Home / Headline / Menghapus Stigma Merajut Asa, Kasus HIV/AIDS di Papua dan Bom Waktu Genosida
Merenda Istimewanya Jogja
Mennghapus Stigma, Merajut Asa, Talkshow tentang IMS dan HIV/AIDS serta bagaimana stigmatisasi 'membunuh' ODHA (dok. pribadi)

Menghapus Stigma Merajut Asa, Kasus HIV/AIDS di Papua dan Bom Waktu Genosida

Oleh: Juliet Kossay & Rudy Ronald Sianturi

Jogjakarta, Aquilajogja.com – “Saya ingin anda mencermati angka 96%, sebuah bom waktu genosida yang sedang menghitung waktu ledakannya.” kata Rudy Ronald Sianturi, Hum. Seisi ruangan seketika terdiam.

Aku salah satu peserta Talkshow “Menghapus Stigma, Merajut Asa”, bertempat di Café Dixie (20/08/2018) , Jalan Gejayan, Jogja. Izakod Kai Community, pihak penyelenggara, adalah komunitas yang diinisiasi sejumlah aktivis asal Merauke dan berkecimpung dalam isu-isu terkait ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) di Papua. Tema perbincangan adalah soal IMS (Infeksi Menular Seksual) dan HIV/AIDS dan bagaimana stigmatisasi ‘bekerja’ dan memperburuk situasi dalam konteks Papua.

Mataku menatap layar yang berisi angka 82% dan 14%. Fakta mengerikan tersibak di depan mata.

Merenda Istimewanya Jogja
Eduardo, salah satu ‘otak’ di balik Izakod Kai Community dan Talkshow

Menurut Dinas Kesehatan Provinsi Papua, hingga Maret 2018, terdapat 35.837 kasus HIV/AIDS. Berdasarkan kelompok umur, 12% penderita berusia 15-49 tahun, sedang 84% lainnya 20-49 tahun. Total 96%, nyaris 100%, adalah usia sekolah dan produktif!

Hatiku masih tergetar mendengar kata-kata yang diucapkan penuh tekanan di atas. Satu generasi Papua bisa hilang begitu saja oleh sebuah virus yang merupakan masalah global.

(Baca juga: Luka Bakar di Rumah Tangga, Mengobati Luka dan Mitos)

Banyak orang telah mendengar tentang HIV (Human Immunodeficiency Virus). Berapa yang sadar bahwa HIV menyerang sistem kekebalan (imunitas) sehingga tubuh menjadi lemah dalam melawan infeksi? Berapa yang mengetahui tentang infeksi oportunistik, yaitu infeksi yang disebabkan oleh organisme yang biasanya tidak menyebabkan penyakit pada orang yang imunitasnya normal tetapi dapat menyerang orang dengan imunitas rendah?

Talkshow tiga jam membuat wawasan dan pengetahuanku bertambah luas.

Merenda Istimewanya Jogja
Para panelis

Para pembicara yang diundang mempunyai pengetahuan dan pengalaman dalam penanganan IMS serta HIV/AIDS, yaitu dr. Rosaline Rumaseuw, dr. Sandeep Tarman Nanwani, Wynonna Welliken dan Rudy Ronald Sianturi. Turut bergabung via video adalah dr. Osok dan drg. Maruli Togatorop. Tak lupa juga ‘otak’ penyelenggara kegiatan, yaitu Edoardo, Aprila dan Bunda Mayora, serta didukung Tasya dan Bunda Rully dari Fiesta Kabaya Jogja, komunitas yang melayani penderita HIV/AIDS.

Banyak ilmu yang kuperoleh seperti gejala-gejala IMS, cara menanggulanginya, pengobatan HIV dan fasilitas cek dan konsultasi HIV setiap puskesmas. Ada juga data prevalensi HIV/AIDS secara nasional dan khususnya Papua.

Merenda Istimewanya Jogja

Pengetahuan yang baru kuterima membuatku ‘lebih cerdas’. Akan tetapi, ketika pengetahuan tersebut diletakkan dalam bingkai stigmatisasi dan kesinambungan satu ras, aku ‘dipaksa’ masuk pertarungan melawan waktu dan resistensi sosial.

Aku asal Wawena dan sedang studi di Kota Jogja, masalahnya di kampung halaman, dan aku menyadari kegentingan situasinya justru di sini melalui sebuah Talkshow. Bagaimana dengan mereka yang tinggal di sana, tidak mengetahui sama sekali, tidak punya akses, atau sebenarnya tahu namun merasa bukan masalahnya atau ketakutan.

Stigmatisasi rupanya bekerja karena kurangnya pengetahuan yang benar dan atau adanya rasa kuatir yang mendorong sikap defensif. Dan pertahanan terbaik adalah menyerang.

Agresi!

“Bukan HIV yang paling sering membunuh ODHA, tetapi stigma sosial!” tegas Wynnona Welliken.

Merenda Istimewanya Jogja

Beliau lalu menceritakan sebuah kasus yang ia tangani sebagai anggota KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) Merauke. Keluarga ODHA dengan ‘rapi’ menyembunyikannya karena merasa malu dan stigma ‘kutukan’. Ironisnya, rumah penderita hanya berjarak puluhan meter dari layanan kesehatan terdekat. Bahkan setelah kematiannya, keluarga menolak para aktivis KPA yang mau melayat karena kuatir dipergunjingkan.

(Baca juga: Sumbing yang Dianggap Kutukan Rupanya Kondisi Medis yang Ditanggung BPJS)

Pagi ini, aku masih terngiang saat pengucapan komitmen di penghujung acara untuk menjaga hidup dengan tidak melakukan perilaku berisiko, yaitu berhubungan vaginal dan anal dengan banyak pasangan.

Perilaku berisiko bisa menimbulkan infeksi IMS yang merupakan jendela masuknya HIV yang paling besar. Banyak orang kurang menyadarinya sebagian IMS seperti Klamidia biasanya tanpa gejala.

Merenda Istimewanya Jogja

HIV juga bisa masuk ke dalam sistem tubuh akibat penggunaan suntik yang berulang kali atau tidak steril, entah di Rumah sakit atau di kalangan pengguna narkoba. Perlu mawas diri dan melakukan pemeriksaan rutin setiap 3 bulan.

Puskesmas memiliki fasilitas tes dan konsultasi. Tak perlu takut atau malu. Jadikan hasil tes sebagai award bahwa ‘oke, saya negatif dan sehat’ atau ‘oke, saya positif tetapi tidak perlu takut sebab ada obat ARV (Antiretroviral) yang mampu menekan HIV asal diminum teratur dan seumur hidup’.

Aku sekarang bisa membayangkan mengapa penularan HIV yang terus meningkat di Papua dan stigma-stigma yang sering muncul tersebut karena kurangnya pengetahuan ataupun sikap ‘malas tahu’. Sebagian orang masih melakukan perilaku beresiko dan tidak pernah mengecek kesehatannya. Ketika positif HIV, ia merasa takut dan malu berobat bahkan lingkungan pun mendiskriminasi dan bergosip hal buruk.

Merenda Istimewanya Jogja

Ironisnya, apa yang diomongkan sering tidak benar alias ‘sok tau’ dan membuat penderita tidak mendapat pengobatan tepat guna, stres bahkan depresi. Penderita cenderung menutup diri hingga sudah stadium akhir dan tunggu kematian saja. Atau bahkan berpikir bunuh diri. Jelas sekarang mengapa kematian ODHA mengalami peningkatan.

Angka 96% adalah isu yang siap menjadi bencana. Setiap mahasiswa Papua di Jogja punya kewajiban moral untuk mengkampanyekan bahaya penularan HIV/AIDS kepada masyarakat Papua di kampung halaman masing-masing.

“Jangan sampai orang akan membaca sejarah bahwa pernah di Asia, tepatnya di Indonesia, ada bangsa orang kulit hitam rambut keriting yang punah karena penyakit HIV/AIDS.” kata dr. Rosaline.

Bom waktu genosida, frasa sangat mengerikan kini tertancap kuat.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Juliet Kossay

Juliet Kossay
Mahasiswi Jurusan Bioteknologi - Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapi klinis, SDM dan coaching. Sila WA 082135424879.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean