Home / Catatan Jurnalis / Menakar Hidayah Kyai Haji Ma’ruf Amin?
Merenda Istimewanya Jogja
Jokowi dan Kyai Haji Ma'ruf Amin menjalani pemeriksaan kesehatan (12/08/2018), di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat (Sekretariat Presiden)

Menakar Hidayah Kyai Haji Ma’ruf Amin?

Oleh: Rudy Ronald Sianturi, M.Hum.

Jogjakarta, Aquilajogja.com – Jelang tahun politik 2019 timbul berbagai ‘fenomena beragama’ yang sangat menarik untuk diamati. Berbagai kelompok yang rutin berseberangan dengan pemerintah tampaknya sedang mengkomodifikasi simbolisme Islam sebagai ‘penunjuk’ arah politik, khususnya melalui sejumlah narasi yang dibangun seputar Kyai Haji Ma’ruf Amin.

Sejak Jokowi mendeklarasikan Ma’ruf sebagai running mate dalam Pilpres 2019, beberapa pihak mulai melakukan serangan masif brutal terhadap Ma’ruf, sesuatu yang sulit dianggap sporadik, bahkan mungkin saja terorganisasi hingga titik tertentu.

Modus serangan adalah pembunuhan karakter (character assassination). Terdapat dua serangan pamungkas, sepasang senjata yang tampaknya paling diminati beberapa tahun belakangan: dikafirkan dan didoakan agar mendapat hidayah.

Substansi narasi yang dibangun sangat sederhana sehingga mudah dimengerti siapa saja. Sekalipun ulama, asal bukan kubu Prabowo-Sandi (lagi), dia pada dasarnya kafir atau halal dikafirkan. Definisi kafir yang sudah established adalah orang-orang yang menolak bahkan memusuhi Islam, dan karenanya dilaknat Allah. Maka tak terbayangkan ‘tercemarnya kesalehan seorang Muslim’, sebagaimana direpresentasikan kelompok oposisi, bila memilih pemimpin dari kelompok yang terkutuk.

Akan tetapi, mengingat kaliber dan rekam jejak Ma’ruf bagian sentral gerakan bela fatwa ulama selama ini, baik sebagai ketua MUI maupun penulis berbagai fatwa kontroversial yang menguntungkan elemen-elemen yang menginginkan ganti presiden, beliau ‘masih’ didoakan mendapat hidayah.

Komodifikasi hidayah sangat krusial untuk mengimbangi pengkafiran yang tak terbayangkan harus ditembakkan kepada ulama sekelas Ma’ruf. Masyarakat Indonesia dikatakan amat religius, dan sebagian orang ingin diidentifikasi tingkat religiusitasnya. Ulama memainkan peran sebagai the gold standard. Bisa dibayangkan posisi seorang Ma’ruf, Rais Aam PBNU,  keturunan ulama besar Syaikh Nawabi, dan penulis sejumlah fatwa yang dianggap mengakomodasi puritanisme bela agama yang diwarnai kuas politik.  Dan sehabis tahun-tahun penghormatan, terbitlah seorang kafir?

Desy Ratnasari – Hidayah (Religi) (Blackboard X GP Records)

Adanya desakan mengkafirkan tanpa cukup kesempatan untuk mempertanyakan rasionalitasnya, kecuali alasan-alasan yang beredar, tentu bisa mengguncang. Sebagian umat rasanya akan sulit mencerna perubahan yang mungkin melampaui kapasitas mental dalam menampungnya. Karakter Muslim yang idealnya rahmatan lil ‘alamin, pembawa rahmat dan kesejahteraan serta umat cinta damai, perlu ditonjolkan bersamaan. Maka logislah bila ‘kita doakan Ma’ruf agar kembali sebagai ulama pemersatu umat dalam merealisasikan ganti presiden 2019’.

Setiap orang yang terlibat dalam pengkafiran, dengan begitu, apabila dirundung rasa salah atau gentar, akan mendapat garansi bahwa pengkafiran yang ia lakukan diridhoi Allah, karena di balik hujatan ada ketulusan bahwa ia intens sedang mendoakan sesama Muslim untuk kembali ke jalan yang benar. Hidayah berfungsi sebagai kompensator sembari menjustifikasi (serangan) pengkafiran atas seorang ulama sangat terhormat.

Sebuah pertanyaan muncul di benak, lalu bagaimana caranya menakar hidayah seorang ulama sekelas Ma’ruf?

Ketika ia ‘bertobat’ dan kembali memimpin ‘jihad politik’ yang,  meski mengambil ragam front perjuangan, tujuan tunggalnya sekarang adalah memenangkan pasangan Prabowo dan Sandiaga Uno, duet yang digambarkan mengakomodasi kepentingan-kepentingan umat Islam yang diklaim terzolimi oleh pemerintahan  Jokowi.

Yang diserang adalah pribadinya (character assassination), namun yang diklaim secara eksklusif adalah keulamaan sebagai simbol Islam. Dan karena Ma’ruf sebagai ulama dan simbol keulamaan tak mungkin lagi berganti pihak, ulama dan keulamaan yang lebih ‘sesuai’ akan dimunculkan seiring masifikasi pengkafiran. Dalam kerangka inilah, Sandi secara masuk akal bisa dinarasikan sebagai santri pasca Islamisme, meskipun tidak pernah  nyantrik sedangkan sekolah maupun kuliahnya di institusi-institusi Katolik milik ‘kaum kafir’.

Hidayah seorang Ma’ruf ditakar dengan naratologi di atas, dan tersebut saja! Pola serangannya sederhana sekali, nyaris tanpa orisinalitas atau kecanggihan strategi. Vulgar, dangkal, meski terkesan saleh.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Rudy Ronald Sianturi M.Hum.

Rudy Ronald Sianturi M.Hum.
Owner & PEMRED Aquilajogja.com - Univ. Sanata Dharma, Yogyakarta - Asia Research Institute, National University of Singapore - Doctoral Courses De La Salle Univ., Filipina - Memberi pelatihan/konsultasi berbasis SDM, coaching, terapi klinis dan menulis (WA: 082135424879)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean