Home / Catatan Jurnalis / Wajah Papua dalam Film Nasional, Alih Kepemilikan Freeport dan Revolusi Mental
Merenda Istimewanya Jogja
Stevanda Taegernan, sang wajah Indonesia asal Merauke, Papua, bersama kedua adiknya (Reghi Van Taegernan)

Wajah Papua dalam Film Nasional, Alih Kepemilikan Freeport dan Revolusi Mental

Oleh: Rudy Ronald Sianturi, M.Hum.

Jogjakarta, Aquilajogja.com – Kajian sinema adalah salah satu bidang keilmuan yang aku geluti. Satu hal yang aku pelajari adalah pentingnya industri film nasional menampilkan dirinya sendiri. Dan karena wajah merepresentasikan diri,  maka ‘wajah lokal’ harusnya justru yang utama, bukan pengecualian.

Penonton menempatkan dirinya di dalam film melalui proses identifikasi dengan (wajah) pemain. Dalam proses ini, timbul berbagai pengalaman sinematik dan akhirnya, pemahaman.

Wajah lokal berfungsi ganda, bukan hanya menjaga familiaritas dan otentisitas pengalaman. Untuk negara kepulauan seperti Indonesia, ia memungkinkan formasi dan identifikasi dengan komunitas dan masyarakat yang lebih luas, bahkan pada tataran nation-state.

Atas pemahaman sinematik ini, sudah lama aku membayangkan wajah-wajah Indonesia yang lebih mendominasi layar televisi maupun bioskop, bukan artis aktor dengan akting ala kadar asalkan tampak agak indo atau oriental, apalagi bule, Arab, India, Filipina atau mereka yang telah berubah penampilan karena operasi plastik.

Industri yang menyebut dirinya film nasional sembari menawarkan identifikasi via wajah ‘asing’ itu sangat absurd!

Tiga nona cantik Papua yang terekam dalam foto , yang paling besar berulang tahun hari ini, berasal dari Merauke, kota kelahiranku. Aku bersaksi, banyak sekali wajah (dan tubuh) yang gagah dan cantik di sana. Perkawinan antar suku terbilang cukup tinggi dan menurunkan generasi ‘lintas genomik’.  Anak-anak yang dilahirkan dari pasangan orang tua sesuku pun menurunkan penerus yang tampak berbeda dari angkatan sebelumnya.

(Baca juga: Cenderawasih Cantik dan Ganteng diantara Ikan-Ikan di Perairan Merauke)

Di Kota Merauke, penjaga tapal batas Nusantara wilayah timur, paduan DNA terbaik berbagai suku Nusantara membuat ide tentang Indonesia adalah faktual setiap harinya.

Menampilkan wajah-wajah Indonesia di Papua karenanya bersifat strategis dan lebih mencerminkan realita masyarakat sehari-hari. Lagipula, kalau mau mengenal wilayah barat, apa lagi cara lebih efektif daripada menyuguhkan komplemennya dari wilayah timur?

Merenda Istimewanya Jogja
Penandatanganan Head of Agreement penjualan saham FCX dan hak partisipasi Rio Tinto di Freeport Indonesia ke INALUM (Istimewa)

Otak penonton akan memroses informasi visual (komplemen) ini dengan membandingkan, dan karenanya, pemahaman serta pengetahuan sinematik yang diakumulasikan akan lebih berasa ‘gurih’.

Pertimbangan yang sama pentingnya adalah bahwa banyak orang biasanya sangat tertarik pada Papua, tetapi tidak mengenal negeri yang telah menyumbang terlalu banyak untuk Indonesia bahkan dunia.

Sayangnya, kekurangan pengetahuan cukup sering dikompensasikan dengan superioritas konyol. Aku pribadi kerap, selama bertahun-tahun tinggal di berbagai wilayah tengah dan barat, menemukan orang-orang yang kenal sangat sedikit namun berkesimpulan terlalu banyak tentang Papua. Tidak jarang pula sebagian orang, hanya karena tinggal di Sumatra dan Jawa, misalnya, terlepas dari berbagai kekurangan orang-orang Papua di tanah rantau, bersikap kurang pantas hingga tergelincir rasisme.

Indonesia sedang berubah secara radikal di bawah pemerintahan Jokowi. Siapapun bisa melihat fakta ini, bahkan yang paling benci Presiden sekalipun. Bukan hanya infrastruktur dan mimpi sebagai negara besar yang digdaya secara ekonomi, militer, pasar dan sumber daya manusianya, proyeksi Nawacita Kabinet Kerja sesungguhnya hendak mengaktivasi relung-relung terdalam setiap warga.

Revolusi mental, itu dia.

Maka bukan sekadar fisik yang dibangun, tetapi harga diri daerah, khususnya yang memang terlantar meski regim berganti regim. Papua menjadi kasus istimewa mengingat besarnya sumbangsih bagi bangsa, timbunan kekayaan alam di setiap lini dan potensi manusianya yang sudah terbukti berkali-kali di berbagai bidang. Dan ironisnya, bisa dikatakan malnourished – kurang gizi!

Industri film nasional dengan kapasitas sumber daya dan modal yang relatif lebih besar dibandingkan era sebelumnya sudah pantas menggali kreativitas, narasi dan style sinematik dari pergumulan bangsa di Papua. Isu-isu nasional dengan gaung internasional sangat potensial dinarasikan dengan dan/atau di dalam setting Papua.

Edo Kondologit “Aku Papua”, by Franky Sahilatua (Video: Booby Marandoff)

Satu sumber kreativitas filmik, apakah menyangkut alam lingkungan, konflik, perjuangan, romantisme, proses menjadi Indonesia dan lain sebagainya adalah Freeport!

Keberhasilan pemerintahan Jokowi ‘merebut’ kembali kepemilikan mayoritas atas saham Freeport tidak hanya soal kemenangan diplomasi. Ini adalah rasa percaya diri berhadapan dengan wajah-wajah bule atau ras kulit putih yang nyaris selalu digambarkan, kalau tidak mau dibilang dipuja sembah, unggul di layar film (dan begitupun dalam keseharian diperlakukan pasti unggul) secara intelektual, emosional, persuasif dan fisik.

Sebanding dengan Susi yang berdiplomasi sangat asertif, Jonan dan Sri Mulyani berani menunjukkan sebuah bangsa yang tahu siapa pemilik dan tuan sesungguhnya atas emas Papua.

Di tengah-tengah perayaan ini, sebagian orang masih begitu-begitu saja. Mereka tetap merajalela dengan sinisme konyol. Mereka ini tidak bakal merasakan yang paling substantif dari alih kepemilikan Freeport, yaitu bahwa sebesar 10% dari total saham yang dimiliki Indonesia diberikan pada Papua, pemilik sah gunung emas. Inilah harga diri yang luar biasa, tidak jatuh dari langit. Rakyat Papua telah bersimbah darah, sejak kelancangan Orde Baru melego Freeport kepada Amerika ditukar tahta kediktatoran Soeharto, dalam perjuangan mendapatkan haknya selama 50 tahun.

(Baca juga: Surat Cinta Putri Manokwari untuk Presiden Jokowi)

Dipikirkan secara historis, bangsa ini sebenarnya sedang berada dalam pengalaman sinematik yang luar biasa, dengan potensi-potensi tiada berbatas. Papua mendapat momen yang sangat pas untuk tampil sebagai suara, tubuh, karakter, pikiran, sebagai wajah, yang mampu mengerjakan beragam pesan sinematik bagi anak-anak bangsa secara luas.

Aku mau mengucapkan selamat ulang tahun kepada Stevanda Taegernan, sang wajah Indonesia asal Papua yang berulang tahun. Dia, adik-adiknya dan setiap anak di Papua adalah emas sesungguhnya!

Aku Papua, Kita Papua

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini

About Rudy Ronald Sianturi M.Hum.

Rudy Ronald Sianturi M.Hum.
Owner & PEMRED Aquilajogja.com - Univ. Sanata Dharma, Yogyakarta - Asia Research Institute, National University of Singapore - Doctoral Courses De La Salle Univ., Filipina - Memberi pelatihan/konsultasi berbasis SDM, coaching, terapi klinis dan menulis (WA: 082135424879)

One comment

  1. Terimakasih, kami yang belum pernah ke Papua hanya tahu privinsi yang kaya namun manusianya sebagian besar masih primitif. Para pejabat dan pengusaha di Jakarta membusubgkan dada sebagai orang kaya rupanya sebagian kekayaan mereka berasal dari bumi Cendrawasih.

    Terimakasih presiden Jokowi pilih wakil usulanku, karena saya yakin duet kalian berdua akan mampu membawa NKRI ke gerbang abad emas 2045.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean