Home / Kisah Perjuangan / Bagaimana Guru SD Kuta, Lombok, Menghadapi Trauma Gempa dan Tsunami?
Merenda Istimewanya Jogja
Gempa menghajar Lombok, NTB, sesaat mengoyak ketenangan pantai dan 'menitipkan' trauma (dok. pribadi)

Bagaimana Guru SD Kuta, Lombok, Menghadapi Trauma Gempa dan Tsunami?

Oleh: Lysbet Laura Simatupang

Kuta, Lombok Tengah, NTB, Aquilajogja.com – Kuta di bawah sana, lampu-lampu masih tampak dari atas bukit tempatku berdiri. Apakah sebentar lagi bakal ditenggelamkan air bah yang siap mendatangi?

Aku sebelumnya bersantai nonton TV, malam di luar makin gelap dan hening.  Layar mengubah acaranya ketika alam berubah panik. Betapa kaget hatiku, gempa datang tanpa diundang. Sesaat aku masih di posisi berdiam diri hingga akhirnya suara tetangga yang berhamburan keluar rumah menyentak.

Jalanan riuh!

Bergegas aku turut keluar. Orang orang berteriak ‘air naik, air naik!’ Pemilik rumah tempat  tinggalku sudah bersiap untuk mengungsi. Segalanya berlangsung tergesa-gesa.

Tanganku meraup tas “ go bag” yang memang sudah disiapkan sejak gempa minggu lalu. Tas berisi dokumen penting, uang, pakaian ganti, air mineral, jaket, power bank, coklat dan biskuit. Go bag adalah tas standar yang wajib dimiliki setiap relawan ketika terjadi keadaan darurat.

Merenda Istimewanya Jogja
Penjual baju di Pantai Kuta, Lombok (dok. pribadi)

Dalam kepanikan, setiap detik sangat berharga dan bisa berarti hidup atau mati. Setiap orang harus mampu bertindak efisien dalam situasi genting. Jangan sampai habis waktu hanya karena mencari surat-surat  penting atau barang-barang berharga yang hendak diselamatkan.

Di luar orang-orang bergegas. Bersama beberapa tetangga dan turis asing, aku menuju bukit dekat rumah. Kini aku berdiri di atas bukit yang disebut Kuta Heights.

(Baca juga: Gadis Nusantara Asal Biak, Papua, Merenda Istimewanya Pantai Owi)

BMKG telah mengumumkan (05/08/2018) gempa bermagnitudo 7 menghantam Lombok Utara, NTB, pulau yang menjadi tempatku mengabdi dalam beberapa tahun terakhir ini. Aku sendiri di Kuta, Pujut, Lombok Tengah. Gempa berpotensi tsunami itu memaksa kami mengungsi selekas mungkin. Bayangan tsunami Aceh 2004 menggulung ratusan ribu orang membayang jelas di pelupuk mata.

Merenda Istimewanya Jogja
Suasana lengang yang damai (dok. pribadi)

Kami naik truk menuju Kuta Heights yang berada tak jauh dari tempat tinggalku. Sesampainya di bukit,  beberapa bapak menyiapkan tenda darurat dan menggelar tikar untuk kami berlindung.

Beberapa saat kemudian, sejumlah warga datang membawa air mineral. Kulihat ibu-ibu sambil menggendong anak-anaknya mulai melantunkan doa-doa agar tidak terjadi hal yang lebih buruk. Sebagian pengungsi yang lain sibuk menghubungi anggota keluarga mereka di daerah lain di Lombok. Aku pun teringat mengirimkan pesan singkat kepada pihak sekolah tentang keberadaanku.

Malam gelap gulita itu, ada banyak masyarakat yang mengungsi ke bukit untuk mengantisipasi kemungkinan tsunami.  Suasana panik, namun orang-orang mampu mengorganisir dirinya dengan baik.

Angin malam makin dingin. Lampu-lampu Kuta masih tampak di kegelapan. Langit seperti kurang bersahabat. Aku merapatkan baju mencoba mengusir dingin.

Betapa kelegaan di wajah-wajah pengungsi ketika akhirnya pemerintah mencabut peringatan tsunami. Orang-orang mengucap syukur. Aku dan beberapa turis memutuskan untuk kembali ke tempat kami masing masing.

Merenda Istimewanya Jogja
Jalanan di Kuta pasca gempa (dok. pribadi)

Kami menyusuri bukit berjalan kaki dan hanya mengandalkan cahaya dari telepon genggam. Sesampainya di rumah, kucoba beristirahat namun sulit sekali karena gempa susulan masih saja terjadi hingga menjelang pagi hari.

Keesokan hari, tidak ada kegiatan sekolah karena pemerintah daerah meliburkan semua sekolah. Kuta, Lombok Tengah cukup aman dan tidak ada kerusakan. Akan tetapi, trauma gempa dan tsunami tidak berarti selesai malam itu juga. Dia masih mendekam di labirin memori para pengungsi dan keluarganya.

(Baca juga: Indonesia akan Bubar 2030? Ketrampilan Mengolah Pengalaman Negatif)

Aku memandang tas go bag di depannya. Aku tahu, satu hal yang membantu untuk mengatur ketenanganku tadi, meski suasana gaduh tergesa-gesa, adalah karena aku tahu hal-hal terpenting tersimpan aman sehingga fokus tindakanku adalah mengutamakan keselamatan jiwa (Safety First).

Kesiapan dan Safety First, ini yang perlu dipelajari berulang kali dalam simulasi gempa atau tsunami. Keyakinan bahwa aku telah cukup terlatih menjadi cara menggagalkan trauma berlama-lama!

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Lysbet Laura Simatupang

Lysbet Laura Simatupang
Guru SD - Kuta Lombok Tengah **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapi klinis, SDM dan coaching (WA: 082135424879)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean