Home / Mutiara Iman / Apa-Apa Harus Seiman, Proyek Dogmatis yang Melawan Kehendak Allah
Merenda Istimewanya Jogja
Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen, pasangan beda iman yang telah menikah selama 15 tahun; keduanya telah menghasilkan banyak karya, termasuk terkait Papua (Istimewa)

Apa-Apa Harus Seiman, Proyek Dogmatis yang Melawan Kehendak Allah

Oleh: Chaerunnisa Aminuddin, S.Ag., M.A.

Jakarta, Aquilajogja.com – Pikiran hendaknya secerah awan-awan langit yang, ketika senja datang, membuat mentari bercahaya laksana Tuhan menuang ribuan warna ke angkasa. Adalah kemustahilan menemukan pikiran kembar apalagi seragam, kecuali diseragamkan secara ideologis yang berarti paksaan dan konflik.

Keprihatinanku berawal dari sini. Sebagian orang justru terjebak pikiran apa-apa harus seiman. Ketemu yang beda iman, meskipun sangat baik berbudi, tiba-tiba seperti ada bisikan “kasihan, orang ini belum dapat hidayah. Orangnya baik, tapi imannya salah. Nanti dia masuk neraka, dan kekal di dalamnya”.

Meski sadar dirinya tak begitu baik, ia tetap yakin jalannya lurus menuju surga. Boleh jadi nanti dibersihkan dulu dosanya di neraka, tapi setelah itu Allah bersamaku. Dan aku masuk di barisan hamba-hamba yang saleh, demikian argumentasinya.

Pikiran dianugerahkan untuk membangun peradaban. Bagaimana bicara peradaban dengan orang yang memaksakan pikirannya sebagai standar peradaban?

Orang yang tak lagi punya pemikiran segalanya harus seiman, dia baru layak diajak bicara soal peradaban. Tak ada lagi yang menarik dibahas tentang realitas dunia, kalau bicara pada orang yang sedikit-sedikit bilang ini takdir dan kehendak Allah. Sudah buntu semua, hanya sampai di situ.

Bagi orang seperti ini, beda iman spontan terselip curiga. Potongan cerita pertentangan agama tertanam di benaknya. Belum lagi tentang misi seperti ‘Kristenisasi’, yang dipandang mengusik ketentraman dan ancaman penggoyah iman. Padahal tak ubahnya misi dakwah dalam Islam.

Merenda Istimewanya Jogja
Candi Prambanan, integral dalam sejarah dan DNA kultural Jawa-Sumatra, sekarang sebagian adalah Islam. Peradaban tak pernah tunggal (Rm. Bernardus Rukiyanto, S.J.)

Seseorang yang pindah agama, apapun alasannya, itu namanya murtad. Dianggap menentang dan keluar dari ajaran yang benar. Ia tertolak secara akidah dan biasanya terkucil secara sosial dari komunitas lama. Itulah setercela-tercelanya pilihan yang akan menyeretnya kelak di neraka.

Aku sangat prihatin, begitu kakunya soal ini.

Wahai kabut, mengapakah engkau harus datang memberi selimut di bumi yang dingin di sela angin? Mengapa pergi tanpa permisi, saat terang mentari muncul di langit tinggi?

Beribu tahun begitu, beribu tahun pula manusia padamu acuh. Mereka peduli hanya pada diri dan kelompok kecilnya sendiri. Beribu tahun kabut dogma lekat di kepala. Menepis yang selalu turun tipis-tipis kala gerimis. Kabut pagi yang serupa surga bagi jiwa yang dalam-dalam menghela udara sepenuh rongga dada.

Surga itu dekat dan nyata, tengok awan-awan di perbatasan siang dan senja. Ribuan cahaya dituang surga supaya setiap pikiran mencernanya dengan cara masing-masing. Allah membenci penyeragaman! Allah menistakan pemaksaan!

Aku tahu, tidak bagi yang tak melihatnya. Ada yang menunggu surga lain di malam kelam. Selepas ujung waktu saat kabut terakhir berlalu. Padahal tak pernah ada cerita nyata tentangnya. Tak pernah nyata ada. Kecuali ilusi yang diproduksi ideologisasi dan dogmatisme.

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Chaerunnisa Aminuddin, S.Ag., M.A.

Chaerunnisa Aminuddin, S.Ag., M.A.
Pendidik dan Pengamat Sosial - Filsafat dan Teologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta - Sosiologi Flinders University of South Australia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean