Home / Mutiara Iman / Seorang Pastor Katolik Mencari Allah di antara Sahabat-SahabatNya
Merenda Istimewanya Jogja
Pastor James Wuye dan Iman Muhammad Ashafa, dua mantan kombatan dalam konflik berdarah di Nigeria mengilustrasikan bagaimana musuh menjadi sahabat dalam Tuhan (Andrew Sheargold)

Seorang Pastor Katolik Mencari Allah di antara Sahabat-SahabatNya

Oleh: Romo Maryono, S.J.

Semarang, Aquilajogja.com – Ada sebuah cara mengatakan yang terkatakan, yang tak terjangkau akal dan perasaan manusia yang paling agung sekalipun. Manusia dibatasi bahasa, meskipun dengan bahasa ia menandai batas-batas terakhir pengembaraannya. Cara itu harus ditemukan sendiri dalam pengalaman dikasihi Allah.

Aku ingin menjangkau Allah, berpartisipasi dalam orkestra pencarian ribuan tahun yang selalu menarik, namun terjungkal dalam keterbatasan ciptaan. Aku karenanya memilih membayangkan sang Ilahi sebagai sahabat yang mencari sahabat-sahabatNya.

Maka tersebutlah, Tuhan merasa kesepian karena surga tempatNya bertahta senyap tiada bersuara. Dalam gundahnya, Dia lalu memanggil seorang malaikat untuk menghadap.

“Wahai malaikat, mengapa surga begitu sepi? Manusia-manusia terkasih itu, apakah mereka sedang bepergian?” tanya Tuhan.

(Baca juga: Akhlak Qur’an sang Rasul Bukan Pemarah)

Malaikat yang menjadi tangan kanan surgawi menghela nafas dalam-dalam. “Bukan begitu sang Maha Agung, kesepian ini karena tidak banyak lagi manusia yang berupaya masuk surga. Sebagian besar justru, entah sadar atau tidak sadar, memilih tergelincir masuk neraka.”

Dan Tuhan pun ikut menghela nafas, jauh lebih dalam-dalam dibandingkan malaikat. Benaknya berkecamuk, mataNya memandang jauh ke depan menimbang sebuah keputusan.

Merenda Istimewanya Jogja
PUSAD Paramadina mengundang Pastor James dan Imam Ashafa, Oktober 2017, sekaligus peluncuran buku ‘Ketika Agama Membawa Damai, Bukan Perang’ (Istimewa)

Allah mengangkat wajahNya, keagungan memancar indah kala semesta mendapat anugerah senyum ilahi. “Kalau begitu, suruh semua manusia ke surga supaya surga tidak sepi lagi.”

Bagai tersambar petir, malaikat bergolak hatinya. “Tapi Tuhan…” katanya nyaris berseru.

Allah memandang ke arahnya dengan sorot mata tegas tak bisa ditawar. “Gak ada tapi….suruh semua ke surga sekarang juga!”

“Tapi, mereka kapir…”

“Suruh masuk!”

“Tapi mereka sudah ngopi.”

“Suruh masuk!”

“Tapi mereka….tapi mereka.”

“Semua suruh masuk!” kata Tuhan dengan geram.

Di sekitar situ, tersebutlah barisan ulama, imam kepala dan ahli Taurat yang terkenal setia mengikuti Firman Allah hingga huruf terkecilnya. Mereka marah! Bagaimana mungkin mereka, orang-orang yang dianggap paling mengerti aturan-aturan agama, membiarkan Junjungannya keliru menetapkan keputusan, bahkan salah memilih di antara orang-orang terlaknat?

(Baca juga: Ketika Agama Kristen Dihina, Dengar Jawaban Pastor Semarang Ini)

Serentak bagai kor yang telah dipersiapkan, mereka berteriak dengan lantang, “Tuhan kami yang maha besar, apa sih mau-Mu? Apa gunanya kami meneriakkan nama-Mu siang dan malam?” tuntut mereka.

“Lalu apa gunanya kami berjuang membela-Mu?”

“Lalu apa gunanya kami menyingkiri makanan itu, menyingkiri pakaian itu, mendefinisikan haram dan halal demi memastikan penghormatan publik kepada Engkau?

Lalu apa gunanya menegakkan agama-Mu?

Untuk pertama kalinya malaikat melihat rona wajah Allah yang tak pernah disebutkan Kitab Suci. Setiap yang hadir merasakan sesuatu yang agung akan dipermaklumkan.

“Ada satu yang kau lupakan, hai kaum yang merasa suci. Aku berbelas kasih, Aku mengampuni .”

“Kamu merasa sehat, dan karenanya kamu mengukur substansi surga dengan pikiranmu sendiri. Tidakkah ada tertulis bahwa bukan orang sehat, melainkan orang sakit yang Aku cari?”

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berbagi atau berdonasi, klik di sini

About Romo Maryono, S.J.

Romo Maryono, S.J.
Pastor Paroki St. Yusup, Semarang - Teologi & Filsafat Wedabhakti Kentungan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean