Home / Headline / Part 1/3 – Catatan Seorang Pastor Katolik: Riwayatmu Kini Jawa O Jawa
Merenda Istimewanya Jogja
Lukisan Maestro Basuki Abdullah "Women Java" ini bisa dipakai untuk mengingatkan bahwa di era Tanam Paksa, jutaan wanita Jawa tinggal tulang-tulang (Istimewa)

Part 1/3 – Catatan Seorang Pastor Katolik: Riwayatmu Kini Jawa O Jawa

Oleh: Rm. Dr. Lorensius Sutadi, Pr. & Rudy Ronald Sianturi, Hum.

Semarang, Jawa Tengah, Aquilajogja.com – Aku pikir, seperti kebanyakan orang dalam bis, aku mengalami yang disebut ‘aliran kesadaran modernis’ dalam perjalanan Semarang ke Jogjakarta. Pikiran dan perasaanku terkoneksi dengan Jawa tempo dulu kala menatap Jawa tempo sekarang.

Modernisme adalah cara bertutur mengalir tanpa dibebani keharusan memberi “roh” atau ikatan pasti tentang apa yang sedang dikatakan. Pokoknya menceritakan apa yang ada dalam pikiran. Narator hanya mengisahkan bagaimana ia merespon lingkungan sekitarnya.

Putu Wijaya, sastrawan besar Indonesia asal Bali, menggambarkan pikiran manusia modern – kita – katanya, “Hal terpenting dalam bercerita adalah menceritakan apa yang ada di kepala, bercerita nyerocos apa adanya. Kalau tidak tahu, ya tidak tahu. Kalau memang bodoh, ya biar bodoh, tak usah dipintar-pintarkan. “ Dengan begitu, penulis atau pemikir tidak terjatuh dalam jebakan menggurui pembacanya.

Dalam bahasa yang berbeda, modernisme adalah reaksi seseorang (aku) dan kelompok terhadap ‘dunia modern’ yang dipengaruhi oleh praktik dan teori kapitalisme, industrialisme, dan negara-bangsa. Maka sepanjang Semarang – Jogjakarta, aku merespon Indonesia dalam bingkai Jawa.

Kisahnya bermula setelah aku selesai kontrol dokter pasca operasi baru-baru ini. Dari RS Elizabeth, Semarang, aku naik taksi ke pangkalan bis semi resmi di Sukun untuk naik bis ke Jogja.

Rasanya senang akan melewati Seminari Menengah Mertoyudan, awal aku dididik sebagai calon pastor. Pikiranku bernostalgia ke masa-masa sedang diisi dengan semangat pelayanan pada sesama dan dunia.

Merenda Istimewanya Jogja
Kampoeng Kopi Banaran, Bawen, Wisata Agro PT. Perkebunan Nusantara IX (Istimewa)

Suasana di pangkalan Sukun masih seperti dulu,  beberapa orang menawarkan bis dengan setengah berteriak: Wonosobo, Wonosobo!

Aku putuskan mengambil bis Patas ber-AC.

Pedagang asongan naik, dia menawarkan tahu goreng yang kusukai. Terdengar lagu “Rupiah” Rhoma Irama walau bukan dia lagi yang menyanyikannya, disusul lagu-lagu dangdut klasik. Seseorang asyik ikut bernyanyi di belakangku.

Semuanya seperti dulu, seakan sesuatu enggan berubah di tengah dahsyatnya perubahan-perubahan di tanah Jawa.

Dan betul, bis ternyata ngetem seperti biasanya. Untunglah akhirnya berangkat, tidak lama menunggu. Kami kembali ditemani lagu-lagu dangdut. Menyusul lagu-lagu syahdu merintih seperti “Gelas-Gelas Kaca”. Bahkan “Bukit Berbunga” yang aku lupa nama penyanyinya ikut berdendang. Seingatku, grup akustik pernah membawakannya di Solo.

Di sepanjang Semarang ke Jogjakarta jejeran rumah belaka. Jalan bagai sungai, rumah-rumah bagai tebingnya.

Namun sesuatu yang berbeda timbul sebelum dan sesudah Ambarawa. Dari ketinggian bis dan jalan, terlihat sawah terhampar di seputar Rawa Pening yang surut oleh kemarau. Tampaknya sedang musim tanam.

Pikiranku melayang ke masa lalu Jawa. Pelaut-pelaut mengangkut padi dan beras ke Batavia (Jakarta), kepulauan Maluku, bahkan hingga Malaka dan Johor, Malaysia. Produksi padi Jawa kini menyusut drastis. Thailand mengambil alih peran Jawa secara telak!

Setelah Ambarawa, terlihat kebun kopi. Hati pedih mengingat masa lalu Jawa. Petani-petani harus membagi keuntungan mereka dengan pada pembesar Jawa, golongan aristokrat yang notabene pribumi. Makin pedih rasanya teringat era Tanam Paksa.

Merenda Istimewanya Jogja
Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa: Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa, 1720-1870, Jan Breman, Obor Indonesia, mengulas Tanam Paksa (Istimewa)

Tanam Paksa (1830-1870) ditetapkan Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch. Setiap desa wajib menanam komoditi ekspor (seluas 20% dari lahannya) , seperti tebu, tarum (nila), teh dan kopi. Yang tak memiliki tanah harus bekerja 75 hari dalam setahun (20%) pada kebun-kebun milik pemerintah kolonial. Artinya, rakyat dipaksa menanam kopi untuk Kompeni tanpa dibayar atau dibayar sangat murah.

Dalam prakteknya, seluruh lahan pertanian wajib ditanami, dan rakyat wajib bekerja setahun penuh di perkebunan tanpa bayar. Atas jasanya memakmurkan Kompeni yang tadinya bangkrut akibat Perang Diponegoro (1825-1830), dan Belanda (yang hingga berakhirnya Tanam Paksa mendapat sekitar 823 juta gulden), van den Bosch dianugerahi gelar Graaf (bangsawan) oleh Raja Belanda pada tanggal 25 Desember 1839!

Jawa dilanda kemiskinan, busung lapar, berubah status. Jawa menjadi budak-budak wong londo atas ‘ijin’ pembesar-pembesar lokal. Multatuli (Eduard Douwes Dekker, 1820-1887)) mengkritik ‘perbudakan paling biadab’ dalam sejarah Jawa ini dalam novel satiris Max Havelaar (1860).

Kopi sungguh terasa pahit di hati. Jawa, Nusantara, sekarang masih seperti dulu, minimal hingga titik tertentu, terasa sungguh memilukan. Kopinya dituang dalam gelas-gelas merek asing: KFC, Starbucks. Setiap tahun, 50 ribu ton biji kopi dari Indonesia, khususnya dari Sumatra Utara, dikirim ke Amerika untuk dicampur dengan kopi-kopi negara lain, lalu diekspor ke Indonesia sebagai gaya hidup urban.

Kita yang punya kopi, kita hanya peminum kopi. Dan kita bangga dengan identitas urban, tamu di negeri sendiri, yang dijejalkan ke dalam aliran kesadaran bangsa.

Pikiranku menggumam, “Jawa masih seperti dulu, hanya ganti kompeni-nya.” Bersambung ke Part-2

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Rm. Dr. Lorensius Sutadi, Pr.

Rm. Dr. Lorensius Sutadi, Pr.
Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Ketapang, Kalbar - Pastor Paroki St. Gemma, Ketapang - Mantan Dosen Teologi di Malang dan Pontianak - Teologi Dogmatik Universitas Gregoriana, Roma - Post Doktoral di Jerman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean