Home / Foto & Video Nusantara / Gadis Nusantara Asal Biak, Papua, Merenda Istimewanya Pantai Owi
Merenda Istimewanya Jogja
Sunset menawan di Pantai Bosnik, warga Pulau Owi datang ke sini di hari pasar (dok. pribadi)

Gadis Nusantara Asal Biak, Papua, Merenda Istimewanya Pantai Owi

Oleh: MareyKe Pattipeilohy

Biak Numfor, Papua, Aquilajogja.com
Kamu berada di mana?

Sebuah pulau di seberang Pulau Biak, Papua, disebut Owi yang kadang terdengar seperti Jokowi. Di setitik surga yang jatuh ke bumi ini, begitu orang menyebutnya, tinggal sekelompok suku Biak asli yang menghuni kampung kecilnya.

Ditempuh sekitar sejam berperahu dari Biak, pantai Owi menghamparkan pasir putih halus berkilau. Di karang-karang lautnya, ribuan spesies ikan berenang-renang.

Aku penyuka “sunset”, mungkin agak terobsesi mencari situs-situs matahari tenggelam yang rupawan. Betapa nyaman duduk beralas pasir sambil menikmati setiap detik menakjubkan saat horizon berpendar di laut yang buih-buih berkeriapan.

(Baca juga: Anak Kupang Main Pasir di Pantai Tambakrejo, Blitar)

Ke Pulau Owi, pelancong biasanya menyeberang hanya untuk rekreasi dan bermalam di pantainya. Kamu bisa menikmati surya terakhir sambil mengunyah ubi rebus ditemani ikan bakar yang masih mengepul.

Banyak hasil laut di sana. Dalam bahasa setempat, ada ikan samandar, bubara, ikan merah atau aneka ikan batu. Ada juga teripang yang biasanya direbus masyarakat sebelum dikeringkan dan dijual kepada penadah.

Nelayan setempat sering mengolah teripang dengan cara ditumis peda dan dilahap dengan keladi atau papeda (bubur sagu). Aku paling suka panganan yang disebut “teba” (tepung barapen), yaitu tepung yang dipanggang di atas batu panas (barapen). Nikmatnya sungguh terasa, apalagi disantap dengan  ikan laut berkuah.

Merenda Istimewanya Jogja
Surya terakhir di hamparan pasir Pulau Owi (dok. pribadi)

Sunset punya kisah khusus bagiku. Bias-bias cahaya belum usai ketika kucelupkan teba ke dalam cangkir kopiku. Ombak menderu di bibir pantai, Owi merenda solekan surgawinya, angin semilir. Kubiarkan asa mengelana tanpa peduli tepi.

Terakhir kami sekeluarga ke sana, warga kampung menyumpit ikan-ikan yang tertangkap jaring tarik sebelum dibakar dengan sabut kulit kelapa. Di luar dugaan, harum yang menggoda ternyata lebih kencang dan daging ikannya terasa sangat menggiurkan.

Pulau Owi sebenarnya  memiliki lapangan terbang tetapi sudah lama tidak difungsikan sehingga kini tertutup rumput-rumput.

Bosnik terletak di wilayah timur Pulau Biak, bisa dijangkau sekitar 10 menit dari pusat kota. Di hari pasar, yaitu Selasa, Kamis dan Sabtu, giliran warga Owi  berdatangan ke sana untuk menjajakan dagangannya. Berbagai jenis ikan,  biak (hewan bercangkang) dan kepiting kelapa, sebagian sudah diasap atau ditumis, tergelar bagai sebuah karpet biota laut.

(Baca juga: Monyet Mencuri Kelapa Biarawati di Pantai Jember, Sesama Ciptaan Allah Haruskah Berperang?)

Setiap kali tenggelam di keriuhan Pasar Bosnik, dan mata menikmati hasil laut yang menghadirkan warna-warna istimewa di kedalaman sana, ingatanku teringat surya yang mengelus hamparan pasir Owi. Aku berada di bumi Papua, surga Nusantara, yang tidak boleh tenggelam hanya karena sebagian orang di Indonesia tidak mengenalnya.

Merenda Istimewanya Jogja
Bosnik, Biak Timur (dok. pribadi)

Kuharap kamu bersedia berada di sana bersamaku, langsung atau melalui tulisan ini, sebagai ekspresi kebhinekaan yang sesungguhnya. Aku sendiri menyebut diriku Gadis Nusantara sebagai blasteran Biak Numfor, Ambon dan Solo.

Apa pendapatmu tentang Istimewanya Jogja?

Aku mengenal Jogja sebagai kota pelajar yang menarik banyak orang ke sana. Bulan depan bakal ke sana mengantarkan seorang keponakan yang hendak meneruskan kuliah. Setiap hari aku berinteraksi dengan kekayaan budaya negeriku, maka aku tentunya ingin mencicipi surga kultural Jogja.

Aku berjanji akan mencicipi kuliner Kota Gudeg, menyatu dengan degup jantung masyarakatnya bahkan ingin belajar membuat tempe, menghadiahi diriku pernak-pernik suvenir tradisional seperti sandal dan kalung dari kayu. Papua menyukai hal-hal ini, dan menggembirakan bahwa istimewanya Jogja juga karenanya.

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About MareyKe Pattipeilohy

MareyKe Pattipeilohy
Lahir besar di Pulau Biak Numfor, Sunset Hunter - Jayapura, Papua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean