Home / Pendidikan dan Kampus / Mengapa Jogja Ngangeni? Tempat Belajar Paling Asyik Bagi Mahasiswa Jogjakarta
Merenda Istimewanya Jogja
Angkringan khas Jogja telah go national hingga di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan (Tribun Kaltim)

Mengapa Jogja Ngangeni? Tempat Belajar Paling Asyik Bagi Mahasiswa Jogjakarta

Oleh: Lio Bijumes Frand, S.Sos.

Jogjakarta, Aquilajogja.com – Jogja dikenal sebagai kota pelajar, tempatnya kampus-kampus besar dan ternama di Indonesia, sebuah magnet raksasa yang menarik anak-anak bangsa dari seluruh negeri. Sanata Dharma, Mercu Buana, UKDW, UGM, UNY, UII, UIN dan Atma Jaya, sekadar contoh kampus-kampus yang mengkilat karena prestasi dan prestise.

Pertanyaannya, apakah setiap mahasiswa otomatis berprestasi hanya karena kuliah di Jogjakarta?

Setiap kota punya keistimewaan dan karakteristiknya masing-masing. Setiap orang bisa berprestasi di manapun ia belajar. Maka pertanyaan yang lebih relevan adalah bagaimana para mahasiswa Jogja menggapai ilmu dengan memanfaatkan berbagai fasilitas kampus maupun berselancar dalam kultur Kota Pelajar.

Ilmu bagiku ibarat buah sebuah pohon yang ditanam dengan seksama. Kalau pekerjaan utama mahasiswa adalah belajar, belajar berarti merencanakan penanaman secara matang, mulai dari penyiapan lahan, seleksi bibit dan perawatan sinambung.

Bukan proses instan, bibit yang ditanam hanya bisa dipanen kelak buahnya. Jika rajin merawat, buah yang akan dinikmati akan lebih baik pula. Ilmu juga mentaati hukum alam ini. Seperti kata pepatah ‘berusahalah menuntut ilmu karena kamu akan menikmatinya di kemudian hari’.

Aku ingin menggali lebih jauh apa resep belajar, strategi penanaman bagi mahasiswa-mahasiswi Jogja. Dan percaya atau tidak, tempat yang kupilih untuk servei kecil-kecilan ini adalah “warung angkringan”, tongkrongan khas Jogjakarta.

(Baca juga: Bagaimana Mahasiswa-Mahasiswi Jogja Memotivasi Dirinya?)

Aku duduk di Angkringan Oliz, ada beberapa mahasiswa sedang berdiskusi ringan. Tangan-tangan mereka tak lupa menyela dengan gorengan hangat dan segelas kopi. Bercanda gurau sambil berdiskusi. Topiknya pun sehangat panas dari bara tungku, yakni tentang dunia kampus dan berbagai fenomena di kalangan mahasiswa.

Kelompok ini rupanya sedang membicarakan situasi dan suasana yang sangat mempengaruhi efektivitas belajar bagi mahasiswa. Mereka sadar benar bahwa lingkungan yang tidak nyaman berpengaruh terhadap hasil belajar.

Merenda Istimewanya Jogja
Dua orang mahasiswi kampus APMD Yogyakarta (Istimewa)

“Kebanyakan pelajar atau mahasiswa lebih senang belajar dalam situasi yang santai sehingga mereka tetap fokus dan berdiskusi. Nah, menurutku perpustakaan, yang banyak menyediakan banyak buku dan referensi, adalah lokasi paling asyik untuk belajar,” ujar Agung, mahasiswa STIA “AAN” Yogyakarta.

Aku sepakat, perpustakaan memang menjadi pilihan sebagian mahasiswa untuk mendapat informasi entah buku, majalah atau jurnal. Perpustakaan juga menyediakan internet dengan kecepatan tinggi serta situasi yang nyaman dan tenang untuk belajar. Belum lagi di sana bisa mengintip orang yang kamu taksir!

“Menurut saya tidak hanya perpustakaan yang dapat membuat kita nyaman saat belajar. Suasana kedai kopi atau “angkringan” ini menjadi pilihan saya untuk bertahan berlama-lama di sini. Mungkin karena suasana tenang dan santai saat diskusi dengan teman-teman apalagi belajar sambil minum kopi bagi saya itu menyenangkan,” tambah Andi, mahasiswa APMD Yogyakarta

Memilih tempat belajar yang menyenangkan dan nyaman tentu sebuah keharusan, sebuah kecerdasan. Tempat belajar harus memungkinkan seorang mahasiwa merasa senang dan nyaman supaya materi lebih mudah dicerna dan disimpan memori.

Perpustakaan dan angkringan sebenarnya merepresentasikan dua lokasi favorit yang disesuaikan dengan strategi dan tipe belajar seseorang. Setiap orang unik dan efektivitas belajar seseorang mengikuti modalitas yang khas. Ambil contoh, seorang tipe  audio justru akan mudah mengunyah materi dengan mendengarkan atau dalam lingkungan yang ‘berbunyi’.

Di sisi lain, “Bila merasa nyaman di tempat makan siang, dalam kelas, maupun saat berkunjung ke musium juga dapat menjadi pilihan yang bisa dipergunakan menambah pengetahuan dan kenyamanan belajar. Kami menyebutnya off-campus.” tambah Vani dan Putri

Malam semakin larut, tak terasa dingin kian menggigit. Aku memperoleh perspektif yang sangat kaya tentang strategi dan lokasi belajar paling asyik bagi mahasiswa-mahasiswi Jogja.

Kampus-kampus menjadi tempat menyenangkan untuk menambah ilmu dan teman, bukan ajang bergaya atau menindas adik-adik kelas, karena kultur Jogja, termasuk angkringan, mengakomodasi berbagai tipe pembelajar. Itu ceritanya mengapa Jogja ngangeni.

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Anda mahasiswa, klik di sini

About Lio Bijumes Frand, S.Sos.

Lio Bijumes Frand, S.Sos.
Aktivis Pemuda - Sedang Magister Manajemen UKDW Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean