Home / Buku, Musik, dan Film / Islam di Persimpangan Pedang dan Kitab Suci, Snouck Hurgronje dan Kritik terhadap Rasisme Orientalis
Merenda Istimewanya Jogja
Christiaan Snouck Hurgronje, Orientalis Belanda yang memiliki 'beragam jejak' di Indonesia (Istimewa)

Islam di Persimpangan Pedang dan Kitab Suci, Snouck Hurgronje dan Kritik terhadap Rasisme Orientalis

Oleh: Muhd. Ruslani, S.Ag.

Jogjakarta, Aquilajogja.com – Orientalisme awalnya adalah kajian dunia Timur dari perspektif Barat. Di tangan Christiaan Snouck Hurgronje (1857-1936), seorang doktor Orientalisme yang merupakan mata rantai terpenting dalam jajaran para Orientalis Belanda, objek kajian Orientalisme berubah secara radikal.

Snouck menolak praktik Orientalisme sebagai apologetik, yakni berupaya membuktikan kebenaran agama Barat, terutama Kristen, dan keunggulan Al-Kitab dibanding kitab-kitab suci agama lain. Dia justru menelaah agama-agama lain, terutama Islam, dan memahaminya dari kacamata orang Islam. Tidak sekadar mencari kelemahan dalam ajaran Islam, dia juga mengupayakan “misi peradaban” melalui ide-ide pencerahan yang mulai memengaruhi kajian Orientalisme waktu itu.

Buku Muhammadanisme memuat pikiran dan gagasan Snouck. Awalnya adalah bahan kuliah tentang Islam yang disampaikan Hurgronje di tahun 1914, sebagai sarjana Eropa yang dianggap memiliki pemahaman paling luas mengenai Islam. Ia juga mengajarkan hal yang sama di pelbagai universitas ternama Amerika Serikat, semisal: Columbia University, Yale University, University of Pennsylvania, Meadville Theological Seminary, University of Chicago, Lowell Institute, dan Johns Hopkins University.

Kita akan mendapati perubahan radikal dalam praktik Orientalisme ala Snouck dalam sejumlah kritik yang ia sampaikan.

Pertama, pendapat bahwa Islam disebarkan dengan pedang dianggap sangat naif karena Islam berkembang di pelbagai belahan dunia dengan beragam cara dan jalan. Bagaimana mungkin menggeneralisasi mengingat beragamnya pola-pola interaksi dalam masyarakat yang kemudian juga mengubah pola keberagamaan masyarakat, baik melalui perang, perdagangan, perkawinan, sekolah, dan sebagainya?

Kedua, kaum Muslim sendiri terbagi menjadi berbagai kelompok masyarakat yang berbeda, dan masing-masing memahami Islam dalam konteks budaya yang berbeda pula. Catatan etnografis yang dihimpun Snouck  tentang Islam di Indonesia (Hindia Belanda) menjelaskan secara detail khasanah adat kebiasaan masyarakat Muslim yang mengalami sintesis dan asimilasi dengan budaya lokal. Dia menguraikan pelbagai detail masyarakat Muslim, bahkan hingga bangunan masjid, tugas-tugas imam, khatib (ketib), bilal, marbot, dan lain-lain.

Tidak kalah pentingnya untuk disimak dan direnungkan adalah kritik Snouck terhadap kaum Muslim. Mengapa harus lebih giat mengusahakan perluasan wilayah dan memperbanyak pengikut ketimbang mengolah secara intensif untuk meningkatkan kualitas masyarakat yang telah menganut agama Islam?

Terlepas dari pelbagai kelemahan kajian Barat tentang Islam dan masyarakat Muslim, kita banyak belajar dari wawasan tentang Islam yang dikembangkan para sarjana Barat, tetapi tidak boleh mengabaikan wawasan tentang Islam yang dikembangkan oleh kaum Muslim sendiri.

(Baca juga: Intelektual Muslim Berjilbab Menelusuri Jejak Perselingkungan Wahabisme dan Politik Saudi)

Tugas sarjana Muslim adalah menegakkan Islam sebagai agama dan peradaban yang mampu memberi kebaikan dan peningkatan kualitas hidup manusia. Tetapi, tugas dan cita-cita ini tidak boleh menghalangi kerjasama dengan kalangan non-Muslim, utamanya dalam pengembangan intelektual, kajian sains dan teknologi.

Merenda Istimewanya Jogja
Buku Muhammadanisme yang diterjemahkan penulis (Istimewa)

Pemahaman tentang Islam yang baik serta apresiasi terhadap Islam sangat mungkin muncul dari para sarjana Barat non-Muslim yang melakukan kajian tentang Islam tanpa prasangka dan kepentingan politis, dibarengi dengan sensitivitas dan pengetahuan luas mengenai masyarakat dan budaya-budaya Muslim yang ditelitinya.

Muhammadanisme sangat penting bagi publik Indonesia karena meluruskan sejumlah kesalahpahaman mengenai Snouck yang acapkali membuat orang curiga dan menghakiminya sebelum membaca karya-karyanya. Beliau justru mengkritisi kajian yang mengatakan Islam berkembang melalui pedang dan kitab suci. Terlalu gegabah menyatakan sebuah keyakinan yang begitu besar, dengan pengikut dari pelbagai kalangan, yang memasuki hampir seluruh benua Afrika, Asia, dan Eropa, disebarkan melalui metode tunggal dan cara seragam.

Anggapan-anggapan negatif mengenai Islam awal dan perkembangannya lebih banyak berasal dari rasa terancam karena kedatangan Islam sebagai agama baru.

Dalam sejarah, agama yang baru datang selalu dianggap sebagai ancaman dan bidah oleh agama yang sudah mapan. Kristen pun awalnya dianggap sebagai bidah dan ancaman bagi Yahudi. Maka bisa dipahami bila Islam dianggap sebagai bidah dan ancaman terhadap Kristen. Dalam ungkapan Snouck disebutkan, “Cara agresif yang dilakukan oleh Islam yang masih baru lahir waktu itu segera menempatkannya sebagai oposisi terhadap dunia lain yang berakibat munculnya sikap yang tidak bersahabat.”

Mengenai perkembangan politik dalam Islam, Snouck menyebutnya sebagai “bab terpenting dan paling relevan dengan sejarah Indonesia.” Islam, meskipun diyakini oleh penganutnya sebagai suatu keutuhan dan ajaran yang holistik, sebenarnya terbagi ke dalam tiga ranah aktivitas: keagamaan “murni” atau ibadah, kemasyarakatan, dan kenegaraan.

Keberhasilan Snouck ‘menaklukkan’ Aceh bisa dibaca dengan pemahaman ini. Politik pemerintah kolonial Belanda dalam menghadapi mayoritas penganut Islam di Hindia Belanda waktu itu berangkat dari kerangka pembagian ini.

Lalu, bagaimana sikap Pemerintah Hindia Belanda? Bagaimana pula Snouck mengusulkan semacam politik etis dari Negeri Kincir Angin untuk Priboemi? Bagaimana pandangan Snouck tentang rukun Islam, ijtihad, ijmak, dan penetapan hukum dalam Islam?

Bagaimana pula muncul kesempitan berpikir yang menganggap “Arab adalah Islam” sehingga budaya Arab dianggap bagian dari ajaran Islam oleh sebagian kaum Muslim? Muhammadanisme akan menjawabnya dengan tuntas!

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin menulis atau berdonasi, klik di sini

About Mohd Ruslani, S.Ag.

Mohd Ruslani, S.Ag.
Penulis & Penerjemah - Mantan Chief Editor Bentang Budaya & Qalam - Tim Penerjemah Ensiklopedi Filsafat & Spiritualitas Islam - UIN Sunan Kalijaga - Pernah Pascasarjana Ilmu Religi Budaya USD Yogyakarta **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapi klinis, SDM dan coaching. Sila WA 082135424879.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean