Home / Psikologi dan Pengembangan Diri / Pilih Waktumu dengan Bijaksana, Perawat Palembang Mengembalikan ‘Kuncup Mawar’ Pasiennya
Merenda Istimewanya Jogja
Setiap orang adalah sang Mawar di dalam dirinya, sebagaimana Tuhan membentuknya (Aquilajogja)

Pilih Waktumu dengan Bijaksana, Perawat Palembang Mengembalikan ‘Kuncup Mawar’ Pasiennya

Oleh: Maria Miguel Am.Kep. & Rudy Ronald Sianturi, M.Hum.

Palembang, Aquilajogja.com – Orang bilang waktu menguji komitmen (untuk) hidup, sebab seiring waktu kita akan menemukan makna terdalam dari panggilan pribadi.

Tak terasa 21 tahun menjadi perawat. Sudah banyak ujian yang harus kuhadapi baik sebagai pribadi maupun profesional yang hendak mengamalkan ilmunya.

Sesama kolega kerja terkadang mengenalku sebagai perawat ‘judes dan jutek’. Ini kelakar yang mempermanis persahabatan, sekaligus masukan berharga. Di sisi lain, sepertinya aku belum pernah mendapat komplain berarti dari para pasien, bahkan mungkin termasuk salah satu perawat yang ‘dicari’ mereka.

Sebagai manusia biasa, jujur saja tidak selalu mudah menghadapi pasien yang ‘cerewet’ atau agak sulit menerima penjelasan medis. Pengalaman seperti ini lumrah dialami setiap tenaga kesehatan di mana pun. Lalu mengapa saya termasuk perawat yang dicari pasien?

Rumah sakit bukan hanya soal mengobati penyakit, namun bagai ‘rumah sementara’ yang ditinggali banyak orang.  Ilmu keperawatan memperlakukan pasien secara holistik – biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Pasien bagiku adalah sesama yang membutuhkan perhatian dan pendekatan secara personal.

(Baca juga: Autisme Membawa Berkah: Menjadi Orangtua Istimewa bagi Anak Istimewa)

Keperawatan karenanya sains sekaligus seni, maka dibutuhkan kreativitas dan pengalaman dalam praktik di lapangan. Untuk itu, aku memakai sejumlah pendekatan, salah satunya humor yang ternyata sangat efektif. Humor ‘profesional’, tentu saja, supaya kedua pihak merasa nyaman dan tak ada yang tersinggung.

Pembelajaran terpenting selama 21 tahun adalah sebagai pendengar empatik, yakni memberi perhatian penuh pada poin-poin yang sedang diungkapkan pasien supaya bisa merespon secara efektif.

Sebagian orang mengira komplain harus dijawab seketika. Bila ada pasien mengeluhkan sesuatu, aku justru kerap hanya mendengarkan secara sungguh-sungguh. Selesai dia bicara,  aku menjawab dengan sopan, “Mohon bersabar, nanti aku coba konfirmasi ulang dengan pihak rumah sakit.”

Aku juga punya strategi lain dalam menghadapi pasien, khususnya mereka yang menurutku memiliki kapasitas internal yang besar untuk menghadapi penyakitnya, namun berisiko tenggelam terlalu jauh, lama, ke dalam rasa frustasi. Aku akan menyentuh ‘sang mawar’, citra Allah dalam dirinya, yang tak pernah lunglai.

Pernah ada seorang pasien yang menghadapi penyakit sangat serius. Beliau merasa down. Pihak keluarga tampaknya sudah putus asa dan dianggap pasien kurang peduli lagi. Obat tak lagi diminumnya. Sikapnya kurang kooperatif dengan tim medis. Tidak bisa dibiarkan berlama-lama mengingat keseriusan penyakitnya.

Bagaimana membangkitkan semangat hidupnya, itu pertanyaan di kepalaku.

(Baca juga: Dosen UKSW Salatiga Menemukan Sebotol Air Kehidupan)

Berdasarkan pengalamanku,  aku akan menganjurkan semacam ‘persepsi alternatif’, sesuatu yang memberinya bahan permenungan dalam menghadapi stress dan berdaya membangkitkan semangat hidupnya.

Kataku padanya dengan setulusnya, “Mas, aku pun akan merasa galau atau lelah bila menjadi dirimu. Akan tetapi, mohon ijin mengusulkan alternatif dalam memikirkannya. Maksudku, karena  penyakit de facto sudah ada, maka hanya ada dua pilihan bagimu: mempertahankan hidupmu yang sangat berharga atau membiarkan penyakit  menang atas tubuhmu.”

Merenda Istimewanya Jogja
Salah satu institusi yang mendidik calon-calon perawat di Jogjakarta (Istimewa)

Dia terdiam. Aku melanjutkan, “Kalau pilih melawan harus positive thinking meskipun nantinya penyakit menggerogotimu. Kalau pilih menyerah, sesuatu yang bukan dirimu, silahkan menolak minum obatnya atau bahkan mempertimbangkan untuk pulang. Yang jelas, kamu punya kekuatan besar. Dan lagi pula, rumah sakit tempat berobat, bukan tempat ngambek atau marah.”

Waktu kembali menguji komitmen hidup. Pasien divonis punya waktu tersisa hanya 3 bulan. Bisa dipahami mengapa ia merasa tak berdaya sama sekali.

Selama satu minggu, beliau menolak bicara denganku karena dalam anggapannya, aku sok pintar dan modal omong saja. Selama waktu itu, aku tidak masuk ke dalam kamarnya, hanya teman-teman yang masuk, demi menghormati privasinya, kecuali untuk melakukan tugas rutin saja.

Aku percaya setiap orang butuh waktu, dan aku menghormati waktunya. Pasien sedang memikirkan secara serius dua pilihan tersebut.

Di hari ke-7, lemas karena kurang makan, sedangkan pasang infusnya susah sekali, sedang teman-temen merasa tidak bisa melakukannya, dia menyerah dan membiarkan aku yang memasangnya. Aku melakukannya dengan sebaik-baiknya. Kami berdialog dalam keheningan.

Ada pergolakan di benaknya, aku tahu, dan pasien yang menang!

Dia memecah kebisuan begitu selesai pasang infus. “Suster, mengapa tak pernah masuk kamar saya lagi?” Aku katakan tak bisa memaksa seseorang untuk menyukai kehadiranku. Yang jelas, aku selalu lakukan yang terbaik bagi setiap pasienku.

Dia memandangku lekat-lekat. “Aku minta maaf, Suster, mulai hari ini tolong, setiap hari, beri saya masukan apa saja tentang agama, keluarga, kesehatan, pokoknya semuanya.”

Pengalaman ini luar biasa istimewanya! Aku benar-benar terharu dan bersyukur atas kemenangannya.

Beliau opname selama dua bulan dan menjadi pasien yang sangat kooperatif. Berat badannya berhasil naik dari 45 kg menjadi 60 kg dalam sebulan.

Perubahan sikapnya tentu menginspirasi, apalagi ada beberapa pasien lainnya yang dalam kegawatan serupa. Manajemen RS mengetahui hal ini. Pasien juga menyebutkan namaku saat menceritakan bagaimana ia meraih titik balik dalam hidupnya.

(Baca juga: Bagaimana Guru SD Kuta, Lombok, Menghadapi Trauma Gempa dan Tsunami?)

Waktu 3 bulan, vonis yang dijatuhkan padanya, terlampaui! Dia hidup hingga sekarang. Wajahnya dipenuhi api semangat. Dia kini seorang motivator bagi orang-orang yang sedang menghadapi penyakit gawat. Sang Mawar dalam dirinya telah mekar berseri.

Waktu memang menguji komitmen hidup kita, bahkan ketika hidup sudah di ujung tanduk!

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Maria Miguel, Am.Kep.

Maria Miguel, Am.Kep.
Perawat RS Katolik Charitas Palembang - UNIKA Musi Charitas **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapi klinis, SDM dan coaching (WA: 082135424879)

One comment

  1. Kesabaran dan jiwa penuh kasih sangat dibutuhkan dalam melayani pasien – pasien yang membutuhkan, karena pasien yang datang ke kita bukan saja sakit fisik tapi juga jiwa mereka, karen berbagai faktor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean