Home / Pariwisata dan Lingkungan Hidup / Part 1/2 – Monyet Mencuri Kelapa Biarawati di Pantai Jember, Sesama Ciptaan Allah Haruskah Berperang?
Merenda Istimewanya Jogja
Pantai Tanjung Papuma, Jember, yang berkarang dan lambaian nyiur-nyiur (dok. pribadi)

Part 1/2 – Monyet Mencuri Kelapa Biarawati di Pantai Jember, Sesama Ciptaan Allah Haruskah Berperang?

Oleh: Sr. Hermina Siang, ALMA & Sr. Maria Yosefina Klau, ALMA

Jember, Jawa Timur, Aquilajogja.com – Sebenarnya tak direncanakan, dan justru karenanya bermakna. Itu persis yang aku alami, harusnya terbang pulang namun terpaksa ditunda sejenak karena mahalnya harga tiket pesawat. Perjalanan lalu ‘menyimpang’, melawan terik mengganas, menuju Pantai Tanjung Papuma, Jember, yang berkarang lagi lambaian nyiur-nyiur.

Kisahnya harus mundur ke belakang, benar-benar ke belakang Republik.

Kami bertiga dari Kota Merauke, Papua, ujung timur penjaga tapal batas NKRI, baru saja mengikuti kegiatan yang diselenggarakan biara pusat konggregasi di Malang. Rasanya seperti reuni sebab dulunya aku kuliah di Sekolah Tinggi Pastoral Sosial (STPS) Malang sekaligus berlatih di panti asuhan yang dikelola biara. Fokus perutusan kami memang melayani anak-anak yang kerap disalahpahami, yakni mereka yang dilahirkan dengan kebutuhan-kebutuhan khusus serta juga para jompo.

Siapa pun tahu bahwa biarawati berada di bawah naungan gereja Katolik, namun karya-karya sosial kami sifatnya lintas SARA. Di berbagai rumah jompo dan panti asuhan milik konggregasi yang tersebar di berbagai kota Indonesia, kami melayani siapa saja yang membutuhkan.

Sudah beberapa tahun aku tinggal dan berkarya di Merauke, khususnya di panti asuhan yang menampung anak-anak berkebutuhan khusus asal Papua. Uniknya, semua teman sepelayananku berasal dari Flores. Tentu kami berharap kelak Tuhan mendapatkan kami sejumlah kolega orang asli Papua.

Merenda Istimewanya Jogja
Menuju Pantai Tanjung Papuma, Jember (dok. pribadi)

Seperti yang aku ceritakan di awal, kami ingin segera balik ke tempat tugas setelah kegiatan di Malang tetapi harus batal karena tiket yang harganya melonjak tinggi. Apakah sesuatu yang buruk dan harus disesali?

Dua sahabat biarawati yang bertugas di Jember, Jawa Timur, menjadi ‘tour agent’ sekaligus tangan ilahi untuk menimpakan rahmat pengertian pada kami. Sambil menunggu keberangkatan, kami  diajak main ke Desa Kasilir, Wuluhan, Jember, tempat mereka berkarya mengelola Panti Wreda St. Ana.

“Ada pantai berkarang cantik, kalian harus menjajal pemandangan dari atas bukitnya,” begitu ‘jualan’ wisata mereka pada kami. Siapa yang harus menolak tawaran menarik? Besok pagi kami harus ke sana!

Tidak sampai sejam mobil membawa kami dengan selamat ke Pantai Tanjung Papuma. Nyiur-nyiur tinggi menjulang, seperti raksasa-raksasa hijau kurus yang mengurung kami dalam teduhnya. Segera kami seakan berlomba menaiki sekitar 150 anak tangga warna-warni menuju puncak bukit kecil.

Merenda Istimewanya Jogja
Anak-anak tangga berwarna-warni menuju puncak bukit (dok. pribadi)

Rupanya tidak salah promosi, debur ombak memecah pantai dan julang-julang karang tampak begitu megah dalam misterinya. Angin berkesiur tajam, panas membara, tetapi terbentang luas di tangkapan mata, laut yang mengisahkan bagaimana kehidupan membentuk ekosistem, jaring-jaring mahluk dan non-mahluk yang sangat kompleks.

(Baca juga: Part 1/2 – Lelaki Jogja Suka Menjahit, Minat dan Kesenangannya Membawa Berkah)

Aku terpesona pada keagungan ciptaan. Di bawah sana ada jutaan spesies, siklus angin dan arus bermusim, matahari dan bulan saling berganti peran, serta manusia-manusia yang mendiami -dan mengunjungi- pesisir pantai.

Merenda Istimewanya Jogja
Dari atas bukit tampak pantai yang menawan (dok. pribadi)

Kami pun harus turun, perut sudah meronta minta diisi sedang panas makin menghisap cairan tubuh. Pilihan kami sudah jelas: kelapa muda.

Kami duduk di pasir yang mengasyikkan ini. Tidak lama menunggu, pemilik warung membawa pesanan kelapa yang airnya menyegarkan. Kami jatuh dalam perbincangan hangat, bertukar cerita karena sudah cukup lama tidak bertemu. Sebelumnya aku bersamanya dalam karya di Kupang dan Merauke.

Mendadak wangi ikan laut dipanggang mengejar penciuman kami. Pemilik warung datang sekali lagi membawa pesanan kami. Percakapan tidak berhenti, namun tangan dan mulut ikut beraksi. Kami makan dengan senangnya.

Hingga di titik ini, kisahku baru soal perjalanan kami yang menyimpang. Padahal di atas, aku katakan tentang ‘rahmat pengertian’. Dan tak disangka, pengertian itu justru karena berhadapan dengan seekor monyet dan kemudian, sekitar 30 ekor monyet dalam formasi tempur! Bersambung ke Part-2

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berbagi kisah, klik di sini

About Sr. Hermina Siang, ALMA

Sr. Hermina Siang, ALMA
Biarawati ALMA, Merauke, Papua - Sekolah Tinggi Pastoral Sosial Malang, Jatim **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapi klinis, SDM dan coaching (WA: 082135424879)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean