antara bulan Oktober-Desember 2017. Hasilnya cukup melegakan di tengah-tengah berbagai konflik bersenjata di berbagai belahan dunia. Mayoritas negara rupanya tidak setuju atau sangat tidak setuju dengan superioritas agama, ras dan budaya.

Pertanyaannya, bila kecenderungan global adalah mengakomodasi perbedaan, bila kapasitas bertoleransi adalah norma sosial sehari-hari, di manakah posisi Indonesia?

Survei yang melibatkan 66.541 responden di 66 negara (rerata 1000 responden/negara) tersebut mengungkapkan sisi gelap bangsa. Indonesia termasuk ‘minoritas 8’ yang menempatkan agama di atas segalanya. Negara-negara itu adalah Paraguay, Bangladesh, Palestina, Ghana, Lebanon, Nigeria, Indonesia dan Macedonia.

“Pengecualian dari pemahaman ini hanya terjadi di negara atau wilayah dengan konflik internal atau eksternal yang serius,” kata Kancho Stoychev, Presiden Gallup International Association.

Bila dibandingkan dengan hasil survei sejumlah lembaga dalam negeri, kita akan memeroleh gambaran yang lebih utuh. Mayoritas masyarakat Indonesia memang mengaku sangat religius, tetapi sayangnya dalam arti konservatif bahkan untuk sebagian kasus, destruktif.

Dalam survei tahun 2017 tentang radikalisme dan intoleransi, Wahid Foundation menemukan bahwa 600 ribu orang pernah melakukan tindakan radikal dan 11 juta orang  (7,7% dari total populasi) mau bertindak radikal bila memungkinkan.

“Sebanyak 600 ribu pernah bertindak radikal dan 11 juta orang mau bertindak radikal, itu sama seperti penduduk Jakarta dan Bali,” kata Yenny, direktur Wahid Foundation dalam pemaparannya setahun lalu (14/08/ 2017).

Radikalisme sedang bertumbuh bagai kanker ganas, sebuah parasitisme ideologis yang mengerikan. Secara kolektif, kita menyetel bom waktu yang sanggup meratakan seketika dalam huru-hara massal. Hanya soal kesempatan tepat momen sebagai pretext (dalih).

Merenda Istimewanya Jogja
“Penghukuman adalah akar kekerasan di planet bumi” (Foto: Quotefancy)

Saatnya tiba, bangsa seelok Indonesia mungkin akan menyaksikan ratusan ribu orang bagai sel-sel tidur mendadak bertindak agresif. Kekerasan haus darah kemudian menjalar cepat seperti epidemi rabies!

Bila mengesampingkan kemunafikan sejenak, kita pasti bisa melihat bahwa Indonesia sudah ‘kenyang’ peristiwa yang mengilustrasikan kapasitas destruksi anak-anak bangsa.

Genosida 1965 yang melibatkan jutaan orang adalah kasus yang masih menghantui. Berbagai konflik sektarian seperti di Poso, Ambon atau Sampit tetap segar dalam ingatan. Genosida atas etnis Tionghoa 1998 belum usai dari perdebatan. Amuk massa memperkusi jemaah Ahmadiyah menyisakan kepiluan mendalam. Vandalisme dan pengeboman gereja atau rumah ibadah lainnya bertubi-tubi.

Tahun 2018, khususnya di Agustus bulan kemerdekaan mencatat dua kejadian, Meiliana dan Anthony Sukasini Ginting, yang lagi-lagi menyingkap seberapa mampunya sebagian orang untuk bertindak agresif.

Adalah sentimen publik, serasa ‘lumpuh’ membaca berita dihukumnya Meiliana karena meminta suara toa masjid dikecilkan sedikit. Permintaan sangat wajar, keluhan yang dialami banyak orang di negeri ini, namun berbuntut keributan massal di Tanjung Balai. Setidaknya 6 vihara dan kelenteng dirusak ratusan orang, umumnya alat-alat sembahyang yang dibakar.

Aksi massa terjadi Jumat, 29 Juli 2016, sekitar jam 11 malam. Alasannya, permintaan Meiliana yang disampaikan dalam perbincangan normal atau biasa antar tetangga, artinya tidak secara langsung menegur, dianggap meresahkan publik bahkan bentuk penistaan agama.

Dalam persidangan terungkap bahwa beliau tidak pernah menegur langsung apalagi melarang adzan, isu yang memicu amuk. Saksi ahli termasuk PBNU menegaskan bahwa meminta suara toa yang dirasa mengganggu lantaran terlalu keras, sesuatu yang diatur secara legal, bukan penistaan agama.

Maka publik bisa melihat bagaimana massa yang memadati persidangan adalah ‘faktor tak kelihatan’ yang menekan kejiwaan banyak orang yang berpekara. Hukuman 18 bulan dan label penista agama dijatuhkan kepada Meiliana.

Merenda Istimewanya Jogja
Ginting sudah berjuang keras mengatasi cideranya (Istimewa)

Ketika para pelaku perusakan viraha dan kelenteng diganjar hukuman begitu ringan, sedang orang yang rumahnya dilempari bahkan dicap penistas agama dengan hukuman sangat berat, wajarlah banyak orang merasa terluka rasa keadilannya bahkan merasa turut terhukum!

Anthony Sinisuka Ginting, atlet badminton Asian Games 2018 Jakarta-Palembang, di sisi lain, merepresentasikan kasus berbeda, namun juga mengilustrasikan agresivitas dan destruksi.

Cidera berat saat menghadapi Shi Yuqi dalam partai final beregu antara Indonesia dan Cina, dia terpaksa digotong keluar sebelum pertandingan berakhir. Tak peduli dengan perjuangannya, sejumlah orang justru melancarkan kritik pedas dan cemooh kepada Ginting di Instagram. Salah satu akun bahkan menyebut Ginting hanya berpura-pura cedera.

Sukses ya sudah buat malu,” tulis @blaezer123.

Haa Letoy banget jadi atlet lu…Kurang nutrisi.. Masa dikancangin musuh gitu,” tulis @aldjafrie.

Malu maluin, kalah kalah aja pake acara akting segala,” tulis @pbofflinejogja.

Ada kontradiksi yang sangat mencolok. Kesalehan dan superioritas agama belum diterjemahkan ke dalam perilaku empatik dan adil. Dalam kasus Meiliana, bagaimana mungkin agama justru terasa mengerikan? Dalam kasus Ginting, bagaimana mungkin menghina orang yang telah mempertaruhkan kariernya demi kebanggaan bersama?

Pada titik ini, kita harus bertanya-tanya sebagai bangsa. Apa untungnya masyarakat amat saleh ketika justru oleh kesalehan itu, sebagian warganya mudah berperilaku bak serigala atau hyena, tergolong kucing namun perilakunya serupa serigala, karnivora opurtunistik yang suka menyerang berkelompok dan terkoordinasi, serta tak canggung menjarah buruan atau melahap bangkai?

Apakah Meiliana, Ginting, saya dan anda sedang menyaksikan fenomena ganjil, semacam hyenisasi kesalehan?

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Rudy Ronald Sianturi M.Hum.

Rudy Ronald Sianturi M.Hum.
Owner & PEMRED Aquilajogja.com - Univ. Sanata Dharma, Yogyakarta - Asia Research Institute, National University of Singapore - Doctoral Courses De La Salle Univ., Filipina - Memberi pelatihan/konsultasi berbasis SDM, coaching, terapi klinis dan menulis (WA: 082135424879)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean