Home / Catatan Jurnalis / Samba Brasil dan Kaki X Asmat, Bola Papua yang Memperjuangkan Martabat
Merenda Istimewanya Jogja
Seorang pendukung setia Brasil di Kota Merauke (Sinna Petronella)

Samba Brasil dan Kaki X Asmat, Bola Papua yang Memperjuangkan Martabat

Oleh: Rudy Ronald Sianturi, M.Hum.

Merauke, Papua, Aquilajogja.com – Melintas Jalan Raya Mandala Merauke, meski Piala Dunia 2018 masih jauh dari putaran final, melihat kemurungan yang mengejutkan. Lapangan Mandala yang mengambil nama sesuai operasi pembebasan Papua di bawah komando Soekarno dahulu tampak mengesalkan tanpa keramaian lagi.

Ada festival yang menguap sejak Brasil gugur di babak perempat final, ditekuk Belgia dengan skor 1-2. Kafe-kafe yang biasanya ramai dengan seruan ditimpa tepuk tangan mendadak lesu menggayut. Kesebelasan Samba, yang tenar dengan gocekan lihai, ‘panas’ bergoyang pinggulnya seakan Pele tak kunjung usai, memang memiliki fans besar di kota kelahiranku ini.

Apalagi ada Neymar, sang pemain termahal dunia!

Aku bertanya mengapa orang-orang getol dengan pemain-pemain Brasil. Tengok di Kafe Cazoary, Kafe Jusman atau Kafe Phoenam,  tendangan pisang mendesing menggelorakan seisi ruangan. Dan ternyata bukan sekadar Piala Dunia, tetapi demi tim asuhan pelatih Tite yang mengambil kendali timnas Brasil sejak Juni 2016.

Anak-anak Papua telah menjatuhkan pilihan pada bola sejak kecil, termasuk diriku. Segala jenis permainan bola sangat populer di Kota Rusa, demikian julukan bagi Kota Merauke yang menggambarkan rusa-rusa berkeliaran di Taman Konservasi Wasur dan setiap wilayah hutan hingga pedalaman. Bola kaki, futsal, basket, volley, baseball, bahkan bola ‘bokah kelapa’ alias kelapa tua yang mengeras pun kerap dimainkan kala bola karet terlalu mahal dibeli.

Kegandrungan pada segala yang bergulir, berputar, termasuk roda-roda sepeda atau motor yang digelindingkan sambil berlari, tampaknya alasan paling masuk akal mengapa bola, dan karenanya, Brasil sangat disukai. Anak-anak Papua yang lincah, kaki-kaki yang merdeka bergerak ke mana suka, seakan menemukan padanannya dalam tarian pinggang sepakbola Samba.

Perayaan Piala Dunia membangkitkan kembali memori kanak-kanak Papua di benakku. Kembali kulihat diriku sedang mengejar bola di puncak semangat. Anak-anak Papua hitam keriting mengejar bola yang sama di puncak keinginan.

Merenda Istimewanya Jogja
Pele – 10, sang legenda di negara Latin (Istimewa)

Apakah bola semacam metafora bagi ledakan hasrat yang tak terurai dalam kata, dorongan natural untuk menjadi yang diakui, yang diajak turut dalam ‘permainan’ tentang nasibnya di pertarungan global?

Aku bagian dari sebuah etnis yang menenun harapannya dalam permainan yang membutuhkan kesepakatan, di antara kawan dan lawan, tanpa terkecuali, bahwa barang bundar itu bukan sekadar yang diburu, bukan sekadar skor, tetapi harus terlukis indah dalam gol-gol menakjubkan.

Kita harus melongok dalam tetarian Papua yang mengandalkan footwork yang prima, ditopang pinggul gesit yang berkelok seketika. Tubuh penari harus mampu melompat ke arah berlawanan seakan gravitasi tak patut melawannya.

Kaki-kaki Asmat adalah yang paling kusukai sejak kecil. Tariannya membutuhkan stamina, tempo dan estetika optimum. Gerak ritmikal kedua kaki memukul ke dalam, melengos ke luar, terbayangkan huruf  X. Ukuran kelincahan penari yang bakalan menaruhkan ‘hasrat menjadi’ ke puncak harapan adalah saat kedua kaki sanggup memukul lembut lantai, dasar bumi berpijak, sanggup melontar ke luar, ruang hidup bersama, sebuah lambaian bagai kepak kupu-kupu yang tak mungkin kehilangan seimbang.

Boleh dibayangkan, mengikuti trend flash mob, seribu petari X tertangkap kamera drone yang melayang di atas, betapa indah sekaligus mistis dunia kembali dikreasikan.

Bola di Papua, dalam tangkapan pikiranku, adalah soal martabat yang kerap terpukul di meja-meja perundingan internasional. Banyak pihak hendak menentukan nasib rakyat Papua, sejak dahulu, tanpa sekali pun mendengarkan suara Papua.

Tuntutan kolektif pada seni berbola tampaknya serupa dengan tuntutan atas eksistensi dirinya!

Anak-anak Papua, dan itu termasuk siapa saja yang tinggal di Papua, banyak begitu gandrung dengan sepak bola. Mereka membutuhkan sepak bola eksplosif, bukan bertahan 10 pemain ala Prancis yang dipertontonkan dalam laga final. Jiwa-jiwa merdeka Papua melahirkan kreativitas kultural dalam keunikan Melanesia-nya, sebanding passion pemerdekaan diri dalam Samba yang dibawa ke Brasil oleh orang-orang Afrika yang diperbudak kolonialis Eropa.

Keunikan adalah martabat yang disuarakan dan wajib dihormati NKRI, bukan dikucilkan dalam terma-terma menyakitkan: terbelakang, primitif, kasar.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin menulis kisahmu, klik di sini

About Rudy Ronald Sianturi M.Hum.

Rudy Ronald Sianturi M.Hum.
Owner & PEMRED Aquilajogja.com - Univ. Sanata Dharma, Yogyakarta - Asia Research Institute, National University of Singapore - Doctoral Courses De La Salle Univ., Filipina - Memberi pelatihan/konsultasi berbasis SDM, coaching, terapi klinis dan menulis (WA: 082135424879)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean