Home / Sosial Budaya dan Politik / Matematika Politik Nasional, Apakah Kita Siap Menjadi Masyarakat Negatif?
Merenda Istimewanya Jogja
Masyarakat negatif kurang mensponsori silaturahmi lintas SARA seperti gadis Muslim yang menghadiri Natalan teman baiknya ini (Aquilajogja)

Matematika Politik Nasional, Apakah Kita Siap Menjadi Masyarakat Negatif?

Oleh: EmKhébé, S.Ag.

 Jakarta, Aquilajogja.com – Isi kesadaran masyarakat dan bagaimana menuturkannya cenderung dipengaruhi oleh aura perpolitikan nasional.

Sebuah upaya simplifikasi, tanpa terjebak pendekatan simplistik, adalah membaca politik sebagai proses pro dan kontra dalam rangka menghasilkan sintesa. Demokrasi normalnya demikian, namun apakah kegaduhan setiap hari di negeri ini sudah mencerminkan dialektika pada level yang menyehatkan?

Kelompok pro pemerintah umumnya membanggakan dan atau menarasikan kemajuan yang dicapai oleh pemerintah. Biasanya disertai sejumlah bukti, seperti angka, foto, video, reportase media kredibel atau testimoni. Tentu saja terkadang ada hal-hal yang tidak atau belum terverifikasi namun diklaim sebagai prestasi atau fakta.

Merenda Istimewanya Jogja
Komunal dan gotong royong (Istimewa)

Di seberangnya, kelompok yang kontra pemerintah tampaknya menempatkan diri sebagai oposisi selalu yang nyaris selalu menilai pembangunan maupun kebijakan pemerintah secara negatif. Banyak tokoh oposisi terbiasa melontarkan pernyataan yang sangat negatif bahkan cenderung bernuansa fitnah, karena kurangnya data yang benar serta akurat.

Kalau menimbang fakta sosial masyarakat kita di atas, demokrasi rasanya belum merupakan model yang tepat untuk mengukurnya. Saya menawarkan cara pandang ‘matematis’, yakni kedua kelompok yang berseberangan tersebut ibarat simbol positif dan negatif di dalam hitung-hitungan. Pendekatan ini akan lebih mengungkap kecondongan tiap kelompok baik isi kesadaran maupun bahasa tuturannya.

Simbol Plus dalam Masyarakat

Simbol tambah atau plus selalu bernuansa dan beraura positif. Di dalam lambang itu terkandung makna tambah, pertumbuhan, kemajuan, perkembangan, kegembiraan, partisipasi, gotong royong, dan lain-lain yang baik. Suatu nilai positif ditambah dengan hal positif yang lain menjadi kedahsyatan yang mendewasakan.

Masyarakat yang diperintah oleh pemimpin yang positif, kegiatan atau pekerjaan mereka juga cenderung tentang hal-hal yang baik demi kepentingan orang banyak atau bersama. Golongan yang besar atau mayoritas menolong mereka yang minoritas sehingga identitasnya tetap eksis dan tidak menjadi kabur.

Sebaliknya kelompok minoritas tidak menjadi manja, melainkan juga berpartisipasi dalam pembangunan, meskipun sumbangan mereka kadang sedikit. Wujud partisipasi itu membuat yang positif semakin positif untuk menjadi gerakan kebaikan nasional demi kesejahteraan bersama.

Merenda Istimewanya Jogja
Selalu bersyukur (Istimewa)

Di dalam masyarakat yang serba positif ada keyakinan bahwa ada solusi untuk setiap masalah. Kegelapan dibuat menjadi terang, kotor dibuat bersih, penyakitan diusahakan sembuh, yang lapar diberi makan, yang malas dimotivasi, yang bodoh dibimbing, mereka yang telanjang dibimbing cara membuat pakaian, pengangguran dibina dengan lapangan pekerjaan.

Negara yang diperintah oleh presiden dan jajaran pemerintahan yang beraura positif akan membuat negara itu bertumbuh serta berkembang secara luas ke dalam maupun keluar. Banyak negara di Eropa, yang sebelumnya selama 1500 tahun di dalam masa kegelapan, berhasil tumbuh menjadi negara-negara maju setelah memobilisasi energinya pada penciptaan struktur-struktur sosial politik beraura positif, seperti sistem hukum pidana, sains, demokrasi dan kebebasan serta kreativitas individu.

“In hoc signo vinces” yang artinya dalam tanda (positif) ini kamu akan menaklukan; ditransformasikan di benua Eropa sebagai simbol perjuangan demi kebaikan.

Simbol Negatif dalam Masyarakat

Simbol negatif disebut juga kurang atau minus. Tanda ini selalu dipakai sebagai tanda peringatan atau larangan, dan juga menjadi simbol pengurangan. Mereka yang dipengaruhi aura negatif selalu berpandangan serba kurang. Mereka menempatkan diri sebagai kelompok oposisi yang selalu berseberangan, sehingga segala kemajuan selalu dinilai sebagai kemunduran.

Dalam konteks berdemokrasi, kelompok oposisi sangat dibutuhkan sejauh memainkan peran secara benar, yakni substantif meskipun tetap negatif. Negatif di sini adalah fungsi, bukan karakter.

Sangat berbeda, bukannya nalar politik sehat, ketika oposisi berarti suatu masyarakat justru dihasut (dan menghasut) untuk beraura negatif, bukan diedukasi bersikap oposan kritis. Mereka lalu cenderung selalu melihat kelompok beraliran lain secara negatif berdasarkan pendapat sendiri.

Merenda Istimewanya Jogja
Penampilan tenang, santun, namun sesungguhnya mematikan (Istimewa)

Masyarakat negatif rajin melancarkan labelisasi bahkan demoninasi. Kafir, pemalas, miskin, bodoh, kurus, tidak adil, tidak ada kemajuan, negara bisa bubar, pendemo harus diberantas, menggunakan kerusuhan dalam menyelesaikan masalah, selalu menuduh pihak lain, minta dihormati untuk menaikan harga diri, kekerasan menjadi simbol kekuatan dan kekuasaan, serta bersikap otoriter.

Menjelang pilpres 2019, bencana-bencana besar seakan memihak kepada aliran negatif. Benarkah bencana alam terlibat dalam peristiwa manusiawi? Tidak selalu demikian! Ada bencana yang direkayasa melalui tangan dan hati yang negatif. Simbol negatif bila dikalikan dengan positif hasilnya tetap negatif. Dan negatif dikalikan dengan negatif memang menjadi positif, yaitu kedahsyatan bencana.

Belajar dari berbagai negara yang terperangkap dalam situasi masyarakat negatif berkepanjangan, bencana di puncaknya adalah persekusi, terorisme bahkan genosida.

Di titik ini, kita harusnya sudah mampu memilih, apakah rela menjadi masyarakat negatif atau masyarakat positif? Sebelum berdemokrasi, ingatlah “In hoc signo vinces”, dengan simbol positif negara pasti aman berjaya!

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berbagi, klik di sini

About EmKhébé, S.Ag.

EmKhébé, S.Ag.
Katekis dan Pendidik, Jakarta - STFK Pradnyawidya, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean