Home / Mutiara Iman / Jubah dan Batik dalam “Silogisme” Sarat Dogmatisme, Kewajiban Menguak Sesat Pikir
Merenda Istimewanya Jogja
Batik Lasem (Rembang, Jawa Timur) diwariskan Cheng Ho (1413), Admiral Cina yang membawa Islam ke Jawa. Naga dan burung Hong, dua motif royal Cina, adalah jejak historis tak terbantahkan, sekaligus bahwa pakaian sifatnya kontekstual (Istimewa)

Jubah dan Batik dalam “Silogisme” Sarat Dogmatisme, Kewajiban Menguak Sesat Pikir

Oleh: Dr. Abad Badruzaman & Rudy Ronald Sianturi. M.Hum.

Tulungagung, Jawa Timur, Aquilajogja.com – Seorang ustad yang juga aktif  di media sosial mencuit, “Jubah untuk sholat lebih baik dari batik untuk sholat. Jubah untuk demo bela agama lebih baik dari batik untuk bela penista agama.” Maka simpulnya: Jubah lebih baik dari batik!

Aku tidak pasti apakah beliau hendak menyodorkan silogisme ala Aristoteles?

Silogisme, salah satu alas peradaban baik Kristen maupun Islam, merepresentasikan cara bernalar yang sangat penting yang diwariskan peradaban Yunani Kuno. Ia adalah keharusan rasional atas berbagai hal, termasuk fenomena alam yang sebelumnya dijelaskan secara mitologis.

Aristoteles (367 SM–347 SM) seorang filsuf Yunani, salah seorang trinitas ‘berpikir mendalam’. Awalnya adalah Sokrates (469 SM – 399 SM), sang ‘bidan beranak’ yang melahirkan kesadaran kritis para muridnya dengan mempertanyakan asumsi-asumsi mereka secara provokatif.

Sokrates menjadi guru Plato (427 SM – 347 SM), yang pada gilirannya menjadi guru Aristoteles. Plato acapkali memasuki dunia eksoteris, mendalami kejiwaan personal maupun kolektif masyarakat manusia. Ia mewariskan cara berpikir secara idealistik, yang mengejutkan tampaknya lahir kembali, setidaknya secara acak, dalam sains modern via quantum atomik.

Aristoles belajar di Akademi Plato, namun menempuh jalan yang lebih empirik. Dia menuntut pengalaman indrawi untuk menemukan fakta, data dan kebenaran saintifik. Biologi, misalnya, akan abadi berutang budi padanya. Dan sudah pasti, ilmu logika.

Silogisme adalah ukuran logis dari sebuah kesimpulan agar tidak tersesat dalam lompatan pikiran, dan tak terpukau dalam cengkraman fakta berselaput kepentingan-kepentingan ideologis. Ada dua premis yang saling bertautan, universal (mayor) dan spesifik (minor), supaya kesimpulan bisa dipertanggungjawabkan.

(Baca juga: Apakah Teroris Pasti Tidak Beragama?)

Semua manusia pasti mati (premis mayor/kebenaran universal); Sokrates adalah manusia (premis minor/kebenaran faktual); maka Sokrates pasti mati (kesimpulan sahih). Silogisme masyur karena (contoh ideal) proses berpikir yang dipaparkan Aristoteles ini.

Kembali pada cuitan sang ustad di atas, kesimpulan jubah lebih baik dari batik tersebut beliau bangun di atas premis-premis yang, menurut pemahamanku, tidak kokoh bahkan dogmatis. Nalar sehat tidak mengijinkan hal ini!

Apakah jubah akan tetap lebih baik dari batik jika ia dipakai “nyolong” sedang batik dipakai sholat?

Merenda Istimewanya Jogja
Aristoteles (Istimewa)

Pertanyaan ini saja sudah mengguncangkan dua premis yang sama sekali tidak bertautan karena keduanya pada dasarnya berfungsi sebagai mayor, dan pada dirinya tidak mengandung kebenaran universal.

Seorang Muslim yang berpikir, berhadapan dengan cuitan yang meskipun dari seorang ulama, wajib menguliti lebih jauh. Yang aku tawarkan dalam konteks ini adalah secara sosiologis.

Pakaian merupakan produk dan konvensi budaya. Misalnya: jas Eropa, jubah Arab, koko Cina, surjan Jawa, dan seterusnya. Islam datang menyapa aneka budaya, dalam hal ini ragam pakaian. Islam punya kisi-kisi prinsipil soal busana. Prinsip-prinsip ini tidak memberangus budaya, hanya mengarahkannya pada aturan yang dikehendaki  Allah. Dan prinsip Islam yang paling utama adalah satrul aurot; menutup aurat.

Maka tak masalah bila Muslim Eropa berpakaian ala Eropa, Muslim Cina berbaju ala Cina atau Muslim Jawa berbusana ala Jawa. Tidak ada keharusan Muslim berjubah. Mereka hanya wajib menutup aurat seraya melatihkan pikirannya ke semesta tak bertepi.

(Baca juga: Sang Jane Tanjung Balai Karimun, Samudra Batin Perempuan Berjilbab di Pantai Ketam)

“Apakah dengan berjubah otomatis menjadi lebih islami?” Lebih kearab-araban iya. Adapun Islami atau tidak, ukurannya sulukiyat-akhlaqiyat; sikap-tindak-perilaku.

“Bukahkah Nabi berjubah?” Iya. Tapi bayangkan kalau beliau bukan Arab tapi Cina, India, Melayu, atau apalah! Ingat dua orang jahat penentang Nabi, Abu Jahal dan Abu Lahab, juga Arab!

“Tapi saya senang memakai jubah.” Silakan saja. Lebih-lebih bila dengan begitu kamu merasa lebih dekat dengan Nabi. Tapi jangan merasa lebih Islami dari orang yang lebih gemar berbatik.

Di luar itu, masalah pakaian kerap soal kepantasan yang bisa jadi awalnya kebiasaan belaka. Takziyah pantasnya pakai baju hitam, ke musholla pakai koko, kondangan pakai batik, main futsal cukup berkaos. Kepantasan atau kebiasaan itu tidak menjadikan satu ragam busana lebih baik pada dirinya daripada ragam lainnya.

Ada hal lain yang tidak kalah penting untuk direnungkan. Waktu kita sibuk bergunjing soal busana, di sana mungkin sebuah perusahaan besar (asing) sedang survei tempat yang pas buat bangun pabrik tekstil, dengan harga beli tanah murah serta ongkos buruh yang juga murah nantinya. Mungkin saja…

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin bagi pengalamanmu, klik di sini

About Dr. Abad Badruzaman

Dr. Abad Badruzaman
Warek 3 Kemahasiswaan dan Kerjasama, UIN Tulungagung - Universitas Al Azhar Kairo, Mesir - UIN Syarif Hidayatullah Jakarta **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapi klinis, SDM dan coaching. Sila WA 082135424879.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean