Home / Bisnis dan Investasi / Istimewa! Kurma dan Minyak Zaitun, Dukungan Politik Indonesia kepada Rakyat Palestina
Merenda Istimewanya Jogja
MInyak zaitun yang kerap dianggap 'buah surga' (Istimewa)

Istimewa! Kurma dan Minyak Zaitun, Dukungan Politik Indonesia kepada Rakyat Palestina

Oleh: Dwi Pratiwi Lestari, M.Pd.I.

Jakarta, Aquilajogja.com – Wajah dukungan politik bisa mengambil ragam bentuk. Apalagi menyangkut perjuangan bangsa Palestina, dukungan membutuhkan keberanian dan terobosan kreatif.

Pemerintah Indonesia sangat tegas, jelas, terhadap hak-hak hidup warga Palestina sesuai amanat UUD 1945. Dalam berbagai kesempatan pun Jokowi telah menyatakan bahwa Palestina berhak hidup aman, berdaulat dan bermartabat.

Satu terobosan telah diambil Indonesia melalui kebijakan perdagangan bilateral antara Indonesia dan Palestina, yakni dengan perjanjian tanpa bea masuk bagi komoditas asal Palestina. Aturan ini akan direalisasikan pada September 2018.

Yang istimewa adalah makna simbolis dari kebijakan dimaksud ketika minyak zaitun dan kurma, ikon-ikon yang melekat kuat pada identitas kultural dan religius bangsa Palestina, menjadi dua komoditas awal yang diberi fasilitas ‘mewah’ tersebut.

(Baca juga: Metafora Pohon, Islam Nusantara dalam Pandangan Seorang Dosen Psikologi Jogjakarta)

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag, Iman Pambagyo, menjelaskan bahwa penerapan bebas bea akan diimplementasikan setelah terbitnya Peraturan Menteri Keuangan.

“Kita berikan kelonggaran 0 persen setelah penandatanganan ini, satu bulan terbit permenkeunya. Diharapkan bulan September sudah diimplementasikan. Diperjanjikan 1 HS untuk ke buah kurma mau yang fresh maupun dry. Dan minyak zaitun ada dua HS. Total tiga HS, dua produk,”,” kata Iman di kantornya, Senin (6/8/2018).

Impor kurma dari Palestina diproyeksikan bertumbuh sekitar 11,62 persen setahun ke depan dengan adanya perjanjian ini. Palestina tentu bisa melampaui target ekspor yang ada.

“Tergantung mereka bagaimana mereka memanfaatkan ini. Tapi kalau hitung-hitung kita kalau 1 tahun implementasi maka untuk 1 tahun itu peningkatannya untuk kurma 11,62 persen. Jadi September tahun depan kita harap bisa meningkat 11,62 persen kenaikannya,” kata Iman lagi.

Sementara itu, kebutuhan minyak zaitun di dalam negeri cukup besar sehingga nilai impor Palestina diperkirakan bakal tumbuh pesat.

“Minyak zaitun ini agak besar karena kita perlu untuk industri kosmetik selain food sector. Itu kenaikannya kita perkirakan capai 172 persen dalam satu tahun implementasi,” kata dia.

Selama ini, kebutuhan domestik akan minyak zaitun dipasok oleh beberapa negara. Kebijakan bebas biaya masuk tentunya akan menjadi insentif bagi importir untuk beralih ke eksportir Palestina.

Meskipun ada kelonggaran, sebagaimana tertuang dalam perjanjian dagang antar kedua negara, Kemendag akan tetap mengimplementasikan Sanitary and Phytosanitary (SPS) secara seksama untuk memastikan setiap barang yang masuk aman dan terjamin.

(Baca juga: Islam dan Katolik di Pulau Muna Bersatu Tidak Bercerai, Berpisah Tidak Punya Antara)

Dukungan politik terhadap perjuangan mulia suatu bangsa memang tidak bisa hanya verbal. Kelonggaran bea masuk ini merenda dukungan paling konkret rakyat Indonesia – lintas SARA – solidaritas bagi sesamanya Palestina yang tentu membutuhkan pemasukan dan pasar yang berkesinambungan bagi produk-produk pertanian setempat.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Dwi Pratiwi Lestari, M.Pd.I.

Dwi Pratiwi Lestari, M.Pd.I.
Dosen Universitas Alkhairaat Palu dan IAIN Palu- Pengasuh di Pondok Pesantren Putri Alkhairaat Pusat, Palu - UIN Suka, Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean