Home / Kesehatan dan Farmakologi / Sumbing yang Dianggap Kutukan Rupanya Kondisi Medis yang Ditanggung BPJS
Merenda Istimewanya Jogja
Bruce Lee ibarat legenda yang 'dikutuk', dan kutukan itu diturunkan kepada juga putranya, Brandon Lee. Kematian tragis keduanya mengilustrasikan kuatnya peran kutukan untuk menjelaskan sesuatu yang dianggap aneh atau mengerikan (Ilustrasi/Istimewa)

Sumbing yang Dianggap Kutukan Rupanya Kondisi Medis yang Ditanggung BPJS

Oleh: dr. Robertus Arian Datusanantyo, M.P.H.

Surabaya, Aquilajogja.com – Adalah ironi bahwa sebagian masyarakat Indonesia, yang menurut survei menempatkan agama di atas segalanya, justru ketakutan pada kutukan. Dan ketakutan bisa membuat mereka bersikap tak adil pada sesamanya yang menderita.

Kondisi medis seperti bibir sumbing, bahkan ketika jumlah penderitanya tidak lagi banyak di kota-kota besar, merupakan contoh nyata bagaimana kesalehan religius gagal memaknai sebuah penyakit sebagai kesempatan untuk berbuat kasih pada sesama. Sebaliknya ada stigma sebagai hukuman, kesalahan atau dosa yang diturunkan. Sebagian orang bahkan tak segan membully penderita!

Di berbagai daerah di Indonesia, stigma sosial sering dibebankan kepada bayi yang lahir dengan sumbing bibir dan/atau langit-langit dan keluarganya.

Aku dokter, dan pedih rasanya mendapati sesamaku yang masih bayi tak tahu apa-apa diberi label ‘dia yang menanggung kutukan’.

(Baca juga: Luka Bakar di Rumah Tangga, Mengobati Luka dan Mitos)

Sumbing dapat terjadi pada bibir saja, langit-langit mulut saja atau keduanya. Sumbing juga dapat terjadi pada kedua sisi maupun satu sisi.

Istilah kedokteran untuk kelainan ini adalah labio-gnato-palatoschizis. Schizis adalah celah, labio menunjuk bibir, gnato menunjuk pada gusi, dan palato menunjuk pada langit-langit mulut. Beberapa fakultan kedokteran menggunakan istilah dalam bahasa Inggris, yaitu cleft lip and palate (CLP).

Tidak ada penyebab tunggal timbulnya kelainan ini pada bayi baru lahir. Risiko sumbing pada bayi meningkat pada kondisi gizi ibu yang buruk, obat-obatan tertentu, infeksi virus, radiasi, stres pada masa kehamilan, trauma, dan masalah genetik.

Kelainan sumbing dapat dideteksi pada pemeriksaan ultrasonografi (pencitraan menggunakan suara ultra). Bayi yang lahir dengan kondisi ini memerlukan pemeriksaan yang menyeluruh karena sumbing dapat berdiri sebagai kelainan sendiri maupun sebagai bagian dari kumpulan kelainan yang disebut sindrom.

Merenda Istimewanya Jogja
Pemeriksaan Ultrasonografi (Istimewa)

Bayi lahir sumbing akan mengalami potensi gangguan pertumbuhan karena daya hisap air susu ibu yang berkurang karena bocor ke arah hidung. Ia juga berisiko menderita infeksi telinga tengah, gangguan pendengaran, dan gangguan pertumbuhan gigi dan rahang.

Sementara itu, sumbing pada bibir dan/atau langit-langit memerlukan penanganan segera dan berkelanjutan oleh tim penanganan dari berbagai disiplin ilmu. Operasi pertama pada penderita dilakukan pada bibir di usia tiga bulan. Apabila ada celah di langit-langit mulut, operasi akan dilakukan tahap berikutnya pada usia 10-12 bulan dengan harapan saat anak belajar bicara parut operasi sudah sembuh dan melunak sehingga suara tidak sengau.

Penderita kemudian juga akan dirawat oleh dokter gigi untuk membentuk lengkung rahang yang baik untuk mempersiapkan operasi tahap berikutnya bila masih diperlukan.

(Baca juga: Seorang Pastor Katolik Mencari Allah di antara Sahabat-SahabatNya)

Dengan semakin majunya pelayanan medis dan pembedahan di Indonesia, operasi sumbing bibir dan langit-langit makin mudah diakses. Selain masuk dalam daftar kelainan yang ditanggung oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, ada beberapa organisasi nirlaba yang bersedia membantu biaya yang timbul untuk operasi rekonstruksi sumbing bibir dan/langit-langit.

Orangtua penderita sumbing sebaiknya mendapatkan pendampingan dari tenaga kesehatan atau oleh kader kesehatan. Hal ini terutama karena penderita memerlukan intervensi dalam memberikan air susu ibu dan mencegah komplikasi seperti infeksi telinga tengah. Selain itu, kita perlu memastikan terpenuhinya syarat operasi minimal pada usia tiga bulan, yaitu berat lebih dari 10 pound (4,54 kg) dan kadar hemoglobin lebih dari 10 g/dL.

Sumbing bukan kutukan, namun kondisi medis yang bisa dijelaskan serta bisa dikoreksi dengan operasi dan pendampingan. Kalaupun orang merasa perlu mengutuk, lebih beralasan mengutuk penderita kanker mematikan, dengan syarat bisa membuktikan bahwa kesalehan memang membolehkannya.

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About dr. Robertus Arian Datusanantyo, M.P.H.

Dr. Robertus Arian Datusanantyo, M.P.H.
FKU & Ilmu Kesehatan Masyarakat UGM Yogyakarta - Sedang Pendidikan Spesialis di Unair, Surabaya **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapi klinis, SDM dan coaching. Sila WA 082135424879.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean