Home / Pariwisata dan Lingkungan Hidup / Part 2/2 – Monyet Mencuri Kelapa Biarawati di Pantai Jember, Sesama Ciptaan Allah Haruskah Berperang?

Part 2/2 – Monyet Mencuri Kelapa Biarawati di Pantai Jember, Sesama Ciptaan Allah Haruskah Berperang?

Oleh: Sr. Hermina Siang, ALMA & Sr. Maria Yosefina Klau, ALMA

Jember, Jawa Timur, Aquilajogja.com – Pantai Tanjung Papuma, Jember, bagai panggangan terbuka, namun keindahannya sangat memesona. Laut di depan kami menggelora, menabrak karang menjulang di tengah laut dan pecahan-pecahan ombak berlarian ke bibir pantai. Kulihat kapal-kapal nelayan di sana, dan sirip di kedua sisinya tampak bergoyang-goyang.

Biarawati sahabatku hendak menyuapkan nasinya ketika sopir kami memberitahu seekor monyet persis di belakang punggungnya. Rupanya di sekitar pantai terdapat ‘komunitas’ primata yang telah berdiam turun-temurun.

Merenda Istimewanya Jogja
Kapal-kapal nelayan dan karang yang tertampar ombak (dok. pribadi)

Sang monyet, tak terduga siapapun, dengan cekatan meraup kelapa muda terdekat dan langsung meminumnya bak manusia yang kehausan. Tingkahnya lucu sekali. Spontan kami tertawa bahkan sempat mencandainya.

Tetapi seperti narasi sebuah film, tertawa kami berganti kengerian tak terduga. Monyet ‘maling’ tersebut berlalu setelah menghabiskan air kelapa curiannya. Tak lama kemudian, bermunculan kawanan besar, sekitar 30 ekor monyet mengelilingi kami, sebagian di pasir dan sebagian lagi, di atas dahan-dahan bakau sekitar. Mereka dalam formasi penyerbuan!

Tidak ada pengunjung lain, sedangkan warung terdekat cukup jauh dari tempat kami duduk. Sepasukan monyet menatap makanan di atas tikar seakan sedang menghitung kekuatan mereka berhadapan dengan 8 orang perempuan berjubah.

Ketegangan mencengkam. Bukan waktunya bercanda, dua spesies berhadap-hadapan.

Pikiranku bergerak secara ‘misterius’, muncul desakan untuk memahami pengepungan monyet dengan ‘adil’. Aku sadar sedang berhadapan dengan (barangkali) penghuni asli ekosistem pantai. Manusia kerap egois menempatkan dirinya di atas segalanya. Dalam kisah penciptaan, Allah memang menetapkan manusia sebagai penguasa yang memberi setiap ciptaanNya nama. Tetapi apakah berarti berhak mengacak-acak jejaring kehidupan?

Bukit dan pasir yang sangat menyenangkan bagi pengunjung tersebut justru tidak ramah pada monyet-monyet. Mereka butuh makan, tetapi tak bisa tergantung pada ekosistem yang telah berubah.

Aku paham sekarang, mereka bukan pasukan monyet, itu hanya persepsi manusia yang terbiasa melihat menurut kepentingannya. Mereka adalah sesama mahluk Allah yang sebagian ruang hidupnya terampas. Maka pengunjung yang datang silih-berganti membawa atau membeli makanan dan minuman mereka anggap bagian dari ekosistem. Singkatnya, sumber makanan!

Kami menepi ke bibir pantai untuk menghindari kontak.

Matahari masih sangat terik, deras ombak memecah dirinya di tepian. Aku menatap langit di atas kepala. Sebuah rahmat pengertian yang tak terduga telah menimpa pikiranku.

Masih beberapa hari sebelum kami terbang dari Surabaya menuju Merauke, Papua. Ada rindu buat anak-anak berkebutuhan khusus, para jompo dan warga pedalaman yang kami layani selama ini. Ada berapa kali kita salah memahami arti keberadaan mereka di dalam kehidupan kita?

Tiket mahal, Pantai Tanjung Papuma dan pasukan monyet, sebuah rangkaian peristiwa yang menampakkan bahwa Allah menciptakan hidup sebagai jejaring yang saling membutuhkan. Merusaknya sama dengan mengundang perang!

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berbagi kisah, klik di sini

About Sr. Maria Yosefina Klau, ALMA

Sr. Maria Yosefina Klau, ALMA
Biarawati ALMA, Pranti Wreda St. Ana Kasilir, Jember - Sekolah Tinggi Pastoral Sosial, Malang, Jatim **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapi klinis, SDM dan coaching (WA: 082135424879)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean