Home / Sosial Budaya dan Politik / Metafora Pohon, Islam Nusantara dalam Pandangan Seorang Dosen Psikologi Jogjakarta
Merenda Istimewanya Jogja
Pohon jeruk berbuah lebat di Batu Malang (Ilustrasi/Triyani)

Metafora Pohon, Islam Nusantara dalam Pandangan Seorang Dosen Psikologi Jogjakarta

Oleh: Juwandi Ahmad, M.Si. & Rudy Ronald Sianturi, M.Hum.

Jogjakarta, Aquilajogja.com – Aku bukan pakar kajian Islam, tetapi sebagai akademisi yang Muslim, aku banyak menggali sendiri dan berpartisipasi dalam diskusi publik tentang Islam Nusantara.

Psikologi adalah bidang kajian yang aku geluti, sebuah ilmu yang kaya dengan simbol dan metafor. Islam Nusantara sebagai objek diskusi bisa didekati secara metaforik.

Aku melihat pohon rindang tanpa pemilik yang tumbuh di tepi jalan. Buahnya dipetik banyak orang, lalu ditanam di berbagai tempat. Dari biji ia lantas tumbuh, berbuah, dipetik, dan ditanam lagi oleh orang-orang yang berbeda. Begitu terus menerus, kian meluas dan beragam tempat, dari waktu ke waktu yang berbeda. Sebagian ternyata tumbuh juga dari cangkokan, bahkan sebagian dihasilkan dari persilangan.

(Baca juga: Tanggapan Dosen Psikologi dari Jogja terhadap Pernyataan Rocky Gerung)

Mengikuti kesimpulan Allah di tiap hari penciptaanNya, orang- orang melihat bentuk, warna, dan rasa yang beragam, dan berkata, “Semuanya baik, kita hanya ingin lebih menekankan yang ini daripada yang itu, namun semuanya baik adanya.”

Penalaran simbolik ini menegaskan bahwa Islam yang benar-benar satu dan sama hanya mungkin ada dalam Kitab Suci, dan mustahil dalam nalar batin pemeluknya. Suka atau tidak, Islam akan tetap hadir dengan banyak wajah, nalar, batin, dan laku. Bahkan bila datang orang-orang yang dianggap paling suci, paling faham, akan tetap terlihat variasi dalam perbedaannya.

Itu keniscayaan psikologis dari suatu garis duniawi, kecuali bila di kemudian hari Tuhan menciptakan manusia yang benar-benar sama.

Bila seorang Muslim dibuat bingung, dipusingkan dengan perbedaan, barangkali perlu kembali menginsyafi garis duniawi bahwa tak sesuatupun yang melewatinya terbebas dari pertentangan. Keniscayaan yang sangat sederhana, yang bahkan mudah dipahami oleh mereka yang paling sederhana pola pikirnya.

Merenda Istimewanya Jogja
Bayangkan agama sebuah pohon meranggas oleh tekanan pemahaman literalis (Ilustrasi/Istimewa)

Sekarang pohon-pohon telah bertumbuh di berbagai ruang waktu, masing-masing menurut konteks sejarahnya, dan kian berpelangi ragamnya karena berbagai variabel baru telah dan sedang mengisi dinamisme kedalamannya.

Di titik inilah, sangat logis dan secara etis bertanggung jawab bila mengatakan bahwa Islam Nusantara bukan hanya tentang Muslim, umat, dan ulama. Terlalu sempit dan dangkal mengatakan seperti itu, apalagi membatasi nalar sejauh saya dan liyan, Islam dan kafir.

(Baca juga: Sukun Bertuah di Pulau Ende Menginspirasi Pancasila, Jokowi Membangkitkan Soekarno)

Islam Nusantara adalah soal Indonesia kita, yang turut andil dalam menciptakan dunia, kampung global, yang lebih damai, adil, tulus, produktif atas dasar kemanusiaan, akal sehat, dan nilai-nilai universal, yang ada pada setiap jantung hati manusia, yang Muslim, Kristen, Yahudi, Hindu, Budha, dan siapa saja.

Kabar menyejukkan telah mendatangi betapa sejumlah negara tertarik pada tawaran toleransi dan kebhinekaan dalam Islam Nusantara. Pohon-pohon kita mulai menjadi ‘primadona’, sebuah alternatif agar muka bumi lebih rindang, bukan kegersangan yang diamuk badai pembunuhan.

Generasi milenial Indonesia ketiban pulung, kejatuhan amanah, untuk menyudahi era agama yang penuh konflik tak berkesudahan, yang tak lagi terjebak sejarah, apalagi tersandera Kitab Suci. Perbedaan dan perselisihan akan tetap ada, sebesar apapun keinginan kita untuk meniadakannya. Tetapkan saja kemanusiaan, keadilan, ketulusan dan menjaga akal sehat.

(Baca juga: Guru Tua Pembawa Alkhairaat Bersyiar “Inni Bu’itstu Mualliman”, Aku Diutus Menjadi Pendidik)

Tuan Guru Bajang (GB) belakangan memberi kita tauladan. Dia menyerukan agar tidak menggunakan ayat-ayat perang yang tidak pada tempatnya, dalam politik, berbangsa, dan bernegara. Ada konteks yang berbeda antara masa Nabi dengan Indonesia. Dia tidak sudi terbilang dalam kelompok yang diharapkan dapat membebaskannya, namun  justru menciptakan keterjebakan literal.

Tanamlah pohonmu sekarang, supaya kelak mengucapkan selamat tinggal pada dunia dengan tenang.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Anda akademisi, klik di sini ya

About Juwandi Ahmad, M.Si.

Juwandi Ahmad, M.Si.
Dosen Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta - Universitas Mercu Buana Yogyakarta **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapi klinis, SDM dan coaching. Sila WA 082135424879.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean