Home / Kesehatan dan Farmakologi / Gagalnya Serangan ‘Frontal’ Perawat RS Panti Rapih Jogjakarta terhadap Anak Kesayangannya
Merenda Istimewanya Jogja
Bhara, umur 12 tahun, ia memberi pertanyaan yang sangat penting bagi setiap orang (dok. pribadi)

Gagalnya Serangan ‘Frontal’ Perawat RS Panti Rapih Jogjakarta terhadap Anak Kesayangannya

Oleh: Katharina Indah Aryanti, Amd.Kep.

Jogjakarta, Aquilajogja.com – “Mama, anak-anak kok bisa kena diabetes sih,” selidik putraku Bhara kepadaku.

Pertanyaan anak umur 12 tahun ini tampaknya makin banyak diajukan orang-orang dewasa juga karena umumnya orang mengasosiasikan diabetes, atau kencing manis, dengan usia tua bahkan bagi sebagian orang, penyakitnya orang kaya.

Aku  baru pulang kerja. Aku menginginkan rumah, pelukan sang anak, bukan rumah sakit. Akan tetapi Bhara memberi pertanyaan yang urgen bahkan bagi perawat seperti diriku. Tiada pilihan lain, kucoba jelaskan, tentunya bukan dengan cara dokter, namun cara seorang ibu yang sehari-hari menggulati isu serupa.

Seseorang sakit gula bisa karena beberapa sebab, kataku memulai percakapan. Mungkin secara genetik ia berisiko mendapatkannya karena salah satu atau lebih dari keluarganya, entah langsung atau kerabat sedarah, memiliki riwayat kencing manis. Sebab lain adalah pola makan atau gaya hidup yang kurang sehat, misalnya kebiasaan makan yang berlebihan, sehingga menyebabkan tubuh kewalahan menyimpan gula.

Tubuh manusia bukan mesin atau penampung, namun sebuah sistem biokimiawi istimewa yang harus dihormati. Saat kita makan, karbohidrat yang tercerna akan menjadi gula apalagi jika mengkonsumsi makanan yang mengandung gula (glukosa) tinggi, otomatis butuh harus bekerja keras untuk menyimpannya supaya kadar gula dalam darah tidak berlebihan.

Supaya mekanisme di atas berlangsung baik, tubuh membutuhkan ‘petugas’, namanya insulin.

Insulin adalah hormon alami yang dihasilkan oleh pankreas. Ketika kamu makan, pankreas melepaskan  insulin supaya tubuhmu bisa mengubah glukosa menjadi energi untuk disebarkan ke seluruh tubuh.

Insulin juga semacam asisten yang membantu tubuh menyimpan energi, kataku lagi.

Merenda Istimewanya Jogja
Ilustrasi (Istimewa)

Kutatap Bhara untuk memastikan dia mengikuti penjelasan ala ibu-ibu ini. Diam-diam kutemukan sebuah alasan manis untuk mengomelin kebiasaannya ngemil dan minum soft drink. Salahnya sendiri, mengapa membuka lebar-lebar ‘jebakan Batman’ bagi dirinya!

Insulin, kataku melanjutkan, bertugas membuka pintu agar karbohidrat, yang  menjadi glukosa yang dibutuhkan sel-sel sebagai sumber energinya, agar bisa masuk di otot dan tersimpan tak menumpuk di dalam darah. Jadi glukosa ibarat bensin yang membuat motor kesayangan Mama bisa melaju lewat rumah taksiranmu, kataku menggoda. Bhara tertawa lepas.

Aku senang dia tampak rileks, bagus untuk poin terpenting yang sedang kupersiapkan dengan seksama ini. Pikiran segera mau segera cuci muka, rasanya penat sekali, menghilang seketika berganti gairah karena peluang emas di depan mata.

“Nah, tubuh manusia selalu membutuhkan pasokan energi, jika kurang, akan terasa lemas. Makanya saat lapar sekali, kita bisa merasa sangat lega setelah minum teh manis kental lantaran sel-sel seketika mendapat pasokan gula.” kataku menutup pembicaraan.

Bhara rupanya belum puas, katanya, “Pertanyaanku belum dijawab, mengapa anak-anak bisa terkena diabetes?”

Aku sadar memang belum menjawab secara lugas, sementara stok penjelasan makin sedikit! Tetapi justru rasa ingin tahunya ini sangat pas untuk ‘serangan frontal’ mak-mak pada anak kesayangannya.

Ketika insulin tak bekerja secara maksimal, atau ketika sebagai ‘juru kunci’ pembuka gudang penyimpanan energi insulin tak tersedia dalam jumlah yang mencukupi, gula otomatis tidak diubah secara maksimal. Gagallah penyimpanan gula dalam sel-sel tubuh. Pada saat yang sama, kadar gula darah tinggi menjadi berlebihan. Seiring dengan waktu, seseorang bisa terkena diabetes.

Merenda Istimewanya Jogja
Cek gula darah berkala sangat dianjurkan dan bisa dilakukan sendiri di rumah (Istimewa)

“Jika sudah terkena diabetes,  apa yang terjadi?” tanya Bhara lagi.

Namanya juga kadar gula berlebihan dalam darah, bisa macam-macam, kataku. Pembuluh darah dapat mulai terganggu, misalnya, menyempit. Jika yang menyempit di jantung, kelak bisa komplikasi jantung. Jika yang menyempit pembuluh darah di otak, kelak bisa menyebabkan stroke. Jika yang menyempit pembuluh darah kaki, kelak komplikasinya bisa berupa luka yang sulit sembuh.

Lalu aku melanjutkan sendiri, tidak menunggu pertanyaan lanjutan darinya. “Jika dikatakan kadar gula darah tinggi, apa yang terjadi? Artinya pasokan gula ke otot tidak maksimal, padahal kamu membutuhkan tenaga buat main bola. Nah, di situ otakmu nyuruh tubuh kamu untuk memberikan gula.” kataku berharap Bhara sudah memahaminya sekarang.

“Kan gulanya ada di darah, mengapa tidak diambil saja?” kejarnya lagi. Terpaksa aku harus menunda peluncuran rudal seranganku.

“Iya benar, tetapi insulin sebagai kunci gak bisa buka pintunya biar gula di darah bisa dipakai, makanya otak nyuruh kamu makan terus, padahal kamu kan sukanya makan, cocoklah! Itulah mengapa orang yang gulanya tinggi rasanya lapeeerrrr terus. Udah gitu kalo otot gak sabar dia akan buat gula sendiri. Nah kacaunya di sini, otot bikin gula hasil pemecahan otot itu akan meracuni tubuh, maka mengapa orang sakit gula jatuh dalam keto asidosis.

Bhara tampaknya mulai tak paham, aku juga mulai kehabisan akal. Aku inginkan rumah, bukan rumah sakit. Serang sekarang, atau tidak sama sekali!

Merenda Istimewanya Jogja
Olahraga teratur sangat dianjurkan agar tubuh tetap sehat (Cahya Mafinanick, Instruktur Zumba)

Maka bergegas aku menutup dengan nasehat yang sudah lama ingin kusampaikan, “Jangan masukkan racun ke tubuhmu secara berlebihan, yaitu gula.  Itu minuman kemasan yang tak jelas kadar gulanya, yang kamu sukanya macam bayi minum ASI, jangan diminum kayak orang tersesat di padang gurun Arab Saudi. Sekalipun secara genetik kamu tidak ada keturunan diabetes, gula berlebihan yang tidak seimbang dengan kadar insulin sang kunci gudang bisa membuatmu terkena diabetes.”

Aku dengar dia beringsut. Aku senang, karena kupikir dia mulai ‘terintimidasi’. Ini bagus demi kesehatannya.

“Intinya sih itu. Jadi Mama juga perlu bilang ke ayahmu bahwa kopi instan juga diragukan kopinya, kayaknya banyak gulanya, mirip susu kental yang nggak ada kental kentul-nya sama sekali. Ayah itu harusnya kayak Mama yang suka kopi hitam nan pahit, karena kepahitan hidup kadang harus mewarnai. Manisnya hidup kita yang tentukan. Jika minumanmu kurang manis, liat mama yang overload manisnya tetapi aman gak bikin diabetes.”

“Manisnya Mama itu cuma bikin kamu rindu pingin dipeluk!” kataku menuntaskan pidato mak-mak.

Aku menoleh ke belakang dengan senyum semanis mungkin, menatap Bhara yang melongo. Eh maksudku, justru aku yang melongo. Bhara sudah menghilang tak berbekas. Ternyata suara beringsut yang kudengar tadi memang benar reaksi anak terintimidasi maknya. Sekaligus berindap-indap kabur!

Mendadak kepalaku pusing. Bisa-bisa aku yang kena diabetes, stress rasanya memikirkan konsumsi soft drink Bhara yang luar biasa!

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Katharina Indah Aryanti, Amd.Kep

Katharina Indah Aryanti, Amd.Kep
Perawat RS Panti Rapih Yogyakarta - Penghobi Masak - Akademi Keperawatan Panti Rapih Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean