Home / Terbaru / Aku Tiba di Kota “Majalah Siswa” Jogja Istimewa
Merenda Istimewanya Jogja
Ki Hajar Dewantara, sang pendiri Taman Siswa Yogyakarta (Istimewa)

Aku Tiba di Kota “Majalah Siswa” Jogja Istimewa

Oleh: EmKhébé, S.Ag.

Jogjakarta, Aquilajogja.com – Mengatakan siapa Jogjakarta tidak sukar bagiku, cukup merogoh ke dalam memori. Apalagi aku punya perbandingan, berselang 20 tahun, antara dua kerusuhan besar, Jakarta (Mei 1998) dan Jogjakarta (May Day, 2018).

Jauh ke belakang, memori membawa suatu hari ke tahun 1981. Aku masih seorang pelajar sebuah Sekolah Tehnik Menengah (STM) Flobamor yang jauh di selatan Indonesia, yaitu di kota karang Kupang, NTT. Bangga nian hatiku mendapat kiriman majalah dari Jogjakarta.

Nama majalah tersebut “Majalah Siswa”, sesuai dengan statusku sebagai seorang siswa, diterbitkan oleh Yayasan Taman Siswa Yogyakarta. Seingatku, nama dan alamat majalah itu aku ketahui dari iklan majalah Intisari, atau mungkin majalah Basis. Aku melayangkan surat ke alamat majalah itu, dan dua minggu kemudian, mendapatkan kiriman yang diantar tukang pos ke sekolah.

Tidak kuduga, surat amat sederhana yang kutuliskan ditanggapi positif oleh redaktur pelaksana. Aku kagum, inilah karakter pendidik sejati!

Kubuka setiap lembarnya. Isinya tentang ajaran Ki Hajar Dewantara yang terkenal, yaitu Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, dan Tut wuri handayani selain banyak artikel lain yang semuanya sangat berbobot. Pantas saja Jogja mendapat predikat istimewa sebagai kota pelajar, pikirku.

Aku baru saja pindah dari Makassar untuk bersekolah di STM Flobamor. Dan menyadari bahwa karakter kesiswaan yang begitu mendarah daging dalam diri setiap orang Jogja tentu melalui pembentukan serta pembiasaan secara turun-temurun.

(Baca juga: Nona Roe Mengaku dari Ende, Inferior Kolektif Masyarakat Flores?)

Kalimat Tut wuri handayani sudah umum sebagai slogan dinas pendidikan. Sering kubaca sejak di kota Kupang, karena kebetulan tempat tinggalku berada di belakang Kantor Dinas Pendidikan NTT. Ketiga semboyan dari Ki Hajar Dewantara itu bila dipahami serta dihayati oleh setiap orang yang berpendidikan, rasa-rasanya tidak akan pernah terjadi kerusuhan di negeri ini – di mana saja. Namun anggapanku keliru.

Mei 1998 terjadilah kerusuhan rasial yang menenggelamkan Jakarta dan beberapa kota lainnya dalam amukan api besar. Media-media menayangkan asap-asap hitam tebal mengepul membumbung tinggi ke udara. Ribuan etnis Tionghoa jatuh korban dalam amuk dan perkosaan massal yang absurd dan mengerikan. Aku terperangah, orang-orang Indonesia bisa menggila seperti itu?

Siswa-siswi Taman Siswa Yogyakarta menarikan Jaranan (GNP Music)

Setelah kerusuhan besar, aku mendapat surat undangan pernikahan dari seorang kawan di Samigaluh, Kulonprogo, DIY. Kebetulan hari pernikahannya hari kerja, maka aku sebenarnya tidak mungkin hadir. Akan tetapi mengingat persahabatan selama beberapa waktu di kampus STFK, Jogjakarta, aku memutuskan untuk tetap datang di hari-hari sebelum hari istimewa itu, sebagai bentuk dukungan atas pernikahan mereka.

Dengan menumpang bus antarkota antarprovinsi (AKAP), sampailah aku di rumah keluarga Bapak Koespriyanto di Banguntapan, Bantul. Beliau bekerja di Unika Atmajaya, tetapi bersedia menghantar saya ke alamat kawan di Samigaluh.

Aku kembali terperangah. Pasca kerusuhan besar, kota-kota menampakkan ‘wajah’ terbakar serta porak-poranda. Pemandangan itu tidak terlihat di Kota Jogjakarta. Kata Pak Koes, Raja Jogja, Sri Sultan Hamengku Buwono X, berdiri di atas sebuah bak terbuka dan menghimbau masyarakat untuk tidak berdemonstrasi. Hari itu hanya beberapa bangunan yang terlanjur terbakar di Jalan Solo.

Kepatuhan masyarakat Jogja kepada suara pemimpinnya, adalah bukti penghayatan ajaran-ajaran bermartabat yang sudah mendarah daging di hati.

(Baca juga: Jangan Rebut Paksa Kagumku pada Orang Jawa Tengah dan Jogja)

Sayangnya, sesuatu yang berbeda terjadi 20 tahun kemudian, seakan kota telah berubah karakter. Kerusuhan May Day 2018 yang dimotori oleh sekelompok orang, ternyata kebanyakan mahasiswa, sungguh sangat mengotori kearifan orang Jogja. Apakah ketiga ajaran Ki Hajar Dewantara sudah terhapus dari hati warga? Ataukah ada oknum ‘dalang’ kerusuhan yang memang mereka terlahir dari organisasi atau ormas yang selalu menggunakan cara-cara non-manusiawi untuk mencapai tujuan politiknya?

Sebagai orang luar Jawa yang sangat mengagumi budaya dan relasi humanis orang Jawa, aku sangat berharap agar warga Jogja belajar dari dua pengalaman ini, khususnya jelang tahun politik 2019 yang merupakan kegembiraan kolektif bangsa, termasuk warga Jogja.

Mei 1998, Jogja berdiri terdepan dalam menolak rasialisme dan mengikuti suara pemimpin, Sultan, yang mereka tahu hanya menginginkan yang terbaik bagi rakyatnya. Maka sekali lagi Jogja dipanggil untuk memberi tauladan bagi persada Nusantara untuk melawan siapapun yang hendak berkuasa tetapi menggunakan cara-cara yang tidak demokratis.

(Baca juga: Matematika Politik Nasional, Apakah Kita Siap Menjadi Masyarakat Negatif?)

Politik untuk tujuan kebaikan mestinya ditempuh melalui cara-cara beradab, bukan sebaliknya. Keteladanan (sung tuladha), semangat serta kehendak yang positif (mangun karsa), dan dorongan kekuatan untuk tetap di jalan yang baik (handayani), wajib terus dihidupi.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About EmKhébé, S.Ag.

EmKhébé, S.Ag.
Katekis dan Pendidik, Jakarta - STFK Pradnyawidya, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapis klinis, SDM dan coaching. Sila WA 082135424879.

One comment

  1. “Ing ngarso sung tulada” banyak cendekiawan di negeri ini memberikan teladan “babak-belur” mencapai kepemimpinan dengan demontrasi untuk menjatuhkan lawan. Saya duga pak Harto pencinta kestabilan nasional tidak mungkin merencanakan demonstrasi masal, dalangnya kemungkinan besar jenderal yang dipecat paska kerusuhan. Semoga pengalaman kelam itu tidak terulang lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean